TAK jelas siapa yang pertama kali mengistilahkan odong-odong atau mainan seperti kereta. Tapi yang pasti odong-odong merupakan salah satu mainan yang sangat disukai oleh anak-anak hingga saat ini. Bisnis ini-pun tak pernah redup, karena permintaan pembuatan mainan ini terus ada. Seperti yang dirasakan Ridwan, pemilik usaha pembuatan odong-odong.
Laporan: ARUL
Memang di setiap jalan dan lorong di dalam Kota Makassar kerap kali ditemui adanya orang yang menarik mainan odong-odong menggunakan motor. Ini menandakan bahwa usaha odong-odong tidak bisa dipandang sebelah mata.
Kepada penulis, Ridwan, mengaku sudah menggeluti usaha ini sejak 10 tahun lalu. Awalnya, dia bekerja sendiri menarik keliling odong-odong untuk menghibur anak anak sekitar kompleksnya di Jalan Banta-bantaeng.
Hingga saatnya, ia belajar sendiri mengutak atik odong-odong, hingga tahu cara pembuatannya. Melalui pengalaman itu, Ridwan membuka usaha membuat odong-odong.
“Saya dulunya hanya sebagai penarik odong-odong. Menghibur anak anak di kompleks hingga mendapatkan uang untuk biaya hidup sehari-hari. Setelah pulang, saya iseng-iseng membongkar alat-alat odong-odong, dan ternyata mudah untuk diproduksi,’ ujar Ridwan.
Pria bertubuh gempal ini-pun menambahkan, telah memiliki tujuh orang karyawan. Mereka rata-rata Pak Ogah di jalan.”Saya dulu punya satu odong-odong, sekarang sudah mempekerjakan tujuh orang karyawan untuk menarik odong-odong. Termasuk jika ada yang memesan dibuatkan,” tambah Ridwan.
Ditanya soal pendapatan yang ia peroleh setiap hari, sesekali tersenyum, Ridwan mengaku, bisa menghasilkan Rp150 ribu perhari untuk satu odong-odong. Tidak hanya menyewakan, ia juga mempunyai industri pembuat odong odong yang kebanyakan bahannya di pesan langsung dari Surabaya. Ia-pun mempu membuat satu unit odong-odong hanya seminggu. Harganya per satu odong-odong Rp20 juta yang baru dan Rp10 juta yang bekas.
“Saya senang ketika melihat orang di sekeliling saya bahagia, saya hanya mau membuat bahagia anak anak walau hanya dengan mainan yang sederhana dan tidak mahal seperti odong odong ini, “tutup Ridwan.(*)
