MAKASSAR, BKM — Pandemi covid-19 yang melanda saat ini telah membawa dampak yang sangat besar terhadap berbagai sektor kehidupan masyarakat. Salah satunya sektor kesehatan dan pelayanan KB.
Penyebaran virus yang sangat cepat dan sulit untuk dideteksi, menyebabkan banyak pasangan usia subur (PUS) yang ingin ber-KB menunda ke fasilitas kesehatan (faskes) karena khawatir tertular covid-19. Padahal, di masa pandemi ini kontrasepsi sangat dibutuhkan, seiring dengan meningkatnya intensitas kedekatan pasangan suami istri selama masa isolasi mandiri di rumah.
Jika kondisi ini terus berlanjut, dikhawatirkan tingkat putus pakai KB akan meningkat. Menyebabkan terjadi kehamilan tidak diinginkan (KTD), yang berujung pada fenomena baby boom atau ledakan kelahiran bayi di beberapa bulan ke depan.
Kepala Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Sulsel Hj Andi Ritamariani menyampaikan hal itu saat melepas Tim Pelayanan KB Keliling Cegah Putus Pakai Kontrasepsi di kantor BKKBN Sulsel, Jumat (8/5). Kegiatan ini dirangkai dengan Wawar Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE) Cegah COVID 19 dan Tunda Hamil di Masa Pandemi Covid-19.
Pelayanan KB Keliling ini dilaksanakan bekerja sama Perwakilan BKKBN Sulsel dengan Dinas Pengendalian Penduduk dan KB (DPPKB) Kota Makassar, serta DPC Ikatan Penyuluh Keluarga Berencana (IPeKB) Kota Makassar. Kegiatan pelayanan KB dipusatkan di dua titik, yaitu Puskesmas Dahlia Kecamatan Mariso, dan Kampung KB Kelurahan Mariso, Kota Makassar.
Dalam pelayanan tersebut berhasil terlayani sebanyak 115 akseptor. Terdiri dari implant KB sebanyak 18 akseptor, suntik 10 akseptor, pil KB 61 akseptor, dan kondom 26 akseptor.
Andi Rita menuturkan, pelayanan KB Keliling ini sebagai upaya mendekatkan pelayanan kepada masyarakat yang terdampak wabah covid-19. Di tengah pandemi seperti ini, banyak PUS ingin ber-KB namun ragu dan takut ke fasilitas kesehatan untuk memasang alat KB.
“Saya berharap melalui pelayanan KB Keliling ini, akan memudahkan masyarakat untuk mendapatkan pelayanan KB, sehingga angka putus pakai KB dapat ditekan dan kasus kehamilan yang tidak diinginkan dapat dicegah,” ujar Andi Rita.
Ia menambahkan, kegiatan pelayanan KB keliling akan rutin dilaksanakan. Tidak hanya di Kota Makassar, tetapi juga akan dikembangkan hingga ke kabupaten/kota lain. Langkah inovatif ini diambil sebagai upaya jemput bola dalam mencegah terjadinya putus pakai KB selama masa pandemi covid-19.
Guna mencegah penularan covid-19, BKKBN Sulsel telah menyalurkan sebanyak 2.200 APD. Terdiri dari 1.100 masker dan 1.100 handscoon kepada pengurus Ikatan Bidanan Indonesia (IBI) Provinsi Sulawesi Selatan untuk disalurkan kepada bidan praktik yang ada di Kota Makassar. Langkah ini diambil sebagai bentuk kepedulian kepada tenaga bidan yang merupakan garda terdepan pelayanan KB yang berhadapan langsung dengan masyarakat dan sangat mudah terpapar covid-19.
Dalam kesempatan itu, Andi Rita juga mengimbau agar PUS menunda kehamilan hingga wabah covid-19 berlalu. Imbauan ini bukan tanpa alasan. Karena ketika hamil tingkat kekebalan tubuh ibu menurun, sehingga sangat rentan perpapar penyakit. Selain itu, stres dan obat-obatan yang dikonsumsi ibu selama sakit dapat berpengaruh pada pertumbuhan dan perkembangan janin.
Kehamilan yang tidak terencana, utamanya saat usia muda, lanjut Andi Rita, akan memicu munculnya sejumlah risiko.Di antaranya bayi lahir stunting, keguguran, cacat bawaan hingga kematian ibu dan bayi. Ditambah keterbatasan sarana layanan kesehatan di masa pandemi covid-19.
Namun jika terlanjur hamil, ibu dianjurkan untuk tidak bepergian ke luar rumah selama pandemi covid-19, jika tidak ada keperluan mendesak. Meski begitu, pemeriksaan kehamilan tetap perlu dilakukan secara rutin untuk memantau kesehatan ibu hamil dan janin dengan tetap menerapkan social dan physical distancing. (rls)
