Site icon Berita Kota Makassar

Kadangkala Ada Pengunjung yang Kesurupan

SEBAGAI penjaga makam seperti Dg Rahman punya banyak pahit manisnya. Ia sudah belasan tahun menjaga makam raja raja Tallo dan apa yang dikerjakannya adalah hal yang disenanginya.

Laporan: JUNI SEWANG

Sebelum menerima penulis, kemarin, Rahman terlihat membersihkan sejumlah makam raja dari rumput dan dedaunan.
Kepada penulis ia mengaku, merupakan warga sekitar makam. Ia juga diangkat sebagai karyawan UPTD Kebudayaan dari makam raja raja Tallo.
Awalnya kata Rahman, ia tertarik dengan tawaran menjadi penjaga makam dikarenakan mengetahui silsilah dari makam raja raja Tallo.”Capek juga, dulu tidak sebagus ini makamnya. Dulu rumputnya tinggi- tinggi, harus dipotong dan dibersihkan setiap saat. Kalau sekarang tinggal dibersihkan jika ada rumput yang menempel di tembok makam,” katanya.
Ditanya soal upah menjaga makam, sambil tersenyum Rahman mengatakan, meski upah yang diperolehnya tak sebanding dengan jerih payahnya, tetapi ia tetap senang.
“Gaji sebagai staf Kebudayaan dicukupi saja. Meski harus berutang dulu untuk menutupi kehidupan sehari-hari,” ungkapnya.
Apalagi, Dg Rahman sudah memiliki istri dan anak. Ia pun harus memutar otak agar kebutuhannya tertutupi meski pun upah yang diterima sangat minim.
“Kita kerja harus bersyukur saja. Kerja pakai hati yakin pasti ada rezeki. Kalau ada peziarah mereka juga sering mengerti suka kasi rezeki,” tutur Dg Rahman.
Pekerjaannya sebagai penjaga makam, tak luput dari sekelumit kisah mistis. Dirinya mengaku saat bekerja kerap mengalami hal – hal yang aneh.”sering digangguin (sama hantu),” imbuhnya.
Lambat laun, ia pun terbiasa dengan suasana makam.
Selain sebagai tanggung jawabnya, dirinya memberanikan diri untuk berbaur di tempat pemakaman ini.
Menurutnya hal – hal mistis pun sangat terlihat secara kasat mata.
Dg Rahman menyebut sempat ada kejadian misterius saat pengunjung mendatangi lokasi ini.
“Ada pengunjung yang bicara sembarangan, tiba – tiba saja langsung ada yang kesurupan. Semuanya lari,” katanya.
Lebih jauh, kata Dg Rahman di kompleks ini terdapat 21 makam. Mereka adalah keluarga terdekat raja Tallo, mulai dari abad ke-17 hingga abad ke-19.
Kompleks ini-pun terbuka setiap hari dan bebas didatangi masyarakat umum. Pengunjung yang datang biasanya merupakan peziarah, rombongan siswa sekolah, atau pun wisatawan yang sekadar melihat-lihat sekeliling.
“Biasanya banyak orang berkunjung di waktu-waktu libur. Paling ramai di bulan muharram atau jelang ramadan. Kalau sekarang ramai dikunjungi studi banding oleh staf dari satuan kerja perangkat daerah (SKPD) di sejumlah wilayah di Indonesia,” kata Dg Rahman.
Sambil membersihkan makan, Dg Rahman menjelaskan, kalau di dalam area kompleks terdapat tiga tipe makam, yaitu kubang, papan batu, dan kubah.
Tipe kubang berbentuk susunan balok batu berbentuk persegi, menyerupai bentuk susunan balok-balok candi di Jawa yang terdiri dari kaki, tubuh dan atap. Tipe makam ini biasanya diperuntukkan bagi raja, pejabat, atau pembesar istana. Tipe papan batu, yakni tipe yang dibuat seperti model bangunan kayu berbentuk empat persegi panjang, namun bahannya terbuat dari pasangan empat bilah papan batu. Adapun tipe kubah, yakni bangunan yang beratap melengkung seperti kubah yang menaungi makam di dalamnya.
“Kompleks makam raja-raja Tallo diperkirakan berdiri seiring berdirinya Kerajaan Tallo di abad ke-15. Kerajaan Tallo awalnya merupakan hasil pembagian kekuasaan Kerajaan Gowa oleh Raja Gowa VI Tunatangka Lopi (1445-1460). Kerajaan Gowa dan Tallo akhirnya bersatu kembali melalui persekutuan bernama Kesultanan Makassar pada abad ke-16,” jelas Dg Rahman.
Ia juga mengaku, sejumlah makam sempat dua kali dipugar, masing-masing pada tahun 1974/1975 dan 1981/1982. Bangunan dipugar hingga mendekati bentuk aslinya.
“Saat ini kompleks makam terawat dalam kawasan yang dikelilingi taman. Beberapa pepohonan tumbuh besar menghasilkan kesan rindang dan asri. Makam Macang Kebo paling ramai peziarah,” tambahnya.(*)

Exit mobile version