MAKASSAR, BKM — Penyakit demam berdarah dengue (DBD) tergolong endemik yang tumbuh subur dan membahayakan di Indonesia. Data Kemenkes RI (2019) menunjukkan peningkatan kasus dan angka kematian akibat penyakit ini.
Tahun 2017, tercatat 68.407 kasus dengan angka kematian 493 orang. Pada Januari 2018, terdapat 6.800 kasus dan kematian 43 orang. Awal tahun 2019, tercatat 15.132 kasus dan kematian 145 orang.
Hal ini yang mendorong Musdalifah Syamsul melakukan riset dan pengembangan dengan judul disertasi Pengembangan Model Pelatihan Pengendalian Deman Berdarah Dengue (DBD) Berbasis Eco Learning di Puskesmas.
Musdalifah melakukan riset untuk meraih gelar doktor di bidang PKLH yang dipertahankan pada sidang ujian promosi doktor, Selasa (10/3) di Gedung AD Aula Lanta 5 PPs UNM. Sidang ujian dipimpin Prof Dr Anshari,MHum, dengan anggota Prof Dr Sapto Haryoko,MPd, Prof Dr Lahming,MS, Dr Ir Nurlita Pertiwi,MT, Prof Dr Gufran D Dirawan,M.EMD, Dr Faisal Amir,MPd, Prof Dr Hamsu Abdul Gani,MPd, dan Prof Dr drg A Arsunan Arsin,M.Kes.
Musdalifah yang juga dosen STIKES Salewangan Maros mengembangkan produk modul pelatihan pencegahan DBD di kalangan kader puskemas sebagai ujung tombak dalam menggalakkan hidup sehat di masyarakat. Ia menyusun modul berbentuk bahan ajar dengan mengintegrasikan pembelajaran lingkungan hidup. Memanfaatkan bahan alam, yakni tanaman atau tumbuhan pengusir nyamuk (insektisida hayati).
”Tujuan utama modul pelatihan yang disusun untuk meningkatkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan kader kesehatan di puskesmas sehingga mampu mengendalikan DBD,” ujarnya
Dia meramu lima model riset dan pengembangan, meliputi analisis kebutuhan, rancangan model pelatihan, pengembangan model pelatihan, evaluasi, dan penyebaran. Produk bahan ajar pelatihan dinyatakan valid, praktis, dan efektif digunakan setelah melalui serangkaian uji ahli, uji lapangan, dan uji statistik.
Usai menjawab semua sanggahan, bantahan, dan klarifikasi dewan penguji, Musdalifah dinyatakan lulus dengan IPK 3,95 dan predikat kelulusan sangat memuaskan. Dia tercatat sebagai alumni ke-856 PPs dan ke-74 Prodi PKLH.
Prof Dr drg A Arsunan Arsin,M.Kes menegaskan bahwa nyamuk DBD termasuk elit, karena wadah berkembang biaknya justru di air genangan bersih. Tidak seperti penyakit malaria.
Menurut WR 3 Unhas Makassar ini, tidak semua penyakit DBD mengeluarkan darah. ”Sebaiknya kalau demam tinggi curigai saja sebagai DBD, sehingga cepat diperiksa di puskesmas dan rumah sakit. Pengidap DBD harus cepat bertindak karena terlambat dapat mematikan,” ujarnya. (rls)
