Site icon Berita Kota Makassar

Sempat Rugi Karena Durian Banyak yang Rusak

SALAH satu usaha buah yang paling laris saat ini yakni buah durian. Tidak salah jika buah durian banyak peminatnya, salah satunya usaha durian milik Amiruddin K di Jalan Perintis Kemerdekaan 14.

Laporan: ARDHITA ANGGRAENI

Kepada penulis, Amiruddin K mengaku sudah 12 tahun merintis usahanya, setelah meninggalkan pekerjaannya sebagai sopir pick up pengangkut barang ke daerah selama delapan tahun.
Sambil membenahi duriannya satu persatu, pria kelahiran 15 Desember 1975 ini berterus terang jika ia meninggalkan pekerjaan sopir karena pendapatan menjadi sopir tidak bisa menanggung biaya kehidupan keluarganya. Belum lagi, harus memikirkan biaya kontrakan rumah setiap tahun.
Olehnya itu, ia memutuskan untuk berusaha sendiri sebagai penjual durian di Jalan Perintis Kemerdekaan. Menggunakan lokasi yang tidak begitu besar, ia memajang duriannya di sebuah balok kayu yang sudah disusun rapi.
“Sebelum buka usaha di sini, saya dulu sopir slolpir pick up antar barang ke daerah. Sudah delapan tahun saya jadi supir dan gajinya dihitung dari setiap pengantaran. Satu kali pengantaran Rp500 ribu. Tapi keuntungan itu saya bagi dua dengan teman. Saya rasa itu tidak cukup karena tingginya kebutuhan hidup untuk istri dan anak, belum lagi biaya kontrakan,” ungkapnya, saat ditemui di tempat jualannnya, kemarin.
Nanti di 2006 lalu, Amir sapaan akrabnya, memutuskan menjadi pegawai di salah satu rumah makan durian yang diupah sebesar Rp2,5 juta sebulan. Namun Amir merasa pekerjaan tersebut terlalu berat karena harus bekerja 24 jam.
Olehnya itu, ia memilih berhenti bekerja dan membuat usaha penjualan durian sendiri. “Ia saya pernah kerja disitu (tunjuk salah satu usaha durian). Tapi deh capek ki karena pemiliknya banyak maunya, lebih baik saya buka sendiri,” ucapnya.
Dengan modal yang ia kumpul saat menjadi pekerja, ia mulai membuka usaha durian sendiri. Akan tetapi menjalankan usaha ini tidak segampang yang dibayangkan Amir, karena selama dua tahun berturut-turut dirinya selalu rugi, modal yang ia kumpulkan usaha durian juga raib.
“Saya belum tahu pi bagaimana berjualan durian. Durian itu tidak boleh lama disimpan karena gampang rusak. Paling lama disimpan tiga hari selebihnya jatuh harga. Baru tempat jualanku dulu tinggi sekali biaya sewanya sampai Rp25 juta setengah tahun, disitu stres sekali karena belum kembali modal,” bebernya.
Dari kegagalan itu, Amir mulai mempelajari untuk tidak mengulang kesalahannya dan usahanya mulai mendapatkan untung. Durian yang didapatkan Amirpun berasal dari tiga daerah yaitu Luwu, Mamuju dan Poso.
“Makin jauh pemesanan durian harganya juga pasti naik, kalau dulu saya ambil 100 biji itu bisa sampai dua sampai tiga hari habis. Sekarang juga saya jualan online, karena banyak yang pesan,” tuturnya.
Harga yang ditawarkan Amir per biji mulai Rp10 ribu hingga Rp35 ribu perbiji. Tergantung jenis durian dan ukuran durian tersebut. “Paling banyak pembeli cari durian yang kuning, harganya bisa mencapai Rp50 ribu satu biji,” katanya. (*)

Exit mobile version