KASET pita pernah begitu populer di Indonesia pada eranya yakni 1960-an hingga 2000-an. Namun, seiring berjalannya waktu, serta perkembangan teknologi digital, membuat keberadaannya tergusur oleh CD dan kekinian layanan musik streaming.
Laporan: ARDHITA ANGGRAENI
Meski demikian, ternyata masih ada penikmat musik yang mencari kaset pita dari musikus idolanya. Hal ini diakui oleh Wibi Januar Saputra, yang setia berjualan kaset pita secara online di Makassar.
Kepada penulis mengatakan, minat masyarakat dan anak milenial terhadap kaset pita memang masih tinggi. Masih ada saja yang membeli kaset pita per hari.
“Pembeli kebanyakan anak muda, tapi juga ada yang dewasa. Biasanya mereka cari lagu dari band lama,” ujarnya, kemarin.
Kepada penulis, Wibi juga menceritakan kalau keinginannya berjualan kaset pita karena berawal dari hobi dan mengemari koleksi kaset sejak duduk di bangku sekolah menengah.
Bahkan pria kelahiran Makassar 20 Januari 1995 ini sudah menggeluti bisnis penjualan kaset pita sejak 2012 lalu. Namun untuk menjadi pengusaha kaset pita, Wibi memilih menabung uangnya sejak sekolah untuk bisa mengoleksi secara perlahan kaset-kasetnya hingga bisa ia jual seperti saat ini.
“Saya menjual dari tahun 2012. motivasi saya itu ingin memperkenalkan lagi kaset pita yang selama ini menghilang dan tidak pernah muncul di era sekarang. Kita munculkan ke teman-teman sekarang ini kaset pita masih ada,”ungkapnya.
Selain itu, Wibi menuturkan dirinya kerap memutar musik-musik lawas dengan pemutar kaset. Modal membesarkan usaha kasetnya, Wibi kumpulkan dari upahnya menjadi barista di salah satu cafe di Makassar. “Modal yang saya keluarkan itu tidak terlalu banyak, pertama dari koleksi terus menumpuk daripada disimpan mendingann saya jual sebagian sebanyak 600 kaset,” ucapnya.
Harga kaset pita yang dijual Wibi dari tahun 80 an ini djual seharga Rp150 ribu hingga Rp300 ribu tergantung cover band dan rilis album kaset tersebut. Keuntungan yang didapatkan Wibi dari harga jual itu tentu ada, namun menurutnya bisa membantu ekonominya.
“Sebenarnya usaha ini saya jalankan berdasarkan hobi. Tidak jual umum dan yang membelipun itu dari teman-teman komunitas,”bebernya.
Tidak hanya itu, membuka usaha ini juga tidak mendapat restu dari orangtua. Sebab menurutnya, menjadi pengusaha kaset sangat tidak menjanjikan dan tidak bisa memperbaiki perekonomian keluarga. Terlebih lagi Wibi ini adalah anak kedua dari tiga bersaudara yag rela tidak melanjutkan kuliah demi menabung dan membuka usahanya.
“Orang tua juga sempat tanya, diapakan semua kaset-kaset ku ini. Tapi karena hobi saya dan suka berapa band dan cover albumnya akhirnya orang tua merestui untuk membuka usaha tersebut,” katanya.
Bahkan tambah Wibi, kecintaan pada karya musik membuat derasnya internet tidak begitu berpengaruh. Ia menyebutkan, hingga kini penjualan pemutar kaset atau tape, kaset, bahkan piringan hitam masih berjalan. “Bagi orang tertentu, mendengar musik lewat kaset dengan pemutar musik tape ada kepuasan tersendiri. Beda dengan mendengar CD, apalagi download,” kata pria gonrong tersebut.(*)
