SEPERTI masyarakat pada umumnya, Eka Novi Fitrianty juga sempat merasa cemas akan isu virus corona yang semakin menjadi-jadi. Terlebih setelah mengetahui kabar adanya dua orang warga Indonesia yang terkena virus Corona.
Laporan: ARIF AL QADRY
Meski dalam kegalauan karena kabar tersebut, mucul ide membuat jamu anticorona. Apalagi, setelah perempuan kelahiran Bantaeng, 22 November 1989 mendapat informasi kalau virus corona atau covid-19 dapat dicegah atau ditangkal dengan mengonsumsi bahan-bahan herbal seperti jahe, temulawak dan kunyit. Sontak perempuan yang akrab disapa Eka itu langsung kepikiran tuk mengolah rempah-rempah tersebut menjadi jamu yang kaya dengan manfaat.
Tidak lama berpikir, alumni Jurnalistik UIN Alauddin Makassar membuatnya. Dia membuat jamu dibantu oleh suaminya, Lukman Hakim. Rempah-rempah seperti jahe, temulawak dan kunyit dibeli di pasar tradisional Kota Makassar dengan harga yang masih stabil, atau belum mengalami lonjakan kenaikan harga.
Bermodal pengalaman sebagai penikmat jamu rumahan, ditambah lagi bekal pengalamannya membuat jamu, dia pun bergerak memproduksi. Mengolah rempah-rempah alami menjadi cairan (jamu) dan dikemasnya ke dalam botol.
“Sudah tiga hari jualan jamu anticorona. Ini dari inisiatif saya setelah menyaksikan berita di televisi terkait dengan wabah virus corona. Di waktu yang hampir sama, saya mendapatkan juga informasi bahwa rempah-rempah seperti jahe, temulawak dan kunyit juga dapat menangkal sehingga saya membuat jamu anticorona ini,” sebut Eka kepada penulis.
Hari pertama membuat jamu yang dinamai Jamu anticorona, Eka berhasil menjual sekitar lima botol. Sementara hari kedua dia menjual sepuluh botol. Dan hari ketiga ini (kemarin) telah masuk pesanan sekitar sepuluh botol juga.
Jamu anticorona yang dibuat oleh Eka dipromosikan melalui media sosial seperti Facebook (FB) dan Whatsapp (WA). Sejak produk buatannya disebar di media sosial, antusias masyarakat cukup baik. Jamu anticorona menjadi perbincangan.
“Setiap hari saya membuat lima belas botol saja, tidak lebih, karena bahan-bahannya juga punya batas waktu. Kalau bikinnya langsung banyak takut rasa dan khasiatnya kurang segar dinikmati. Lagian jamu yang saya buat ini hanya bertahan maksimal tiga hari saja,” tambahnya. (*)
