Site icon Berita Kota Makassar

Lirik Sejumlah Daerah untuk Pasarkan Usahanya

SETELAH sukses mengembangkan bisnis cemilan berbahan tumbuhan herbal di Kota Makassar, Abdul Mutholib mulai melirik untuk mengembangkan usaha di sejumlah daerah seperti Maros, Gowa, Parepare, Kendari, Manado, Ternate dan Mamuju.

Laporan: ARDHITA ANGGRAENI

Apalagi, minat konsumen terhadap hasil produk herbal dan kuliner sangat tinggi, dan tidak mengandung bahan pengawet.
Kegigihan pria dengan tiga orang anak ini sangatlah kuat untuk membesarkan usahanya. Bahkan dirinya juga terlibat langsung dalam menyarakan dan memberikan informasi bagaimana cara menikmatinya dengan mengelola menjadi manisan dan bubuk instan. “Jadi kita menjual tidak hanya tahu menjual dan membuat saja, tapi kita ajarkan juga ke pembeli bagaimana mengolah tumbuhan ini untuk kesehatan,” ujarnya.
Saat ini produk yang ia jual telah menghasilkan keuntungan lumayan, seperti manisan kunyit putih per kemasan 100 gram dibanderol seharga Rp25 ribu, sedangkan bubuk instan per200 gram ditawarkan Rp40 ribu. Produk minuman instan jahe merah Rp40 ribu, instan jamekudu Rp40 ribu, instan kuputema Rp40 ribu, intan kunyit putih Rp30 ribu. Manisan jahe, kunyit putih dan kencur ditawarkan seharga Rp25 ribu. Minuman sari kedele, Sibawa drinks, kunyit asem Rp8.000.
“Modal awal saat pertama merintis Rp500 ribu, sekarang untuk beli bahan baku sampai 30-50 kilo itu bisa menghabiskan Rp5-8 juta. Kalau keuntungan saya alhamdulillah tiga kali dari modalnya,” katanya.

Kedepan ia juga ingin memiliki galeri atau toko sendiri untuk menjajakan usahanya, sebab selama ini ia hanya meayani pemesanan di rumah, via online dan mengikuti setiap event ataupun pameran. Menyadari banyaknya manfaat bagi kesehatan, Abdul yakin usahanya bisa lebih besar dari saat ini.
Memang diakui, pria kelahiran Malang,18 Mei 1969 rutin mengikuti pameran dan pelatihan UMKM. Salah satu momentum membuka usaha adalah melirik sesuatu hal yang jarang dikerjakan orang lain, lalu kita membuatnya menjadi sebuah peluang bisnis.
“Saya memulai usaha ini kurang lebih delapan tahun, kalau dulu saya jadikan sebagai obat herbal, ssekarng saya mulai jadikan itu sebagai komsumsi sehari-hari untuk dimakan. Saya berpkiran untuk jadikan tanaman oabat ini jadi anisan dan cemilan setiap hari,” ungkapnya.
Meski awalnya sulit menarik dan mendapatkan kepercayaan pelanggan untuk bisnisnya tersebut, tapi tidak membuat Abdul yang sering disapa bapak Cak ini pantang menyerah. Buktinya, bisnis yang digelutinya bisa peluang usaha yang cemerlang saat ini dan menghasilkan omset puluhan juta.
“Sudah panjang prosesnya, kalau orang disinikan mau makan tanaman yang biasaya untuk campuran makan terus mau dikomsumsi cemilan itu, terasa aneh. Nah disitu saya perkenalkan, secara pelan-pelan saya promosi ini itu di media sosial saya, kalau ikut pamerana tau event. Karena sebetulnya mau jalankan usaha ini mau tidak mau karena tidak ada pekerjaan lain setelah saya di PHK jadi karyawan,” jelasnya.
Sejumlah tanaman herbal seperti kunyit, kunyit putih, temulawak, jahe, jahe merah, tersebut disulap menjadi manisan, camilan dan bubuk instan. Hampir tidak pernah ditemukan cemilan yang dijual oleh bapak cak ini. “Tidak susah juga carinya dan saya tahu olehanya makanya saya juga, itu bahan baku didapat di Makassar dan sebagian didatangkan dari Jawa seperti kunyit putih,”bebernya.
Bisnis yang diberi nama Cak Mutholib ini memiliki beberapa keunggulan diantaranya mudah dikonsumsi tanpa harus memakai air, lebih sehat, higienis, rasanya cocok di lidah, dan mengubah pola konsumsi masyarakat terhadap tanaman herbal. “Kita sebenarnya harus komsumsi makan atau cemilan itu yang sehat, kalau yang lain banyak pengawetnya, cemilan ini murnil untuk herbal untuk kesehatan. Saya alhamdulillah selma jual ini banyak yang tertarik dan memesan lagi. Sekarang punya karyawan bantu saya empat oran,” ujarnya. (*)

Exit mobile version