Site icon Berita Kota Makassar

Jika Tak Laku Gorengan Dibagi Gratis

JUALAN gorengan bagi Haca Intan Daeng Kebesumi adalah bisnis yang cukup menjanjikan. Meskipun keuntungan yang didapatkan tidak besar, namun perputaran modalnya pesat. Inilah yang membuat dirinya setia dan bertahan.

Laporan: ARIF AL QADRY

Bahkan ia bercita-cita dapat mengembangkan bisnis gorengannya yang lebih banyak, sehingga Intan berharap memiliki gerobak hingga tempat jualan yang tetap. Untuk mewujudkan cita-cita itu, Intan mulai menambung sedikit-sedikit dari hasil jualan gorengan.
“Sama seperti orang-orang, saya juga mau punya tempat sendiri untuk berjualan. Bisa mempekerjakan pengangguran dan memanjakan pembeli. Ini masih saya usahakan dengan menabung keuntungan setiap hari,” ucapnya.
Dalam perjalanan bisnisnya, Intan menjual gorengan di Jalan Hertasning Raya, ia sudah berhasil mempekerjakan tiga orang tetangganya. Tugasnya, membantu membuat adonan dan menggorengnya. Upah yang Intan berikan pada orang yang membantunya terbilang lumayan, yaitu Rp1 juta setiap bulan. Jam kerja pegawai Intan fleksibel, mulai dari 06.00 pagi sampai 12.00 siang.
“Kalau jualan masih baik, sehat, saya mau cari tempat jualan lagi. Cari orang yang mau jaga dengan gaji yang sesuai,” tambahnya.
Setiap hari, Intan mampu memproduksi gorengan sekitar 800 biji. Jalangkote misalkan dalam sehari dibuat sebanyak 300 biji, Bakwan 200 biji, Donat 120 biji dan Panada 120 biji. Sementara harga gorengan yang dia jual terbilang terjangkau dengan rata Rp2 ribu per biji.
Hanya saja omzet yang masuk tidak selalu mulus. Jika sepi maka gorengan buatannya dia bagi ke orang-orang sekitaran tempat jualannya secara gratis. Dalam sehari, jika sedang ramai Intan dapat membawa pulang omzet sebesar Rp800 ribu. Kalau sepi hanya bisa dapat Rp 300 ribu per harinya.
“Bulan ramadan paling baik, banyak berkah dan banyak laku. Kalau hujan seperti bulan ini kadang-kadang banyak yang tidak laku. Orang jarang mau ada yang singgah. Kalau sampai malam tidak laku saya bagi saja ke orang-orang,” tutupnya.
Dari pengalamannya menjual gorengan, saat sore menjelang petang, banyak orang yang datang ke tempat jualannya. Mereka membeli gorengan seperti bakwan sayur udang (bikandoang), jalangkote, donat dan panada. Mayoritas yang datang membeli adalah karyawan.
“Sore paling banyak yang datang beli apalagi yang naik mobil. Karena macet mereka hanya membuka kaca mobil dan pesan. Kalau malam banyak anak muda juga,” sebut Intan.
Jualan gorengan, tambah Intan, mulai ditekuni pada awal tahun lalu. Ide jualan gorengan muncul setelah merasa bosan tinggal sepanjang hari dalam rumah. Berangkat dari situlah, Intan kemudian mencari pinjaman modal untuk membuat cemilan gorengan. Dan ditambah modal lemari kaca ukuran yang sederhana, dia menggelar dagangannya di kawasan Jalan Hertasning Raya.(*)

Exit mobile version