Site icon Berita Kota Makassar

Modal Usaha dari Honor Jaga Masjid dan menjadi Imam

MEMBUKA usaha sendiri, bisnis sendiri, membutuhkan waktu, tidak bisa instan. Ada proses yang harus dilalui. Seperti yang dirasakan Januar mansur, pemilik sejumlah usaha di Makassar.

laporan: ARDHITA ANGGRAENI

Memang kata Januar, memulai usaha banyak sekali tantangan dan rintangan. Tantangan ini tidak jarang menyebabkan pebisnis layu sebelum berkembang. Tidak kuat dan stress melihat usaha yang dibangun lambat tumbuh, penjualan seret, sementara dana dan tenaga sudah banyak dicurahkan.Akhirnya memilih mundur, menyerah.
Apalagi, kata Januar, kepada penulis, ia adalah orang yang terlahir dari keluarga yang tidak mampu. Meski begitu, ia tetap selalu berbagi dengan fakir miskin meski hanya sedikit.
Sebab kata Januar, saling berbagi adalah modal utama dalam merintis usaha. Hingga akhirnya bisa merintis banyak usaha mulai jasa laundry, sablon baju hingga membuka sekolah interprenuer.
Pria kelahiran Larantuka, 22 Desember 1996, ini menceritakan, jika keterbatasan finansial terkadang menjadi motivasi seseorang mendirikan usaha. Dengan bermodal tekat dan semangat, kini memiliki usaha laundry bernama Simply Wash.
Ia sudah memiliki empat cabang di Kota Makassar dan jasa sablon. Usaha ini juga turut dibantu istrinya. Sejak ia menikah dua tahun silam, kini ia juga membuka kelas privat bagi para pengusaha yang ingin belajar kepadanya.
“Alhamdullilah saya memulai semuanya ini pada akhir 2017 dan saya bersyukur sekali direspon baik oleh costumer. Mulai belajar pelan-pelan, hingga naiknya juga berproses. Bantuan keluarga dan Allah juga paling utama,” ungkapnya saat ditemui di Jalan Sultan Alauddin Makassar, Rabu (5/2).

Alumni mahasiswa UIN Alauddin Makassar, jurusan Sains dan Interpretasi Al Quran itu juga mengaku, bahwa dirinya tidak punya bekal sama sekali mengenai ilmu berwirausaha. Namun tuntutan hidup yang merantau di kota orang, demi membiayai kuliah dan hidup di kota, mau tidak mau ia harus bisa menghasilkan uang sendiri. Sebab dirinya sudah tahu jika kemampuan orangtuanya tidak bisa membiayai pendidikan dan hidupnya di Kota Makassar.
“Kaget ki pasti, karena beda jauh sekali dengan gelar dan pekerjaanku. Saya ambil jurusan pendalaman Al Quran terus saya buka usaha. Ini adalah pilihan dari keluarga yang tak mampu,” jelasnya.
Sejak memutuskan ke Makassar, Januar mulai mengumpulkan uang untuk modal usaha dari hasil menjadi guru privat dan imam masjid.
“Saya biayai sendiri kuliah ku. Saya juga waktu ke Makassar menjadi guru privat hingga tinggal di masjid, menjadi imam karena tidak ada uang untuk sewa kos. Alhamdulillah, dari hasil pekerjaan menjadi tentor dan imam masjid, saya kumpulkan sebagai modal untuk membuka usaha, waktu itu Rp10 juta saya kumpulkan,” bebernya.
Tidak hanya itu, Januar juga sempat jatuh bangun merintis usahanya mulai ditipu hingga terjerumus pada investasi bodong dengan bergabung dengan network marketing (MLM). Namun usaha itu sia-sia hingga ia banyak mengalami kerugian, karena perusahaan tempatnya bergabung kabur dan ditangkap oleh polisi.
“Sebelum merintis usaha laundry ini, sudah banyak usaha yang pernah saya jalankan gagal. Nanti saya ketemu teman lamaku baru disitu mulai pelan-pelan saya buka jasa laundry. Tapi semua memang ada hikmahnya karena rezeki yang kita cari sebenarnya itu adalah rezeki orang lain juga, maka saya rutin tiap jumat ikut berbagi,” tuturnya.(*)

Exit mobile version