MAKASSAR, BKM–Musim kemarau tahun ini diperkirakan akan menjadi mimpi buruk bagi para petani. Kurangnya ketersediaan air membuat sawah para petani mengalami gangguan.
Hal ini kemudian diperparah dengan pandemi covid-19 yang tak kunjung usai. Sehingga masalah ini berdampak terhadap ketersediaan bahan pangan.
Kepala Dinas Pertanian Sulsel, Ardin Tjatjo, membeberkan, ada tiga masalah yang dihadapi para petani saat ini, antara lain wabah corona, musim kekeringan, dan cara membangkitkan perekonomian pasca pandemi.
Dijelaskan Ardin Tjatjo, dengan adanya pandemi ini otomatis membatasi ruang gerak, transportasi, distribusi, sarana dan prasarana, hingga pemasaran. Pandemi ini berdampak ke seluruh aspek, termasuk pertanian.
Sementara dampak langsung atau wabahnya ke petani tidak ada kata Ardin, karena mereka tetap sementara menjalankan usaha taninya.
“Jadi tiga hal ini akan kita hadapi, dalam jangka pendek akan menghadapi itu. Dan optimisme kita covid akan segera berakhir,” kata Ardin Tjatjo, Kamis (7/5).
Olehnya itu, menghadapi masalah tersebut diperlukan adanya antisipasi atau solusi dari pemerintah. Yakni mitigasi dan adaptasi. Pencegahan terus dilakukan untuk mengantisipasi terjadinya kekurangan ketersediaan bahan pangan. Kata Ardin, produksi harus tetap berjalan, tidak boleh berhenti, pasalnya pertanian adalah pengaman utama dalam menghadapi masa pandemi ini.
“Dalam kondisi seperti ini kita tetap mempush petani karna diperkirakan hujan hanya sampaj bulan Juni, maka sekarang kita menyarankan melalukan penanaman dan memastikan distribusi sarana produksi sampai ke petani,” ucapnya.
Selanjutnya, pemerintah harus memastikan pendistribusian, utamanya sarana bibit, pupuk dan lainnya sampai ke petani dalam waktu singkat agar bisa menanam lebih cepat. Indeks penanaman juga harus dinaikkan, misal dari satu kali menjadi dua kali, atau dua kali menjadi tiga kali.
“Utamanya daerah-daerah yang berpengairan, itu salah satu cara sehingga mengatasi krisis pangan ditengah kondisi kekeringan. Dimana daerah berpengairan tetap ada aliran jadi kita naikkan indeks penanamannya. Caranya megeruk kanal atau saluran air yang terhambat,” ujarnya.
Ardin Tjahjo menambahkan, benih untuk bahan pokok seperti padi dan jagung telah diserahkan ke berbagai daerah di Sulsel. Untuk jagung Pemprov Sulsel telah mebdistribusi sebanyak 91 hektare.
“Ketersediaan pangan untuk padi khusus bukan April terkahir kita panen 900 ribu ton. Kalau setara beras sebanyak 500 ribu ton. Kebetulan hanya 82 ribu ton kebutuhan beras perbulan di Sulsel, berarti kita masih bisa ada stok sampai satu tahun lebih kedepan. Kalau yang lajn inshaallah cukup,” tuturnya.
Sementara itu, Prakirawan BMKG Wilayah IV Makassar, Rekun Matandung mengatakan saat ini sudah memasuki musim peralihan dari musim hujan ke kemarau.
Diperkirakan, musim kemarau di Sulsel akan mulai hadir pada awal Juni depan. Normalnya, kemarau sendiri akan berakhir tahun ini pada Oktober akhir atau November.
“Cuma tahun lalu memang kemarau kita agak panjang, sehingga meyebabkan awal musim hujannya agak mundur di Desember, biasanya kan november sdh mulai,” papar Rekun Matandung.
Meski begitu, kondisi cuaca tetap tergantung dari atmosfer yang terjadi. Misal kemarin dan hari ini terjadi konvergensi di wilayah Sulsel, sehingga ada potensi turunnya hujan.
“Kalau untuk nanti kedepan apakah kemarau akan panjang, nanti akan diupdate lagi. Karena itu harus dihitung secara statistik, jadi kita belum bisa memberikan statement begitu karena akan dikaji kembali untuk diupdate informasi selanjutnya,” pungkasnya.(nug)
