Site icon Berita Kota Makassar

Perlu Dukungan dan Motivasi Keluarga

SETIAP pelaku usaha seperti Atika Putri dan Sahnum Mayangsari pasti mengakui bahwa usaha yang pertama kali dirintisnya tidak langsung sukses. Pasti dibutuhkan dukungan dari keluarga termasuk motivasi dari teman-teman.

Laporan: ARDHITA ANGGRAENI

“Sebelum terjun di bisnis kuliner, saya sudah mencoba mi puluhan bisnis lainnya. Bahkan waktu saya resign di tempat kerja yang dulu, sudah banyak bidang usaha yang saya jalani di rumah tapi tetap gagal ki. Bisnis skin care juga begitu, sampai bisnis multilevel. Tapi apapun yang saya coba memang harus siap jatuh bangun,” ungkapnya kepada penulis.
Menurutnya, tidak ada usaha yang sukses dengan sekali berpijak. Didalamnya pasti akan dijumpai suka maupun duka, bahkan masing-masing orang pasti ada jodoh bisnisnya masing-masing.Kini omset yang didapat setiap harinya oleh Atika Putri dan Sahnum Mayangsari mencapai puluhan juta setiap bulannya. Keuntungan itu ia bagi dua dan sisanya untuk membeli keperluan usahanya.
“Sebelumnya memang tidak ada target usaha, tapi sekarang kita sudah mulai menentukan, seperti berapa porsi makanan yang bisa dihabiskan. Jadi kalaupun rugi yah cuman sedikit karena kita bisa tentukan sendiri porsinya. Intinya, jika ingin berbisnis, jangan ki takut mencoba. Jika gagal tetap harus bangkit kembali, takdir dan sumber rezeki seseorang itu beda-beda tiap orang,” bebernya.
Apalagi, kata Atika, jika usaha tersebut mendapat dukungan dari keluarga bisa lebih memotivasi usaha tersebut untuk berkembang.
Bahkan keduanya mengaku, jika selama ini usaha kulinernya bisa seperti saat ini karena dukungan suami dan anak-anaknya. Walaupun, sempat ada penolakan karena ditakutkan bisa menganggu dan bisa gagal seperti sebelumnya.
“Sempat gagal, tapi tetap memulai lagi setelah mendapat motivasi dari anak dan suami saya. Dia yang selalu bilang, ayo bisa ji itu kalau sungguh-sungguh. Sekarang fokus mi saja, ini lagi cari uang di bulan ramadan untuk baju baru anak-anak di rumah,” jelasnya.
Diketahui, kedua adik-kakak ini memutuskan menjual makanan mulai dari makanan berat hingga ringan seperti ceker pedas harga Rp10 ribu, pentol pedas Rp10 ribu, ikan goreng Rp10-15 ribu, sayur masak Rp8 ribu, pastel dan risoles harga Rp2.500/ biji, kue lumpur, kolak dan es buah harga Rp10 ribu, bubur dan berbagai macam jajanan lainnya.
“Awal mula merintis usaha ini sebenarnya karena ingin berpenghasilan dari rumah seperti ini. Sebelumnya saya adalah mantan karyawan swasta, saya resign dari kerja karena hamil dan ingin fokus mengurus keluarga. Begitu juga dengan adik, dia seorang pengajar. Tapi karena sekarang diliburkan yah sekalian bantu disini saja,” ungkapnya saat ditemui penulis di tempat jualannya di Jalan Perintis Kemerdekaan 18.
Selain menjual makanan buatannya dengan sistem pemesanan online dengan nama Dapur Shanum. Di bulan ramadan ini, ia memutuskan untuk membuka lapak di pinggir jalan sekaligus promosi usaha kulinernya.
“Kita tetap berusaha di bulan ramadan ini, meski pendapatannya juga agak menurun,” ujar lima orang bersaudara ini.
Selama bulan ramadan ia mulai berjualan pukul 15.00 wita sore dan pulang pukul 19.00 wita. Jika hari-hari biasa mereka berjualan di rumah mulai pukul 10.00 wita hingga 21.00 wita malam dengan sistem pemesanan online.
“Masak sendiri. Setiap subuh siap-siap belanja. Nanti sore jam 03.00 baru kesini. Kalau biasanya di rumah layani pemesanan gojek-grab atau antar sendiri yang dekat dengan rumah. Promosi saya hanya via sosmed, facebook dan instagram. Belum kepikiran buka tempat makan karena modal, ini hanya sekadar selingan waktu di rumah karena semua yang kerja saya berdua saja,” jelasnya.(*)

Exit mobile version