Site icon Berita Kota Makassar

Sampah Makassar akan Jadi Bahan Bakar Bensin

MAKASSAR, BKM–Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan akhirnya menemukan solusi untuk menangani persampahan yang ada di Sulsel. Rencananya sampah-sampah tersebut akan dipilah dan dijadikan bahan bakar bensin yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat.

Kebijakan tersebut diambil atas tawaran dari pihak PT Glendale Partner yang merupakan perusahaan konsultan. Perusahaan tersebut didedikasikan untuk menyediakan layanan konsultasi dengan standar internasional tertinggi untuk pasar Indonesia di bidang teknik, pengembangan proyek dan perencanaan.
Perusahaan konsultan ini, sebelumnya sudah berhasil membangun industri pengelolaan sampah menjadi solar di daerah Bekasi Jawa Barat. Sehingga Kota Makassar sebagai produksi sampah yang cukup tinggi menjadi sasaran.
Gubernur Sulsel, Nurdin Abdullah, membuka pintu selebar-lebarnya untuk Glendale Partner untuk mengolah sampah tersebut.
Hal senada dikatakan, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Sulsel, Hasdullah. Menurut Hasdullah, kerjasama tersebut sedang dalam tahap awal. Penandatangan MoU dengan pihak investor telah dilalsanakan. Selanjutnya PT Glendale Partners akan melalukan survey lapangan feasibility study (fs).
“Jadi memuat hanya pokok-pokok besarnya saja, intinya membuat pemprov mengolah persampahannya menjadi bermanfaat. Nanti kita lihat hasil fs nya apakah layak atau tidak,” jelas Hasdullah.
Hasdullah menganggap, bahwa potensi sampah di Makassar sudah memenuhi kriteria pengolaha. Dimana sampah perharinya yang dihasilkan mencapai 900-10.000 ton. Sehingga tidak ada masalah untuk menyediakan bahan bakunya.
Selanjutnya, proses perizinan juga akan dilakukan sesuai regulasi yang ada, baik berkas-berkas untuk izin lingkungan atau AMDAL, maupun dokumen-dokumen lainnya.
“Jadi semuanya akan memenuhi dan mengikuti kriteria yang ada nanti setelah oke, layak secara akademisi dan oke baru terbit ijin dari PTSP. Walaupun DLH menjadi institusi yang memberikan rekomendasi,” ucapnya.
Ada dua skenario terkait pembangunan pabrik sampah yang akan disulap menjadi bahan bakar ini. Skenario pertama yakni menempatkan pabrik tersebut di Kecamatan Manggala. Skenario kedua yakni skala regional yang mengcover empat daerah, Makassar, Maros, Sungguminasa, dan Takalar.
Untuk Makassar sendiri pusat pabriknya berada di sekitar TPA Antang yakni di Tamanggapa Kec Manggala. Sementara jika ditarik ke skala regional maka Pattalassang menjadi target lokasinya.
“Kita coba lihat apakah luas areanya TPA cukup atau tidak karena butuh minimal 2-3 hektare. Kita rekomedasikan cocok di Tamangapa. Karena dia berada dalam kota, sekitarnya ada pemukiman, kita akan konsep ramah lingkungan supaya tidak berbau lagi dan bisa menghasilkan solar,” tuturnya.
Terkait lahan yang akan digunakan kata Hasdullah, Pemprov memiliki aset di Patallasang sehingga tidak ada lagi masalah jika akan diregionalkan. Berbeda jika lahannya berada di Tamangapa, masih dibutuhkan pembebasan lahan jika ingin memperluas wilayah pembangunan tersebut.
Adapun manfaatnya persampahan akan terkelola dengan tertib. Karena tadinya berserakan kita sudah bisa menyulap menjadi ramah lingkungan.
Jadi sampah ini akan diambil sampelnya, kalau oke, sudah matang perencanannya akan kita lakukan pembangunan segera,” ujarnya.
Rencananya, pembangunan ini akan diusahakan berjalan pada tahun 2020. Untuk proses pelaksanaannya dibutuhkan waktu sekira 7 hingga 8 bulan.
Sementara untuk pengelolaanya, masih akan dibicarakan lebih lanjut, apakah akan dikelola oleh perusda atau seperti apa. Intinya kata Hasdullah tahap awal akan digenjot pada tahun ini.
Sebelumnya, Direktur PT. Glendale Partners, Michiko Hafid Day mengaku, sudah membangun industri pengelolaan sampah menjadi solar di daerah Bekasi Jawa Barat.
Pengelolaan sampah tersebut akan diperluas di Sulawesi Selatan, dan lebih awal akan dibangun di Kota Makassar, dengan produksi setiap harinya 1000 ton perharinya.
Dari produksi 1000 ton tersebut akan menghasilkan ribuan liter bahan bakar jenis solar. Solar yang produksi tersebut rencananya akan dipasarkan khusus untuk nelayan dan bahkan akan dijual di pertamina setelah diuji kualitas solarnya.
“Kita akan melakukan pengelolaan sampah yang ramah lingkungan di Makassar. Kami punya rencana 12 kota Se-Indonesia, sudah termasuk Makassar,” pungkasnya.(nug)

Exit mobile version