KETIKA menjalani proses pemulihan di P2TP2A Sulsel, Senin, 14 Oktober 2019 silam, Mansur bercerita tentang perlakuan yang dialaminya dari kedua orangtuanya Mappipenning dan Humairah. Selama bertahun-tahun dalam pemasungan, di pergelangan tangan dan kakinya terlihat bekas ikatan cukup kuat dan telah menghitam.
Menurut Mansur, ia mendapatkan perlakuan kasar sejak kelas dua SD. “Saya dulu sekolah kelas dua. Saya juga rajin mengaji, tapi tidak lanjut sekolah oleh bapak,” kata Mansur terbata-bata, kala itu.
Saat beranjak remaja, dirinya dipekerjakan di sawah menarik gerobak bajak menggunakan tali di mulutnya. Bahkan orangtuanya tega mengirim Mansur ke Malaysia untuk dipekerjakan di perusahaan kelapa sawit.
“Umur 14 tahun saya sudah ke Malaysia. Disuruh kerja di sana tarik gerobak. Isinya kelapa sawit. Tarik gerobak pakai mulut. Tanganku diikat,” lanjutnya.
Sekembali dari Malaysia, dia diikat pakai rantai di dalam kamar mandi. Tangan dan kaki juga diikat. ”Saya tidur begini (sambil mempraktikkan gaya tidur berdiri dengan tangan terikat di atas),” paparnya.
Sedihnya lagi, Mansur hanya diberi makan sekali dalam sehari. Itu pun jika orang tuanya ingat.
Mansur memiliki saudara kandung bernama Uni. Wanita usia 23 tahun itu telah menikah dengan seorang pria dari Palimmasang. Ia pun tak mau pulang, takut mengalami kejadian seperti yang dialami kakaknya.
Tetangga kerap menyaksikan perlakuan yang tidak wajar terhadap Mansur dari orangtuanya. Salah satunya, Mansur pernah disuruh menangkap anjing. Jika anjingnya tidak tertangkap, Mansur dilempari batu.
Meski begitu, tetangga tidak melaporkan hal itu ke aparat hukum. Karena kedua orang tua Mansur selalu mengancam mereka. (min/c)
Ini Bentuk Penyiksaannya….
