Site icon Berita Kota Makassar

Kadang Mendapat Komplain Karena Mobil pelanggan tak Bersih

MENJADI petugas pencuci kendaraan diakui Hapsa ada pahit manisnya. Manisnya, karena selama ini ia bisa menopang biaya hidup dan biaya kuliahnya. Kalau pahitnya, jika ada pelanggan yang komplain.

Laporan: NUGROHO

Selain komplain, ia harus pintar-pintar mengatur antara kuliah dan kerja.
Hapsa mulai bekerja mencuci mobil dan motor sejak pagi pukul 07.00, setiap harinya. Barulah ia beristirahat kalau sudah pukul 18.00.
Jika ingin mendapat penghasilan lebih, ya tentu saja Hapsa bekerja juga sampai larut malam.
Awal Hapsa bekerja sebagai pencuci kendaraan, memang ia akui sempat kesulitan. Karena kadang standar bersihnya dengan orang lain berbeda. Namun setelah lama menjalani, akhirnya ia mengaku terbiasa.
Ditanya oleh penulis bagian mana mobil yang sulit dibersihkan, Hapsa mengaku, bagian yang sulit dibagian ban. Karena di situlah bagian terkotor dari mobil. Kalau motor, bagian tersuit adalah bagian teralinya. Karena bagian itu dikatakan Hapsa harus dibersihkan secara perlahan.
“Awalnya sempat susah kak, tapi lama-lama biasa mi. Banyak komplain dari pelanggan itu hal biasa sekali mi ku rasa,” katanya.
Bermacam-macam komplain yang selama ini ia terima. seperti karena kesalahannya sendiri, atau bahkan kesalahan pelanggan sendiri.
Saat mencuci mobil, hal yang paling biasa ia lupa adalah mengembalikan karpet mobil ke tempatnya semula. Saat mencuci mobil, Hapsa tentu melepas karpet mobil terlebih dahulu baru membersihkan dalam mobil tersebut. Nah saat sudah selesai mencuci, karpet ini lah barang yang paling sering ia lupa. Alhasil, biasa pelanggan pun kembali untuk mengambil karpetnya.
Tak jarang ada pelanggan yang komplain karena kehilangan barang. Nah kejadian yang seperti ini yang dikatakan Hapsa adalah kesalahan pelanggan sendiri.
Pernah suatu saat ada seorang pelanggan yang tiba-tiba datang dan marah-marah kepada Hapsa. Alasannya, karena barangnya hilang di tempat cuci mobil tempat Hapsa bekerja. Namun ternyata setelah dicek, pelanggan tersebut ternyata tidak mencuci mobil di tempat ini.
“Iya pernah datang orang marah-marah, ternyata pas dicek, itu orang tidak pernah mencuci mobil disini. Karena kita punya catatannya. Kita catat semua nomor plat mobil dan tanggal pencucian semua yang masuk kesini. Nah itu orang setelah kita cek ternyata tidak pernah cuci disini,” jelas Hapsa.
Komplain lainnya mungkin yang biasa terjadi, kurang bersih. Hapsa menambahkan, kadang ia tidak bisa memuaskan semua pelanggan yang datang. Karena hasil cuciannya kadang dinilai kurang bersih oleh pelanggan. Padahal, ia menganggapnya sudah bersih.
Semua komplain dari para pelanggan itu dikatakan Hapsa sudah menjadi makanan sehari-harinya. Sudah sangat terbiasa ia mendengarnya. Jika ada yang komplain lagi, ia pun kini bisa menghadapinya dengan tenang.
Hapsa kepada penulis mengatakan, sebenarnya ia bertugas dari pagi hingga sore hari, namun biasanya juga kalau tempatnya sedang ramai, ia bisa sampai malam hari.
Sudah lima tahun ini, wanita 23 tahun tersebut melakukan pekerjaan mencuci mobil maupun motor para pelanggan. Sejak awal ia masuk kuliah, sampai ia menyelesaikan studinya kini.
Hapsa adalah wanita asal Maros yang menetap di Makassar karena ingin kuliah. Namun karena ia harus menghidupi dirinya sendiri, makanya ia sejak dulu bekerja paruh waktu untuk membiayai kuliah serta hidupnya selama di Makassar.
Untung saja “Cuci Mobil Sinar Tanralili” yang ia tempati adalah milik tantenya sendiri. Sehingga hal ini cukup membantu dirinya dalam mencari nafkah.
Ayahnya adalah seorang petani. Ia kini merupakan alumni dari STIEM Bongaya Makassar, Jurusan Akuntansi. Selama ini ia tinggal di tempat cuci mobil itu. Sembari kuliah, ia mengumpulkan uang dari hasil mencuci mobil dan motor.
Kuliah sambil bekerja tentu bukanlah hal yang mudah. Fokus pekerjaan pasti akan terbagi. Namun selama ini ternyata Hapsa terus fokus hingga akhirnya bisa menyelesaikan studinya.
Sebagai seorang mahasiswi yang nyambi pekerjaan sebagai tukang cuci kendaraan, rasa gengsi tentu ada di benak Hapsa. Namun itu dikatakan Hapsa hanya pada saat awal-awal ia mulai bekerja sebagai tukang cuci.
Seiring berjalannya waktu, kedewasaanpun mulai tumbuh di pikiran Hapsa. Ia mulai tak mempedulikan soal gengsi itu. Semangatnya untuk membiayai kuliahnya ternyata lebih besar dari gengsinya. Iapun tak pantang menyerah.
“Awalnya pasti gengsi, ada mahasiswa jadi tukang cuci mobil. Tapi lama-lama dewasa ji ki. Daripada harus merepotkan orang tua, saya nikmati saja pekerjaanku,” kata Hapsa.(*)

Exit mobile version