Site icon Berita Kota Makassar

Mutu Pendikan Masih Rendah

MAKASSAR, BKM–Menjelang peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), Sabtu 2 Mei mendatang, sejumlah tanggapan dan masukan dari berbagai pihak bermunculan, baik yang menuai kritikan ataupun saran.
Mereka bahkan menilai kualitas pendidikan di Sulsel masih tegolong rendah, seperti yang diungkapkan legislator PDIP Sulsel, Rudi Pieter Goni.
Menurut RPG sapaan akrabnya, pendidikan di Sulsel memang harus bergerak cepat tapi kondisi pandemi covid-19 membuat pendidikan kita seperti kehilangan arah.
Belajar di rumah hanya seperti memberikan pekerjaan rumah (PR) kepada siswa dan murid saja.
Kata RPG, pembelajaran online atau media apa saja belum bisa mengganti metode tatap muka. Perlu formula luar biasa untuk mengakomodir keadaan luar biasa, jangan hanya seperti biasa-biasa saja.
“Untuk menilai keadaan dalam covid-19, saya tidak mampu. Karena keadaan yang membuat susah mengambil parameter pembanding,”ujar RPG, Rabu (29/4).
Koordinator Badan Anggaran (Banggar) DPRD Sulsel ini-pun menilai, peranan guru sangat penting dalam proses pendidikan ini. Belajar di rumah memperkuat posisi guru yang tak tergantikan oleh siapa pun. Tentu perhatian kita tercurahkan dikesejahteraan dan kemampuan mengajar serta hal-hal yang menunjang proses belajar dan mengajar.
“Saat ini sarana dan prasarana sekolah belum memenuhi standar. Belum lagi, keterwakilan wilayah zona. Seperti di Makassar masih ada kecamatan yang belum memiliki gedung SMA dan menimbulkan ketidakadilan.Kedepan DPRD akan menjadikan bahan ke pemerintah daerah agar dijadikan perbaikan,”pungkas RPG.
Sementara itu, legislator Partai Gerindra Sulsel, Fermina Tallulembang, juga memberikan sejumlah masukan atau saran untuk perbaikan mutu pendidikan.
Pertama, jumlah guru masih kurang dibanding murid. Sebab ada guru sampai pegang beberapa mata pelajaran. Kedua, kemampuan guru-guru belum merata, khususnya di daerah-daerah terpencil. Prasarana sekolah belum memadai, khususnya di daerah-daerah terpencil.
Termasuk belum meratanya bantuan yang turun ke sekolah-sekolah serta di daerah-daerah pelosok lebih banyak guru honorer dari pada guru. Belum lagi, gaji honorer sangat memprihatinkan.”Semoga pemerintah lebih punya perhatian untuk meningkatkan kesejahteraan tenaga guru honorer,”jelas legislator Sulsel dua periode ini.
Adapun legislator PAN Sulsel, Andi Muhammad Irfan AB, menilai, jika masih banyak masalah di dunia pendidikan kita. Sarana dan Prasarana belum memadai, kesejahteraan guru honorer belum terlaksana secara maksimal, termasuk implementasi perda wajib belajar pendidikan menengah belum terimplementasi dengan baik.
Selain legislator Sulsel, legislator DPRD Makassar juga angkat suara jelang Hardiknas.
Menurut Ketua Komisi D DPRD Makassar, Wahab Tahir, di hari pendidikan nasional tahun ini dewan memperingatkan mutu pendidikan di Kota Makassar harus ditingkatkan sesuai dengan instruksi LHP BPK. Dirinya ingin Hari Pendidikan Nasional ini harus beriringan dengan mutu dan kualitas pendidikan Kota Makassar.
“Kita berharap Hari Pendidikan Nasional ini, seluruh stakeholder pendidikan sudah bersiap untuk menerapkan K13 sebagai perantara untuk meningkatkan kualitas pendidikan kita. Karena sekarang ini kita dalam masa pandemi, saya berharap pendidikan ini semakin digencarkan pemerintah, demi menyelamatkan pendidikan anak-anak kita,” ungkapnya.
Begitupun yang dikatakan anggota DPRD Makassar, Budi Hastuti. Ia menegaskan, kesejahteraan guru saat ini sangatlah penting, uatamanya guru kontrak dan guru harian. “Guru itu penting kita perhatikan saat ini, dan yang terpenting itu adalah tenaga kontrak, rata-rata guru yang ada di sekolah itu mayoritas adalah tenaga kontrak. Makanya di tahun 2020 ini ada perhatian khusus terhadap seluruh tenaga kontrak kita maupun sukarela dapat angaran lebih,” tuturnya.
Terpisah, Ketua Umum Ikatan Guru Indonesia (IGI), M Ramli Rahim, mengatakan, peringatan Hardiknas tahun ini pasti berbeda dengan tahun sebelumnya. Saat ini bukan hanya bidang kesehatan saja yang berperan melawan masa pandemi tapi juga bidang pendidikan.
“Peringatan Hardiknas tahun ini agak berbeda dengan tahun sebelumnya. Kalau dulu kita bisa merayakan melalui upacara serta acara bermacam-macam, tapi tahun ini mungkin tidak kita lakukan. Dulu IGI, menyambut bulan pendidikan biasanya melakukan berbagai kegiatan seperti pelatihan guru dan sebagainya, tapi sekarang tidak bisa melakukan tatap muka,” ungkapnya, Rabu (29/4).
Selain itu, jelas Ramli Rahim, selama bulan Mei ini, IGI akan membuat pelatihan guru. IGI akan melibatkan sekitar 350 ribu guru se-Indonesia.”Kita harus mempersiapkan guru untuk menghadapi kemungkinan panjangnya tandem corona ini. Semua guru nantinya sudah siap menjalani program pembelajaran jarak jauh,” jelasnya.
Apalagi, tambahnya, ada beberapa kategori sikap guru yang perlu diubah, yaitu guru konservatif, dimana guru-guru memang dari dulu tidak mau berubah, sudah merasa cukup dengan apa yang mereka punya apa yang mereka miliki.(ita-rif)

Exit mobile version