Site icon Berita Kota Makassar

Ia Tetap Berjualan di Tengah Wabah Covid-19

IMPIAN untuk hidup nyaman dan santai di hari tua hanya angan-angan belaka bagi kakek Yunus Daeng Runru. Tubuhnya yang renta ini tetap digunakan untuk bekerja dan menyambung hidup meski di tengah wabah covid-19.

Laporan: ARDHITA ANGGRAENI

Sudah banyak pembeli yang mempertanyakan alasan dirinya masih tetap bekerja di usianya yang sudah mencapai 65 tahun. Namun karena tidak ada cara lain untuk menghasilkan uang, ia tetap bersikeras berjualan untuk menyambung hidup dan membiayai cucu-cucunya.
“Tenamo na kulle nak, garing-garing tomma, tapi laniapami (tidak bisa ma sebenarnya nak, tapi mau diapami). Teaja (tidak mauka) merepotkan orang, kalau bisa ja sendiri cari makan biar mi saya sendiri cari. Takut juga ja wabah corona, tapi kalau tidak kerja ka mau makan apa,” ungkapnya kepada penulis, kemarin.
Sehari-hari pendapatan dari menjual bunga tabur, hanya sebesar Rp20 ribu hingga Rp30 ribu per enam kantong bunga. Jika ada orang dermawan dirinya bisa membawa pulang Rp50 ribu hingga Rp100 ribu. Begitupun jika masuk bulan suci ramadan pendapatan bisa lebih dari itu.
Walaupun terkadang kata Yunus Daeng Runru, dalam sehari penghasilannya pun tak menentu. Apalagi jika sedang sepi, kadang bunga tabur hanya bisa laku satu atau dua bungkus saja. Namun ia mengaku tetap bersyukur, sebab dia beranggapan setiap rejeki yang diberikan Allah akan selalu mendatangkan berkah.
“Kalau rezeki itu pasti nia ji (ada).Sukkurumi ri karaeng lataallah (bersyukur sama Allah) dikasih kesehatan, masih bisa kerja beli beras dirumah. Yah sering juga makan nasi garam ji saja,” bebernya.
Kadang-kadang Yunus mulai berjualan cukup lama jika mendekati bulan ramadan dan harus menunggu 3-4 jam untuk mendapatkan pelanggan. diriya juga mengaku pernah hanya mendapatkan satu orang pembeli setelah seharian berjualan.
Ia juga mengharapkan kedepan ada bantuan diberikan pemerintah kepadanya. Sebab selama ini, ia hanya mendapatkan bantuan dari tetangganya dan baru satu kali mendapatkan bantuan.
“Satu kali ji waktu ada dari Pak RW. Saya di rumah banyak cucuku kalau ada dimakan kalau tidak biasa tetangga kasih ki, di syukuri saja, punna di sare ki pemerintah alhamdulillah,” tuturnya.
Selain berjualan bunga tabur, dirinya juga pernah menjadi penjaga pemakaman Islam di Sudiang. Ketiga anaknya pun mengais rezeki di menjadi buruh bangunan, penjual bunga, ada juga menjadi tukang parkir.(*)

Exit mobile version