Site icon Berita Kota Makassar

Dishub Kaji Jalan Batua Raya Satu Arah

MAKASSAR, BKM — Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Makassar, tengah menggodok rekayasa lalu lintas untuk mencegah terjadinya kemacetan di Jalan Batua Raya. Selama ini, jalan tersebut dinilai cukup padat.

Bahkan, badan jalan sudah tidak mampu menampung kapasitas kendaraan yang ada. Akibatnya, kemacetan parah kerap tak dapat dihindari.
Kepala Seksi Manajemen dan Rekayasa Lalu Lintas Jalan Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Makassar, Muhammad Irlan Ruslan, mengatakan, berdasarkan laporan masyarakat kemacetan di jalan tersebut sudah cukup parah. Khususnya di jam-jam sibuk saat berangkat dan pulang kerja maupun sekolah.
“Bukan dari laporan masyarakat saja, bahkan kami hampir tiap hari dengan kepolisian berada di lapangan, sehingga kami perlu lihat secara real seperti apa kondisi dan tidak menutup kemungkinan apapun yang menjadi harapan dan usulan dari masyarakat bisa dilakukan,” ucap Irlan, akhir pekan lalu.
Kendati demikian, kata dia masih perlu melakukan pengkajian mendalam untuk mewujudkan jalan satu arah. Salah satunya berkoordinasi dengan pihak kepolisian.
“Karena memang kalau bicara tentang manajemen rekayasa lalu lintas dalam konteks berubah arah memang perlu kajian, karena bagaimanapun ini dampaknya ke masyarakat,” ucapnya.
Sementara Kepala Dishub Makassar Mario Said menyatakan bahwa belum ada format rekayasa yang bisa diterapkan secara permanen di Batua Raya. Kemacetan di sana hanya bisa disiasati sementara dengan melakukan pengaturan manual di titik pusat kemacetan.
“Sedang dikaji rekayasa apa yang tepat. Titik utamanya kan di pertigaan Borong-Toddopuli. Sampai ini berpengaruh ke jembatan di depan kantor camat,” tutur Mario.
Sebelumnya, diusulan perubahan satu pada siang hari di Jalan Batua Raya. Usulan itu diutarakan oleh pengamat transportasi modern Arief Sulistyo. Menurutnya, hal itu merupakan solusi jangka panjang untuk mengatasi volume kendaraan yang tinggi serta kondisi jalan yang sudah tak mampu lagi menampung.
“Itu solusi jangka panjang yang bisa ditempuh. Karena problem ada pada kapasitas jalan yang memang sudah tak mampu menampung volume kendaraan yang tinggi,” terang Arief Sulistiyo.
Arief juga menyebutkan bahwa Batua Raya bukan lagi jalur alternatif. Bahkan tiga tahun terakhir, Batua Raya sudah menjadi jalur protokol utama, sebagai jalur penyambung antara selatan dan utara serta timur kota yang membuat jalan ini mengalami peralihan besar.
“40 persen kendaraan dari timur kota menuju selatan melewati Batua Raya. Begitu juga sebaliknya. Akibatnya, terjadi tumpahan kendaraan pada jam-jam tertentu,” jelasnya.
Batua Raya mengalami kemacetan parah pada waktu puncak kepadatan kendaraan, seperti siang hari dan menjelang petang. Kemacetan terparah berada di ujung selatan Batua Raya, yakni di pertigaan Borong-Toddopuli.
“Dengan satu arah, kemacetan bisa diminimalisir. Tergantung hasil kajian saja, satu arahnya ke mana. Apakah dari selatan ke utara atau dari utara ke selatan,” ulas Arief.
Ia menjelaskan, jika penerapan satu arah bisa diberlakukan, pilihannya pada setengah hari atau satu hari penuh. Kemudian akan baru dibuka dua arah pada malam hari antara pukul 19.00.
“Karena puncaknya kepadatan itu baru menurun pada jam 7 malam,” sebutnya.
Arief mengatakan, risiko kemacetan satu arah memungkinkan tetap ada. Tapi setidaknya berkurang, Ia menyebutkan seperti Jalan Sungai Saddang dan Adiyaksa yang dulunya juga dua arah. Setelah peralihan menjadi satu arah, kemacetan pun bisa ditekan. (rhm)

Exit mobile version