MAROS, BKM — Hewan Kelelawar yang disebut sebagai penyebab virus Corona yang mewabah di Wuhan, China, dapat ditemui di Dusun Parangtinggia, Desa Je’ne Taesa, Kecamatan Simbag, Kabupaten Maros.
Di sana dikenal sebagai Kampung Kelelawar. Dimana, warga hidup berdampingan dengan kelelawar ini. Meski demikian, virus ini sama sekali tak membuat warga kuatir maupun takut terkena virus mematikan ini.
Salah seorang tokoh masyarakat, Kamaruddin Esaf, mengaku, meski hidup berdampingan dengan kelelawar warga sekitar sama sekali tak kuatir dengan adanya virus Corona dalam tubuh kelelawar yang beberapa waktu belakangan ini menelan korban jiwa di Wuhan, China.
”Tidak kuatir, karena kita hidup berdampingan tanpa menyentuhnya atau bahkan memakannya. Kami sudah hidup berdampingan selama puluhan tahun. Dan tidak ada warga yang mengidap maupun terjangkit penyakit mematikan karena kelelawar itu,” katanya.
Diakui, dirinya sudah tahu jika ditubuh kelelawar mengandung berbagai virus atau bakteri. Olehnya itu, warga sekitar tak ada yang menyentuh atau berkontak langsung. Kamaruddin juga mengatakan, jika kelelawar ini tak pernah memakan buah milik warga.
”Kalau sore biasanya kelelawar ini terbang keluar kampung untuk mencari makan. Mereka tidak pernah makan di sini. Makanya, buah-buahan warga di pohon masih aman-aman,” katanya.
Menariknya lagi, kata dia, jika ada sesuatu yang akan terjadi di kampung tersebut, maka kelelawat tersebut bisa memberikan tanda. Salah satunya adalah mereka akan terbang terus memutar beberapa kali tanpa hinggap.
”Biasanya kalau ada musibah, kelelawar ini terbang ke kanan dan kiri. Dan tidak mau tinggal di sini. Itu pertanda bagi kami,” sebutnya.
Terpisah, Kepala UPTD Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) Maros, drh Ujistiany Abidin, mengatakan, di Kabupaten Maros itu ada satu kecamatan yang dikenal memiliki banyak populasi kelelawar.
Dia juga mengatakan, jika di kelelawar itu mengandung enam jenis virus. Salah satunya adalah virus Corona. Hal ini berdasarkan penelitian tim ahli yang pernah datang ke Kabupaten Maros dan Soppeng. Kelelawar merupakan hewan reservoir atau hewan yang dapat memindahkan virus ke manusia.
Di Parangtinggia memang di sana mereka hidup berdampingan. Tapi Alhamdulillah, semua baik-baik saja. Warga tidak ada yang terjangkit. Karena mereka tidak terkontaminasi secara fisik. Mereka pun tidak memakan makanan bekas kelelawar,” pungkasnya. (ari/mir/c)
Warga Simbang Tak Kuatir
