MAKASSAR, BKM — Peristiwa tanah amblas di Dusun Ujung, Desa Pattirodeceng, Kecamatan Camba, Kabupaten Maros ternyata sudah sering terjadi. Penyebabnya, karena tanah di lokasi tersebut telah kehilangan lapisan berupa batuan permukaan akibat aliran air di bawah tanah.
Hanya saja, menurut ahli geologi Universitas Hasanuddin (Unhas) Dr Adi Maulana, untuk memastikan apakah amblasnya tanah tersebut sama dengan kejadian yang sebelumnya terjadi, masih perlu dilakukan penelitian lebih jauh. Langkah tersebut dimaksudkan untuk melihat bukti-bukti lapangan, serta data tanah.
Namun, dengan mencermati gambar lokasi tanah amblas tersebut, dirinya melihat ada batuan karbonat yang memanjang dengan umur eosen sampai dengan miosen.
“Sebelumnya sudah pernah terjadi peristiwa serupa. Ini untuk kedua kalinya di tempat yang kurang lebih tidak jauh jaraknya. Ini karena lubang runtuhan di permukaan yang terbentuk secara alami, akibat hilangnya lapisan tanah atau batuan permukaan yang disebabkan aliran air di bawah tanah. Ini kita sebut geologi sinkhole. Kalau kita lihat memang daerah Maros, Pangkep ke atas itu memang kawasan karst. Banyak tanah kosong di dalamnya,” terang Adi Maulana, Senin (3/2).
Apakah kondisi ini berbahaya? Adi memastikan tidak. Akan tetapi, melihat curan hujan dan usia lapisan tanah, perlu diwaspadai adanya erosi di beberapa tempat. Bahkan tidak hanya di Maros, di wilayah lainnya di Sulsel juga berpotensi. Seperti Pangkep, Barru, Toraja, dan Jeneponto.
“Kalau dikatakan berbahaya, tidak juga. Tapi perlu waspada. Namanya juga tanah, kita tidak tahu. Tapi seiring dengan waktu, topografi tanah di beberapa tempat pasti ada,” ucapnya.
“Apalagi sekarang ini sudah instens hujan. Pasti ada lapisan yang terkikis. Jadi lapisan di bawah tanah seperti ada gua-gua, dan itu yang membuatnya amblas hingga puluhan meter ke bawah. Itu bisa landai material alluvial di dinding tanah bagian longsor,” tambahnya.
Dilihat dari sejarahnya, kawasan Maros dan Pangkep serta daerah lainnya, dinding lapisan bawah tanahnya yang membentuk morfologi atau bentang alam khas akibat pelarutan material karbonat oleh air hujan. “Jadi kalau ada yang amblas itu memang sudah waktunya, karena melihat usia juga,” tandasnya.
Ramai Dikunjungi
Lokasi pekuburan penduduk dan area tanah kosong yang amblas secara tiba-tiba dengan diameter lebar 5 meter dan kedalaman 4 meter di Dusun Ujung, saat ini masih terus dijaga aparat Polsek Camba. Kapolsek AKP Haedar yang dihubungi, membenarkan hal itu.
”Sejak kejadian, banyak warga yang berdatangan untuk melihatnya. Sehingga perlu dilakukan pengamanan yang cukup ketat agar mereka tidak mendekat ke lokasi,” jelas Haedar, kemarin.
Hingga saat ini, belum bisa dipastikan penyebab amblasnya tana di beberapa titik tersebut. Ahli geologi yang diharapkan datang, hingga kemarin belum tiba di lokasi.
Sahrul, salah seorang tokoh masyarakat setempat, mengakui jika wilayah di sekitar lokasi tanah amblas memang rawan dengan kejadian serupa. Bahkan sudah beberapa kali terjadi puluhan tahun silam.
”Sejak dulu memang sudah sering terjadi seperti ini. Namun tidak banyak orang yang tahu. Hanya orang kampung di sini yang mengetahui dan biasa melihatnya,” jelas Sahrul.
Ditambahkan Sahrul, wilayah Camba dulunya pernah tenggelam. Di bagian bawah terdapat sungai besar, sehingga banyak rongga tanah di beberapa titik yang sewaktu-waktu menyebabkan tanah amblas. Ini dapat dibuktikan jika masyarakat menggali sumur, semakin dalam digali maka yang didapat adalah pasir, seperti yang ada di sungai.
”Kalau kami masyarakat di sini tidak heran kalau ada kejadian seperti ini. Karena orangtua kami sering menceritakan hal seperti ini, nanun tidak terekspos keluar. Kami anggap ini hal yang biasa,” tandasnya. (ita-ari/rus)
