MAKASSAR, BKM– Menghadapi ancaman yang bisa saja terjadi pada saat pelaksanaan pemilihan kepala daerah (Pilkada) serentak, Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan menggelar dialog yang berlangsung di kantor Kejati Sulsel, Kamis (27/2).
Dialog interaktif digelar bertujuan untuk menciptakan pelaksanaan pilkada dapat berjalan damai, aman serta mencegah terjadinya ancaman. Dialog ini dihadiri tokoh pemuda, agama, media hingga para akademisi.
Kepala Kejati Sulsel, Firdaus Dewilmar, menyebut, dialog yang digelar untuk membahas ancaman saat pilkada baik itu susupan dari tindakan dan potensi radikalisme hingga pada adanya disintegrasi bangsa yang potensi memecah belah.
“Dengan merajut nilai-nilai kebangsaan menggelorakan semangat bela negara menangkal radikalisme dalam rangka menjaga stabilitas keamanan diharapkan pilkada serentak dapat berjalan aman dan damai,” sebut Firdaus.
Tambah Kajati, bila kontestasi pemilihan tersebut dapat berjalan dengan damai tanpa adanya kecurangan serta money politik tentunya akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi serta melahirkan pemimpin yang aspiratif dan demokratis.
“Tentunya dengan melahirkan pimpinan yang aspiratif tersebut menimbulkan kesinambungan pembangunan yang berdampak kepada masuknya investasi dan memacu pertumbuhan ekonomi apalagi didukung dengan hadirnya semangat bela negara dan tumbuhnya nilai-nilai kebangsaan di tengah masyarakat yang pluralis dengan berbagai macam suku dan budaya,” tambahnya.
Lanjut Firdaus, inisiasi yang dilakukan kejaksaan untuk menjadi server terhadap upaya sekelompok oknum yang ingin menyusupi dan memanfaatkan momen pilkada ini. Seperti mereka melakukan adu domba ke masyarakat melalui berita-berita bohong yang menjurus pada isu sara yang dapat menjadi ancaman stabilitas NKRI.
“Yang harus diingat ancaman pilkada itu tidak hanya muncul pada saat pemilihan dilaksanakan, melainkan sebelum, saat dan sesudah pemilihan dilakukan,” ucapnya
Khusus untuk pengawalan, kejaksaan telah menurunkan beberapa jaksa terbaik untuk ikut bergabung dengan sentra Gakumdu Bawaslu untuk mengawasi jalannya pemilihan tersebut.
“Karena kemajuan suatu daerah ditentukan dari proses pemilihan kepala daerahnya, kalau prosesnya bagus, tentu pemimpin yang muncul adalah pemimpin yang amanah dan aspiratif,” tandasnya. (arf)
Antisipasi Ancaman Pilkada, Kejati Gelar Dialog
