UMUR, rezeki, dan jodoh betul-betul menjadi rahasia Sang Maha Pencipta. Seperti apapun peristiwa yang dialami, jika Tuhan menghendaki seseorang untuk tetap hidup, maka itulah yang terjadi. Dan inilah yang dialami Fikram.
PRIA berusia 27 tahun itu sehari-harinya berprofesi sebagai sopir truk. Pada Kamis (13/2) ia membawa mobil Hino 10 roda. Mengangkut 600 zak pupuk atau seberat 30 ton.
Ketika melintas di jalan poros Barru, tepatnya di atas jembatan Bojo Baru, tetiba terjadi sesuatu yang tak pernah diperkirakan sebelumnya. Ruas jembatan jebol. Mobil yang dikemudikan Fikram yang berada di atasnya langsung jatuh ke air. Ketinggiannya diperkirakan 10 meter.
Sebelum mobil truk itu jatuh, pemilik warung makan Auliah bernama Dahlia (33) sempat mendengar bunyi gemuruh. Datang dari arah jembatan yang berjarak sekitar 100 meter dari warungnya yang terletak di sebelah kanan di jalur jalan jembatan yang runtuh itu.
Dari penuturan Dahlia, sebelum ada suara gemuruh, masih sempat kedengaran kalau mobil truk itu sedang berusaha menambah gas kendaraannya. Tetapi tak lama kemudian terdengar ada sesuatu beban berat yang jatuh di area jembatan lama. Setelah dicek, ternyata jembatan lama jebol.
Dahlia pun kemudian memanggil suaminya Hatta(42) bersama anaknya Agil (13). Ia meminta untuk mencari tahu bunyi runtuh dari arah jembatan.
“Setelah suami bersama anak mengecek, benar jembatan runtuh. Kagetnya lagi, karena ada mobil truk dengan kondisi terbalik di bawah jembatan. Pertama mobil Hino itu terperosok ban bagian belakang dan langsung terjerembab ke dalam air,” tutur Dahlia.
Saat itulah, Dahlia berteriak dan meminta Hatta dan Agil ke bawah sungai mengecek. Karena diperkirakan sopir truk itu sulit selamat . Apalagi bagian depan dari kepala mobil itu sudah terendam air dan tinggal pupuk yang tampak terhampar.
“Dari jauh kelihatan tangan sopir melambai seakan minta tolong. Dia sudah sempat beberapa kali meminum air sungai karena terkurung di dalam mobil. Untung suami dan anak saya cepat memberikan pertolongan dan berusaha mengeluarkan sopir tersebut,” jelasnya.
Ketika suami dan anaknya menolong di bawah jembatan, Dahlia langsung berdiri di ujung jembatan. Ia menahan mobil agar tidak melewati jembatan yang runtuh.
”Kalau saya tidak halangi, bisa saja mobil di belakangnya ikut jatuh ke dalam sungai,” ujarnya.
Dahlia lalu berinisiatif menghubungi Kapolsek Mallusetasi AKP Syarifuddin. a menyampaikan bahwa jembatan lama Bojo Baru runtuh dan ada mobil truk jatuh ke sungai.
Hingga saat ini, lanjut Dahlia, jembatan ini sama sekali belum juga diperbaiki. Jembatan lama ini hanya ditutup dengan tanda police line. Pengendara harus melalui jembatan kembar yang baru dengan sistem dua jalur.
Kasat Lantas Polres Barru AKP Mariana Taruk yang dihubungi, Minggu (15/2) menjelaskan, mobil Hino Ranger dengan nomor polisi DD 8991 MT yang mengalami nahas bergerak dari arah Makassar menuju Parepare. Sesampainya di TKP terjatuh ke sungai akibat jembatan amblas.
Beruntung, warga disekitar TKP bertindak cepat menyelamatkan sopir dump truk tersebut. Akibat kejadian ini, sopir mengalami luka lecet di jari tengah tangan kanan, luka lecet di siku sebelah kiri, bahu sebelah kiri nyeri, dan sudah dirawat di Puskesmas Bojo.
“Barang bukti satu unit R10 Hino Ranger DD 8991 MT sudah kami amankan. Kerugian materi akibat kecelakaan ini diasksir mencapai Rp65 juta,” kata Mariana.
Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional( BBPJN) XIII Makassar, menilai jebolnya jembatan lama di Kampung Bojo, Kelurahan Bojo Baru, Kecamatan Mallusetasi, Kabupaten Barru disebabkan truk yang memuat pupuk over kapasitas. Jembatan yang jebol ini memang sudah lama, tetapi masih dipertahankan dan dikenal dengan sebutan jembatan kembar.
Bupati Barru Suardi Saleh sudah meninjau lokasi kejadian, Jumat (14/2). Tidak sekadar berkunjung, Suardi langsung melakukan koordinasi dengan pihak BBPJN untuk segera melakukan penanganan.
“Kami telah berkoordinasi dengan pihak BBPJN Wilayah Sulsel untuk segera melakukan upaya agar hal ini bisa secepatnya ditangani,” ujarnya.
Kepala BBPJN XIII Miftachul Munir, menyatakan penyebab amblasnya jembatan di Bojo karena truk yang melintas over kapasitas. Sebelum kejadian, kondisi jembatan masih layak dilintasi.
“Kekuatan jembatan ini hanya 20 ton. Sementara truk 10 roda yang mengangkut pupuk sekitar 600 zak. Satu zak beratnya 50 kilogram, sehingga beban angkutannya saja sudah mencapai 30 ton. Ditambah berat mobil sekitar 8 ton. Jadi memang over kapasitas. Beton patah karena tidak mampu menahan beban,” jelasnya. (udi/b)
