DAMPAK pandemi wabah covid-19 semakin meluas. Kalangan ekonomi bawah kini paling merasakan akibatnya. Tak terkecuali di Kota Makassar.
DI sebuah gubuk yang berlokasi di Kampung Alla-alla, Jalan Toa Daeng III, Kelurahan Batua, Kecamatan Manggala. Di sinilah Dg Sampara tinggal. Kakek berusia 51 tahun ini hidup dalam kondisi memprihatinkan.
Sudah dua bulan lamanya ia tak bisa mencari nafkan untuk menghidupi kebutuhan sehari-harinya. Ia yang berprofesi sebagai buruh bangunan kini tak lagi bisa bekerja. Tidak ada lagi panggilan serta ajakan untuknya bekerja. Kondisi ini berlangsung semenjak covid-19 mewabah.
Istrinya sudah dua tahun lalu meninggal dunia karena komplikasi penyakit. Praktis, segala urusan dapur diurus sendiri oleh Dg Sampara. Ia masih harus menghidupi ketiga anaknya yang tinggal bersamanya
Di tengah kondisi perekonomian yang makin sulit saat ini, kehidupan Dg Sampara dan keluarganya kian memiriskan. Salah satu contohnya, jika sebelumnya ia masih bisa memasak menggunakan kompor, kini tak bisa lagi. Sebab kompor tersebut telah rusak, sementara Dg Sampara tak punya uang untuk memperbaikinya. Jadilah dia memasak dengan menggunakan kayu bakar.
”Rusakmi komporku kodong. Tidak bisaka beli lagi. Terpaksa pakai kayu bakarmi untuk memasak,” ujar Dg Sampara lirih ketika ditemui di gubuknya.
Diakui, bahwa beberapa hari sebelumnya sudah ada orang yang datang menemuinya. Tempat tinggalnya disurvei. Kemungkinannya untuk kepentingan pemberian bantuan bagi warga yang terdampak covid-19. Namun, hingga saat ini derma yang sangat ditunggu-tunggu Dg Sampara dan keluarganya itu tak kunjung datang.
Salah seorang tetangga bernama Lina, mengatakan kalau Dg Sampara sangat layak untuk dibantu. ”Dia bekerja sebagai buruh bangunan. Tapi karena tuami, jadi jarangmi ada yang panggilki kodong. Apalagi sekarang kondisinya seperti ini,” ujar Lina.
Kesulitan ekonomi juga dirasakan Suking. Sehari-harinya ia menjajakan rokok di pinggir jalan. Rokok dagangannya dijual per batang. Konsumennya adalah sopir angkutan umum. Dari situlah Suking mendapatkan uang untuk sekadar bertahan hidup.
Seiring dengan kondisi wabah saat ini, Suking tak lagi bisa berharap banyak dari pekerjaannya itu. Sopir yang selama ini menjadi pelanggannya sudah jarang yang beroperasi, karena sepinya penumpang.
”Saya tinggal di Jalan Maccini. Jualan rokok batangan di Jalan Bawakaraeng ini. Dari rumah pakaika sepeda. Jarangmi ada petepete sekarang, karena penumpang sepi. Tidak adami yang beli,” ujarnya sedih. (jun)
