MAKASSAR, BKM — Warga Jalan Cilallang, Kelurahan Buakana, Kecamatan Rappocini, ramai membicarakan kasus penculikan anak. Korbannya seorang siswi berinisial SF yang duduk di bangku kelas III SMP. Pelaku disebutkan dua orang wanita.
Peristiwa tersebut terjadi dua pekan lalu. Tepatnya Kamis (16/1). Selanjutnya keluarga SF melayangkan laporan pada Sabtu (18/1).
Terungkapnya kasus ini, setelah SF ditemukan oleh teman kakaknya. Saat itu ia tengah berjalan kaki seorang diri di Jalan Pampang, Kecamatan Panakkukang.
SF menceritakan bahwa dirinya 12 hari diculik oleh dua wanita yang mengenakan penutup wajah. Awalnya ia dihampiri oleh dua wanita berpenutup wajah, tak jauh dari rumahnya di Jalan Cilallang.
Ketika itu SF hendak pulang ke rumahnya setelah berkumpul dengan teman-temannya di Tanjung. ”Ketika berada dekat di rumah Jalan Cikallang, tiba-tiba saya dihampiri dua wanita yang mengenakan penutup wajah. Jadi saya tidak bisa mengenali. Salah satunya hendak bertanya ke saya. Dia lalu mendekati saya dan menepuk pundakku sebelah kiri,” ujar SF, Rabu (29/1).
SF mengaku sadar saat dirinya sudah berada di atas mobil. Kedua wanita tersebut menyampaikan kalau mereka sementara dalam perjalanan menuju Kabupaten Gowa. Waktu itu sudah menjelang malam.
”Saya berteriak minta pulang. Tapi entah apa yang mereka lakukan ke saya sehingga saya tidak sadar ketika itu. Kalau tidak salah mereka mengikat kakiku,” beber SF.
Selama dalam penyekapan, korban tiga kali dipindahkan ke tempat yang berbeda. Wanita tersebut menyampaikan ketika dipindahkan dari Kabupaten Gowa ke Sudiang, Kecamatan Biringkanaya, Makassar.
“Saya dibawa ke kawasan Daya, Biringkanaya. Hingga terakhir dikembalikan lagi ke Gowa. Setiap kali dipindahkan mata saya ini ditutup. Tangan dan kaki saya diikat. Mereka juga berusaha memberikan saya minuman keras. Karena saya menolak, mereka menyiksaku dengan membenturkan kepala saya ke tembok,” jelasnya.
Selama disekap, korban hanya diberi makan satu kali. Itu pun nasi putih dicampur garam. Selebihnya, hanya air putih biasa.
Memasuki hari kedua penyekapan, SF mengaku pelaku sempat berkomunikasi melalui video call dengan keluarganya. Sependengarannya saat itu, wanita tersebut berbincang dengan kakaknya. ”Dia bilang ke kakak saya kalau saya akan dibawa ke Papua,” imbuhnya.
Pihak keluarga yang sadar bahwa SF menjadi korban penculikan dua wanita, langsung melaporkan peristiwa itu ke aparat kepolisian.
”Mereka selalu pakai masker. Tidak pernah dibuka. Rambutnya pirang-pirang. Waktu bicara ke kakakku, dia tidak minta tebusan,” jelasnya.
Daeng Ngawing (51), ayah SF mengatakan, anaknya sempat meminta izin untuk berkumpul bersama rekan-rekannya di hari sebelum penculikan terjadi. Dia mengaku sempat tidak mengizinkan putrinya untuk keluar.
Namun setelah dia meninggalkan rumah untuk bekerja sebagai buruh bangunan, SF pergi dan belum pulang hingga malam hari. Situasi itu membuatnya cemas.
“Saya kemudian menghubungi HPnya. Namun tidak tembus. Berapa kali sampai tengah malam. Yang ada di pikiran kami waktu itu mungkin dia menginap di rumah temannya,” ungkap Dg Ngawing.
Bhabinkamtibmas Polsek Rappocini Aiptu Jamaluddin mengatakan, kasus dugaan penculikan dan penyekapan SF kini telah ditangani oleh Polrestabes Makassar. Itu setelah pihaknya menerima laporan keluarga korban.
SF, kata Jamaluddin, tengah menjalani proses pemulihan fisik dan mental oleh Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polrestabes Makassar. “Untuk terduga pelaku juga kita sementara dalami, dan akan kita koordinasikan juga dengan penyidik untuk proses lebih lanjut,” pungkasnya. (ish/rus)
Siswi SMP 12 Hari Disekap Dua Wanita
