Site icon Berita Kota Makassar

Berjalan Berkilo-kilo Hanya dapat Rp12 Ribu

TUNTUTAN hidup, membuat nenek Jumainia harus bekerja dari pagi hingga sore mengumpulkan barang bekas. Meski diusianya yang kini menginjak 83 tahun ini, ia tak peduli panas matahari ataupun hujan, bahkan kotor sekalipun ia masih saja harus terus bekerja.

Laporan: ARDHITA ANGGRAENI

Sambil merenung, Nenek Jumania bercerita bahwa tidak ada seorangpun yang bisa ia andalkan untuk memberikannya uang, sejak suaminya mengindam penyakit TBC empat tahun terakhir dirinya hanya seorang diri mencari rezeki. Dirinya mengakui mempunyai anak dua, namun anaknya pergi meninggalkannya merantau di pulau kalimantan dan satunya lagi meninggal. Kini, ia tinggal bersama suami dan satu cucu yang dititipkan kepadanya.
“Mate peka nampa-nampa tenaku a yabo-yabo (Mati pa baru tidak pergi memulung). Kalau saya tinggal di rumah, mau makan apa kodong nak, ini saja belumpika makan kodong dari pagi. Suamiku tenamo na gassing kodong, nampa nia cucuku ku meninggalmi mama na, dan bapak na pergi tidak tahu kemana,” ungkapnya kepada penulis yang ditemui di jalan Borong Bambu, Makassar.
Sambil mendorong gerobaknya ia mengumpulkan barang bekas dan sampah plastik dengan jarak yang mencapai 10 kilometer setiap harinya. Ia mulai beraktivitas pukul 06.00 pagi dari rumahnya di Tamangapa Raya berkeliling ke jalan Toddopuli, Boulevard dan Pengayoman. Penghasilan yang didapatkannya sekitar Rp8 ribu hingga Rp12 ribu setiap harinya. Tidak sedikitpun, hasil jerih payahnya ia keluhkan dan merasa cukup, penghasilan yang didapatkan harus bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari dan obat untuk suaminya.
“Asal nia ku belikan beras, sukkuru ma nak. Ku dapat kah biasa Rp8 ribu, Rp10 ribu tapi biasa tong Rp12 ribu beli beras, garam sama obat na. Rumahku jauhi, punna dulu sama ja suamiku, nampa-nampa na ini sendiri ja kah garringki, tidak ada kartu kesehatan ku, punna garringki di balla ji,” katanya.
Apa yang kini diterapkan pemerintah mengenai social distancing ataupun penyakit corona dirinya tidak mengetahui hanya mendengar dari omongan orang lain. Bantuan sejak dulupun tidak ada didapatkannya, bahkan mendapatkan jaminan kesehatan saja diirnya tidak memiliki dan ketika diirnya sakit hanya bisa berdiam diri dirumahnya yang kecil.(*)

Exit mobile version