SELAIN dapat menangkal virus corona, jamu anticorona buatan Eka Novi Fitrianty juga dapat menyegarkan tubuh. Sebab bahan yang digunakan dalam membuat jamu adalah rempah-rempah herbal alami seperti jahe, temulawak dan kunyit.
Laporan: ARIF AL QADRY
Harga satu botol Jamu anticorona buatan perempuan kelahiran Bantaeng, 22 November 1989, terbilang cukup murah. Satu botol dengan berat isinya 250 mil seharga Rp15 ribu. Jamu anticorona dijamin tanpa ada campuran bahan pengawet.
“Untuk sementara waktu ini, pemesanan bisa langsung datang ke rumah pada alamat Jalan Satando Lorong 01 atau bisa juga menghubungi di nomor WA 085288999418,” sebutnya.
Hadirnya isu virus corona menjadi berkah tersendiri buat Eka dalam mencari rezeki dan mengumpulkan pundi-pundi rupiah. Apa yang dilakukannya juga dapat dibilang membantu masyarakat menjaga kesehatan tubuh khususnya menangkal masuknya virus corona.
“Yang beli kebanyakan pekerja atau pegawai. Mereka pesan karena menjaga kesegaran dan ketahanan daya tubuhnya. Kalau untuk virus corona semoga saja tidak sampai masuk di Makassar ini. Dan resep yang saya dapati di luar, televisi, resepnya sama untuk mencegah yaitu kunyit, temulawak dan jahe. Jadi semoga ini bermanfaat banyak,” terangnya.
Kedepannya, Eka ingin menguji khasiat dari jamu anticorona yang dibuat. Dengan mendatangi Dinas Kesehatan (Dinkes) ataukah BPOM Makassar. Di situ akan melihat dan mengetahui manfaat dan kualitas jamu buatannya.
Alumni Jurnalistik UIN Alauddin Makassar membuat jamu dibantu oleh suaminya, Lukman Hakim. Rempah-rempah seperti jahe, temulawak dan kunyit dibeli di pasar tradisional Kota Makassar dengan harga yang masih stabil, atau belum mengalami lonjakan kenaikan harga.
Bermodal pengalaman sebagai penikmat jamu rumahan, ditambah lagi bekal pengalamannya membuat jamu, dia pun bergerak memproduksi. Mengolah rempah-rempah alami menjadi cairan (jamu) dan dikemasnya ke dalam botol.
“Sudah tiga hari jualan jamu anticorona. Ini dari inisiatif saya setelah menyaksikan berita di televisi terkait dengan wabah virus corona. Di waktu yang hampir sama, saya mendapatkan juga informasi bahwa rempah-rempah seperti jahe, temulawak dan kunyit juga dapat menangkal sehingga saya membuat jamu anticorona ini,” sebut Eka kepada penulis.
Hari pertama membuat jamu yang dinamai jamu anticorona, Eka berhasil menjual sekitar lima botol. Sementara hari kedua dia menjual sepuluh botol. Dan hari ketiga ini (kemarin) telah masuk pesanan sekitar sepuluh botol juga.
Jamu anticorona yang dibuat oleh Eka dipromosikan melalui media sosial seperti Facebook (FB) dan Whatsapp (WA). Sejak produk buatannya disebar di media sosial, antusias masyarakat cukup baik. Jamu anticorona menjadi perbincangan.
“Setiap hari saya membuat lima belas botol saja, tidak lebih, karena bahan-bahannya juga punya batas waktu. Kalau bikinnya langsung banyak takut rasa dan khasiatnya kurang segar dinikmati. Lagian jamu yang saya buat ini hanya bertahan maksimal tiga hari saja,” tambahnya. (*)
