Site icon Berita Kota Makassar

Dari Bali Ikut Transmigrasi. Berhasil Jadi Petani Sawit di Lalundu Pasangkayu

MAMUJU, BKM — Siang itu, kami singgah di salah satu rumah di Desa Polando Jaya, Lalundu, Kabupaten Pasangkayu. Nuansa adat Bali terasa begitu kental saat kami masuk di halaman yang sangat luas. Di depan teras rumah, seorang pria Bali sudah menunggu dan menyambut kami dengan senyum ramahnya.
Tak lama, sajian ala kebun berupa buah manggis dan durian disajikan. Kami langsung sigap menyantap sambil mendengarkan cerita pria ini.
Ida Bagus Oka namanya. Pria yang sekarang berprofesi sebagai petani sawit ini mulai bercerita tentang hidupnya.
Dari kecil kehidupan Oka, begitu pria ramah ini akrab disapa, sangat penuh dilema. Oka yang sudah tidak punya orangtua bergantung hidup dari belas kasihan orang lain. Bekerja sebagai buruh bangunan pun pernah ia lakoni untuk menyambung hidup.
Sebuah harapan besar datang kepada Oka ketika ditawari mengikuti program Transmigrasi yang tengah dicanangkan pemerintah ketika itu. Tanpa berpikir panjang, Oka pun berangkat mengikuti program tersebut.
”Saya pikir saya harus bertahan hidup, harus mental batu,” katanya
Tahun 1993 tepatnya disaat usianya menginjak 27 tahun, Oka dan keluarganya memutuskan untuk pindah dari Denpasar, Bali, ke Lalundu, Kabupaten Mamuju (sekarang Pasangkayu), Provinsi Sulawesi Selatan (sekarang Sulawesi Barat).
Dari Bali, ia berangkat bersama 65 kepala keluarga (kk) lain ke Sulawesi dengan harapan akan sukses. Menempuh perjalanan selama 3 sampa8 4 hari, ia sampai di Pelabuhan Kayu Maloa, Pasangkayu. Dari sana ia dijemput pihak transmigrasi dan diantarkan ke daerah Lalundu dan menginap tiga malam sebelum akhirnya dibagikan rumah dan 2 hektare tanah untuk digarap menjadi pertanian.
”Pertama kali kami tanam padi pak. Tapi selalu gagal karena air,” tutur Oka.
Ia berkata, dulu pertama kali masuk ke daerah ini semua masih air. Jika banjir bisa setinggi atap rumah dan kami selalu mengungsi ke gunung. Bahkan ketika menginjak tahun kelima di perantauan, lebih dari setengah kk angkatannya yang memilih untuk mundur dan pulang.
Namun ia memilih bertahan dan mulai mencoba jenis tanaman lain, seperti coklat. Tapi hasilnya tidak jauh berbeda dengan padi.
Meski begitu, hal itu tidak mematahkan asa dari pria kelahiran 1965 ini. Ia yakin kondisi daerah akan berubah dan tidak mungkin seperti ini terus.
Mulai Mengenal Sawit
Diawal tahun 1997, Oka sempat menjadi karyawan harian lepas PT Mamuang, salah satu anak usaha Astra Agro. Dari situ ia mengenal kelapa sawit dan dapat memenuhi kebutuhan logistik keluarganya.
”Dulu cari beras susah. Beruntung dikasih sama perusahaan,” katanya.
Ia menambahkan, kala itu belum ada program kemitraan dari perusahaan. Jadi kami bekerja saja.
Barulah ditahun 2006 ada penawaran program Income Generating Activity (IGA) kelapa sawit dari perusahaan. Namun masyarakat masih belum yakin sepenuhnya dengan program ini.
”Ada yang bilang nanti surat tanah kita digadai perusahaan. Ada yang bilang nanti tanah kita diambil,” ujarnya.
Ia pun tidak langsung mengiyakan tawaran perusahaan dan menanyakan kepada kerabatnya di perantauan lain bagaimana sistem IGA tersebut.
Setelah paham betul proses IGA, barulah ia berani mendaftarkan program IGA. Bersama dengan 25 orang petani, mereka membentuk kelompok tani Lalundu 3.
Alhasil setelah 4 tahun mulai menanam sawit, kehidupan keluarganya mulai berubah. Dari dulunya menjadi karyawan harian, dia beralih menjadi petani kelapa sawit.
Mental Baja Berbuah Hasil
Pria 4 anak ini pun tersenyum bangga ketika bercerita tentang kondisinya sekarang. Anak-anaknya terbilang sukses dan bisa menduduki bangku kuliah.
”Semua karena sawit,” katanya.
Yang lebih menarik, rumah trans dari kayu pun masih ia pertahankan meskipun sudah membuat bangunan permanen dari beton. Alasannya, agar selalu ingat asal kita.
”Itu atap seng dari zaman saya trans pertama kali. Belum keropos sekalipun,” kata Oka tersenyum. (alaluddin)
Exit mobile version