MAKASSAR, BKM — Kualitas sumber daya manusia dipengaruhi oleh tingkat konsumsi pangan, terutama protein hewani asal ternak. Karena itu, selayaknyalah peternakan menjadi sektor yang patut mendapat perhatian serius dan butuh keberpihakan. Namun faktanya?
PROF Dr Ir Jasmal Ahmari Syamsu,MSi,IPU,ASEAN.Eng dikukuhkan sebagai guru besar Universitas Hasanuddin pada bidang Ilmu dan Teknologi Pakan. Pengukuhannya berlangsung dalam rapat senat akademik yang dipimpin Ketua Senat Prof Dr Dadang A Suriamihardja di Ruang Senat Unhas, Selasa (10/3).
Dalam pidato pengukuhannya, Prof Jasmal membahas tentang Signifikansi Limbah Tanaman Pangan Sebagai Pakan Sapi Potong dalam Mendukung Pengembangan Peternakan Integratif. Ia mengungkit tentang limbah tanaman pangan. Sementara yang selama ini menjadi kendala dalam pemenuhan pakan ternak, yakni ketersediaan pakan khususnya hijauan, berkurangnya lahan penggembalaan, dan ketersediaannya yang dipengaruhi oleh musim.
Selama 10 tahun menunggu masa pengukuhan guru besar, Prof Jasmal mendapati bahwa Provinsi Sulawesi Selatan merupakan salah satu wilayah sentra komoditi tanaman pangan yang memiliki produksi limbah tanaman pangan sebanyak 9,86 juta ton bahan kering. Dari angka tersebut belum dimanfaatkan secara optimal.
“Salah satu kendala yang kita hadapi saat ini adalah penerapan integrasi sapi potong dan tanaman pangan. Belum terpadunya antara sub sektor peternakan dan tanaman pangan. Sinergitas kebijakan dan program antarsub sektor peternakan dan tanaman pangan perlu dilakukan untuk pengembangan pola integrasi sapi potong dan tanaman pangan,” jelasnya.
Persoalan produksi limbah tanaman pangan terbesar, disebutkan Prof Jasmal berada di tujuh provinsi. Yakni di Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan sebesar 71 persen. Provinsi Sulsel memiliki produksi limbah tanaman pangan sebanyak 9.860.394 ton bahan kering. Limbah tanaman pangan ternak hanya 30 persen. Limbah tanaman pangan yang telah dimanfaatkan sebesar 40.341.396 ton, dengan daya dukung sebagai pakan untuk 17.658.838 satuan ternak (ST).
”Sementara jumlah tenaga kerja sektor pertanian kita sebesar 33,4 juta orang, dan 3,8 juta orang bekerja di subsektor peternakan dengan 44,5 persen berumur 50 tahun ke atas. Kualifikasi pendidikan 70,6 persen tamat/tidak tamat sekolah dasar, dan hanya 1,9 persen dengan pendidikan perguruan tinggi,” bebernya.
Prof Jasmal juga mengungkap, salah satu penyebab lambatnya pembangunan peternakan di daerah ini adalah rendahnya tingkat pendidikan peternak, sehingga kemampuan mengadopsi teknologi peternakan menjadi rendah.
Prosesi pengukuhan dan pembacaan berita acara penerimaan guru besar dilakukan oleh Ketua Dewan Professor Unhas Prof Dr Ir Mursalim. Prof Jasmal saat ini menjabat sebagai wakil dekan Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin. Ia dikukuhkan sebagai guru besar Unhas ke-403.
Rektor Unhas Prof Dr Dwia Aries Tina Pulubuhu mengaku kaget dengan kesibukan guru besar ilmu peternakan ini, sehingga menunda pengukuhan guru besarnya selama 10 tahun. Dirinya punberpesan agar guru besar jangan hanya tinggal di kampus, melainkan harus memberi kontribusi pada masyarakat dan terhadap pembangunan daerah dan nasional. Dengan kepakaran yang dimiliki, seorang guru besar diharapkan dapat berbuat lebih banyak untuk kemaslahatan.
”Guru besar di Unhas cukup banyak. Tetapi kita tetap mendorong kuantitas dan kualitas guru besar kita. Saat ini kita menjadi perguruan tinggi dengan jumlah guru besar aktif terbanyak kedua di Indonesia. Pada tahun 2019, Unhas berhasil mengukuhkan 26 guru besar baru. Terbesar di antara seluruh perguruan tinggi di Indonesia,” jelasnya. (ita)
