Site icon Berita Kota Makassar

Dari Awalnya Ditolak Kini Miliki 150 Mitra

SAMPAH menjadi masalah yang serius saat ini di kota besar seperti Makassar. Bahkan jika tidak melalui pengolahan maka Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Antang diperkirakan bisa overload tahun depan.

Laporan: NUGROHO

Olehnya itu, perlu ada perlakuan khusus terhadap sampah yang tiap harinya terproduksi. Apalagi ternyata, sampah yang kita buang tiap hari, bisa diubah menjadi uang.
Kini telah ada aplikasi karya anak muda Sulsel yang menangani serius masalah sampah. Namanya ‘Mallsampah’. Aplikasi ini membantu bagi para pengepul sampah, pemulung, bahkan masyarakat untuk memanfaatkan sampah menjadi nilai jual.
Chief Executive Officer & Co-Founde MallSampah, Adi Saifullah Putra bercerita kepada BKM mengenai perusahaan yang bergerak di bidang platform online pengelolaan recycling limbah kemasan ini.
Awal idenya, bermula pada 2014, saat ia masih tinggal di indekost di dekat Kampus Unhas. Alumni Fakultas Hukum UMI angkatan 2012 ini yang saat itu tinggal di indekost yang berada di lorong jalan, resah dengan seringnya sampah yang menumpuk di dekat tempat tinggalnya.
Saat itu alat angkut sampah hanya berupa truk yang tentu tidak bisa masuk di area lorong. Sehingga pengangkutan sampah di lorong-lorong saat itu menjadi sangat sulit.
“Kita melihat, pengepul dan pemulung sebenarnya bisa membantu masalah sampah di lorong-lorong. Idenya, pengepul dan pemulung ini bisa punya akses ke rumah-rumah langsung. Jadi mereka tidak harus korek-korek sampah di tempat sampah, tapi langsung sampah yang bagus dari rumah,” jelasnya.
Akhirnya, pada 2015 dibuatlah website Mallsampah. Saat itu kebetulan dikatakan Adi, ada temannya yang ahli dalam membuat website, dan bersedia membantunya dalam permasalahan sampah ini.
Awal beroprasinya, Adi mengatakan tidak bisa langsung memanfaatkan keuntungan dari Mallsampah. Bahkan ia harus melalukan riset terlebih dahulu dan menggaet mitra.
Menggaet mitra diratakannya adalah yang paling sulit. Bahkan dalam setahun lebih setelah Mallsampah ada di website, Adi baru berhasil mendapat 20 mitra. Mitra Mallsampah sendiri adalah para pengepul sampah dan pemulung.
“Pengalaman ditolak ada. Ya tahu sendiri mereka ndak terbuka. Kita dikiranya rentenir. Mereka takut. Jadi caranya kami ikut ngopi sama mereka, cerita-cerita, bahkan sampai malam biasa,” ungkap Adi.
Namun kerja keras itu membuahkan hasil juga. Jika dulunya susah payah, sekarang Mallsampah sudah mulai berkembang. Bukan melalui website saja, namun kini telah ada aplikasinya dengan nama yang sama.
Bahkan dikatakan Adi, mitranya kini telah mencapai 150 orang.

Exit mobile version