Site icon Berita Kota Makassar

Berkah Tersendiri Jelang Ramadan dan Lebaran

BIASANYA menjelang ramadan dan lebaran idul fitri, ziarah kubur mulai ramai. Warga yang berada di sekitar pemakaman mengais rezeki dari pengunjung makam. Seperti halnya Daeng Awing.

Laporan:FACHRUL AWALIL ILMI MAHMUD

Tinggal sebulan lebih, umat Islam akan menjalankan ibadah puasa di bulan ramadan. Guna menyambut bulan suci itu, warga baik yang berdomisili di dalam kota maupun di luar kota ramai-ramai mendatangi makam keluarganya untuk berziarah.
Olehnya itu,sejumlah pekamaman umum ramai diziarahi sanak familinya, seperti di Pemakaman Umum Sudiang.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, warga sekitar pemakaman pun memanfaatkan untuk mengais rezeki. Para ibu-ibu dan anak-anak banyak terlihat menjual bunga dalam kantong plastik. Tak ketinggalan Daeng Awing, yang menawarkan jasa pembaca doa.
Ada peziarah yang langsung paham dan menggunakannya jasanya untuk membacakan doa di makam keluarga, namun ada juga yang hanya berjalan dan membalasnya dengan senyuman dan sapaan.
“Seperti ini (menawarkan jasa membaca doa) hanya saat ramai peziarah saja, biasanya menjelang bulan puasa dan saat lebaran,” kata Daeng Awing kepada penulis, baru-baru ini.
Sambil sesekali menyeka keringatnya, pria paruh baya ini, mengatakan, biasanya ia membacakan (Al Quran) surat Yasin sama doa. Nanti di dalam doa kami sebutkan ni namanya penghuni rumah (kubur).
Tidak ada tarif khusus yang dipasang untuk jasa yang ditawarkannya. Setiap warga yang menggunakan jasanya hanya memberi dengan keikhasan.
“Ya namanya kita mencari rezeki, seikhlasnya warga mau memberi berapa. Ada yang beri Rp20.000 ada juga Rp 50.000,” tuturnya.
Selain menawarkan jasa pembaca doa, Daeng Awing juga dipercayakan oleh warga untuk menjaga dan membersihkan makam keluarga mereka.”Saya kadang disuruh juga bersih-bersih makam. Mereka biasa kasih ka upah bersih-bersih,” ujarnya.
Daeng Awing juga mengaku, sudah puluhan tahun dipercaya para peziarah untuk memimpin doa di atas pusara. Memang ada beberapa yang menawarkan jasa pembaca doa di TPU ini tapi kebanyakan peziarah lebih memilih Daeng Awing sebagai pemimpin doa.
“Sering ada peziarah yang datang langsung ke rumah untuk memanggil saya hanya meminta untuk dituntun saat ingin berdoa di atas pusara makam keluarga mereka,” ungkap Daeng Awing, sambil mengusap keringat yang ada di dahinya.
Dalam pekerjaan ini Daeng Awing mendapat penghasilan yang tidak menentu, dikarenakan peziarah hanya datang satu persatu saja, untuk melihat makam keluarganya. Termasuk jika ada yang baru meninggal. Bahkan ia hanya menerima santunan seikhlasnya tanpa mematok tarif pada peziarah makam.
“Urusan doa itu kan berhubungan dengan Allah SWT. Jadi saya tidak mematok tarif, apalagi kalau mau menyusahkan orang yang sedang berduka,” ungkapnya.
Selain sebagai jasa pembaca doa, Daeng Awing juga membuka toko kebutuhan rumah tangga dan beberapa kebutuhan peziarah di sekitar wilayah TPU Sudiang, seperti bunga dan air.
“Saya bekerja ikhlas,saya sama sekali tidak berfikir untuk mendapat uang lebih pada peziarah. Ketika saya dipercaya untuk memimpin doa kepada jenazah yg sudah di makamkan saja sudah cukup berharga bagi saya dan Insyaallah itu sudah menjadi amal tabungan saya nanti, ketika sudah tidak di dunia lagi,” jelasnya.(*)

Exit mobile version