MAKASSAR, BKM — Kepala SMPN 23 Makassar Hj Sarlina mengambil langkah dalam menindaklanjuti kasus pemukulan guru oleh siswa di sekolahnya. Dia pun telah berkomunikasi dengan anggota DPRD Kota Makassar terkait permasalahan tersebut.
”Pertama-tama perlu saya jelaskan, kami di sini ada pelajaran spiritual. Setiap hari Jumat kami laksanakan salat duha berjamaah. Di hari-hari lain, Senin sampai Kamis salat duhanya di kelas masing-masing,” ujar Hj Sarlina di ruang kerjanya, kemarin.
Menurutnya, latar belakang siswanya haruslah dipahami. Lebih dari 1.000 orang peserta didik di sekolah ini berasal dari keluarga yang berbeda-beda. Tak terkecuali dari keluarga yang broken home.
”Semua harus kami tangani. Saya tidak pernah memihak. Semua siswa saya anggap anak sendiri. Saya menganut sistem kekeluargaan. Persoalan orangtua, dalam hal ini guru dan siswa, kita selesaikan. Karena kita ini semua keluarga,” jelasnya.
Diakuinya, siswa SMPN 23 bukanlah dari kalangan menengah ke atas. Sebagian dari mereka memiliki latar belakang persoalan di rumah dan keluarganya masing-masing.
”Jadi kalau ada persoalan saya tidak pernah diamkan. Saya langsung selesaikan dengan pihak terkait. Termasuk dengan pengawas. Setelahnya komunikasi dengan dewan. Dari dewan menyelesaikan ke dinas dan minta diluruskan,” jelas Hj Sarlina.
Begitu pula dengan siswa yang sebelumnya disebutkan melakukan pemukulan terhadap gurunya PY. Siswa kelas IX tersebut tengah menjalani sanksi disiplin, dan dititip di pesantren.
“Ini siswa kami titip di pesantren. Nanti ujian baru masuk sekolah. Siswa kami di sini mayoritas anak-anak yang bermasalah. Karena itu, menjadi pendidik di SMPN 23 ini sekaligus orangtua di sekolah. Bagaimana mendidik anak-anak menjadi baik. Kita di sekolah itu sebagai orangtua, pendidik, dokter, sampai psikiater. Bagaimana cara membentuk membentuk karakter yang baik, agar karakter bawaan dari luar yang kurang baik bisa hilang,” terang Hj Sarlina.
Di tempat yang sama, Ketua Pengawas SMPN se-Kota Makassar Dinas Pendidikan Kota Makassar Syafri Hursasia, mengatakan kasus pemukulan guru oleh siswa di sekolah ini memang perlu klarifikasi lebih lanjut.
“Saya rasa itu luar biasa, kalau memang betul siswa pukul guru. Persoalan ini harus diselesaikan dengan duduk bersama. Tidak mungkin ada reaksi tanpa ada aksi. Saya mencari solusi untuk pembinaan terhadap guru. Bukan hanya siswa yang harus diberi bimbingan spiritual. Kalau bisa guru juga. Ini untuk peningkatan sikap. Merefresh kembali dari sisi spiritual. Dalam hal ini predikat sekolah yang jadi taruhannya, karena SMPN 23 ini sekolah model,” jelas Syafri Hursasia.
Dihubungi terpisah, Ketua Komisi D DPRD Kota Makassar Wahab Tahir, mengaku setelah berkoordinasi dengan kepala SMPN 23 Makassar dan Kepala Dinas Pendidikan Kota Makassar terkait kekerasan yang dialami guru.
Legislator Golkar Makassar ini memberikan waktu hingga hari ini, Rabu (19/2) untuk Disdik menyelesaikan persoalan tersebut. Selanjutnya menunggu laporannya masuk di DPRD Makassar, terkait solusi dan duduk perkara insiden yang sebenarnya.
“Tadinya memang saya kau ke sana langsung. Tapi saya minta Dinas Pendidikan saja yang selesaikan. Saya minta laporan tertulis paling lambat Rabu siang saya terima,” ungkapnya, Selasa (18/2).
Selain itu, Wahab juga berharap kejadian tersebut tidak menyebabkan aktivitas siswa menjadi terganggu. Termasuk guru tidak merasa nyaman dalam mengajar.
“Katanya dinas sudah ke sana untuk melihat dan mengecek langsung. Makanya kita tunggu laporannya, agar kami tahu kejelasan persoalannya biar kami bisa bantu juga. Saya kira perlu ada pemahaman ke sekolah. Jika ada kejadian seperti itu, bagaimana cara menanganinya,” jelas legislator Partai Golkar ini. (jun-ita)
Siswa yang Pukul Guru Dititip di Pesantren
