UMUR memang menjadi rahasia Sang Maha Pencipta. Tak ada seorang pun yang tahu kapan ajal menjemput. Demikian pula dengan Dr Abraham Razak, dosen Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK) Universitas Negeri Makassar (UNM).
MINGGU (2/2), suasana di kampus FIK UNM Banta-bataeng cukup ramai. Banyak orang berdatangan. Mulai dari mahasiswa, dosen, hingga alumni. Mereka hadir dalam rangka menyemarakkan dies natalis FIK UNM ke-43.
Acara dipusatkan di Stadion Mini Kampus FIK. Bertindak selaku Ketua Panitia Dr Abraham Razak. Dalam jabatannya itu, Abraham tampil di atas panggung memberikan laporan. Acara ini dihadiri langsung Rektor UNM Prof Dr Husain Syam.
”Insyaallah, sampai ketemu di dies natalis tahun berikutnya,” begitu akhir sambutan Abraham, yang disambut aplaus hadirin. Dia pun turun dari panggung.
Usai sudah ia menunaikan tugasnya. Acara dies natalis berlangsung lancar tanpa hambatan.
Ketika bersantai, Abraham yang duduk di kursi sempat berbincang dengan salah seorang alumni FIK. ”Ke depan kita berusaha agar dies natalis bisa lebih meriah dan besar gaungnya,” begitu harapannya. Tahun ini merupakan yang pertama kalinya dies natalis FIK dilaksanakan di tingkat fakultas.
Setelah makan siang menjelang salat zuhur, tiba-tiba saja Abraham lunglai dari kursi yang didudukinya. Ia terjatuh ke samping dan tak sadarkan diri. Selanjutnya dilarikan ke Rumah Sakit Islam (RSI) Faisal. Namun, nyawanya tak tertolong. Ia pun mengembuskan napas terakhir.
Dr Wahyudin, Humas Dies Natalis FIK UNM ke-43 menjadi salah seorang yang selalu bersama-sama almarhum dalam tiga bulan terakhir. Mereka tergabung dalam kepanitiaan di tingkat fakultas.
”Sejak pagi beliau dalam kondisi sehat walafiat. Tidak ada tanda-tanda sakit. Sempat memberi sambutan dan tuntas di depan rektor dan seluruh alumni dari setiap angkatan,” ujar Wahyudin, kemarin.
Dosen FIK UNM ini menyebut, selaku ketua panitia, almarhum intens memimpin rapat dua kali dalam seminggu. Mantan ketua Jurusan Pendidikan dan Kepelatihan Olahraga ini dikenal memiliki banyak ide yang cerdas dalam lembaga,khususnya di pengembangan keolahragaan.
Abraham Razak memang kini telah tiada. Namun mimpinya untuk memajukan dunia olahraga Sulawesi Selatan tidak akan pernah padam. Perjuangannya kini diteruskan para generasi berikutnya. Semangat untuk terus maju yang ditanamkan Abraham semasa hidup, akan terus terjaga.
”Beliau adalah pemikir. Memiliki ide-ide brilian. Tak banyak dosen yang punya pemikiran konstruktif seperti beliau,” ucap Wahyudin.
Lelaki yang juga menjabat sebagai Binpres KONI Sulsel ini, begitu bersemangat dalam mengontrol seluruh panitia. Ia dikenal sosial dan memiliki pergaulan yang cukup luas. Selain itu, juga tegas dalam mengambil keputusan.
Rencananya, jenazah almarhum akan dimakamkan di Pinrang, Senin (3/2). Pelepasannya dilakukan Minggu malam (2/2) di rumah duka Kompleks Permata Sari Alauddin PS 4 Blok 22 Jalan Sultan Alauddin, Makassar. Selanjutnya, subuh hari dibawa ke kampung halamannya. (*/rus)
