MAKASSAR, BKM–Pemerintah Kota Makassar terkesan sudah kehabisan formula untuk mengatasi keberadaan anak jalanan, gelandangan serta pengemis yang masuk ke Kota Makassar. Urbanisasi anjal dan gepeng dari kabupaten tetangga tak bisa terbendung di bulan ramadan ini.
Padahal, kota ini dalam penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).
Pantauan BKM di hari ke 18 ramadan, Selasa (12/5), keberadaan gepeng dan anjal di berbagai sudut jalan terus berdatangan.Terutama di jalan-jalan protokol. Mereka mengabaikan social dan physical distancing.
Selain membawa karung, cukup banyak juga yang membawa gerobak. Bahkan mereka kadang bergerombol di sudut-sudut jalan sambil membawa anak-anak kecil.
Sementara anjal lainnya, memanfaatkan lampu merah untuk meminta uang ke pengendara yang tinggal.
Mereka menunggu sedekah dari dermawan yang lewat, bahkan terkadang juga keberadaan mereka sangat menganggu pengguna jalan.
“Ini fenomena yang banyak muuncul di PSBB ini banyak gelandangan, pengemis tumbuh berjamur tiba-tiba,” kata Kepala Satpol PP Makassar, Iman Hud.
Dia mengatakan, pihaknya sudah mengamankan puluhan pengemis sampai saat ini. Terbanyak yang ditemukan yakni di wilayah Kecamatan Ujung Pandang dan Kecamatan Wajo.
“Saya razia sudah puluhan dan ini ada di depan mata kita,” tambahnya.
Iman Hud menerangkan para pengemis tersebut umumnya berkumpul di satu titik yang menjadi lokasi pembagian sembako ataupun sedekah lainnya.
“Mereka sudah tahu titik-titik mana yang sering ada orang bagi-bagi sembako makanya mereka kumpul di situ, jadi saya imbau masyarakat jangan bagikan langsung ke jalan karena kalau mereka tahu dititik itu akan lagi muncul,” tutupnya.
Keberadaan mereka di sejumlah titik itu pun sudah diketahui pihak Dinas Sosial Kota Makassar jauh hari. Untuk itu, pihaknya akan melibatkan tim terpadu.
Tim terpadu Dinas Sosial Kota Makassar yang terdiri dari anggota Polri, Satpol PP, TRC Saribattang, dan beberapa anggota tim rutin melakukan patroli gepeng dan anak jaanan.
Kepala Dinas Sosial kota Makassar, Mukhtar Tahir mengatakan bahkan ada titik kumpul baru bagi para gepeng yang belum terjangkau, baik pada hari biasa maupun pada hari-hari raya.
“Di beberapa titik memang masih ada. Bahkan meski kita sudah sering melakukan patroli tetap saja ada yang didapat,” ujar Mukhtar.
Ia berharap kepada masyarakat, untuk ikut berperan dalam mengurangi gepeng di kota Makassar. Utamanya pada titik-titk yang sulit dijangkau oleh Dinsos.
“Kami membutuhkan partisipasi masyarakat, pada titik yang dimaksud supaya bisa ditertibkan,” jelasnya.
Diketahui, sehari sebelumnya, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Makassar, menegaskan, jika masalah anjal dan gepeng adalah masalah klasik yang harus dituntaskan Pemerintah Kota Makassar.
Menurut anggota DPRD Makassar, Hamzah Hamid, pemkot tidak punya wadah untuk menampung gepeng dan anjal setelah dirazia. Hal inilah yang masih menjadi catatan buruk Pemkot Makassar dalam menindaki persoalan tersebut.
“Bagaimana yah, susah juga karena habis dirazia turun ji lagi, karena itu mi mata pencariannya dan pemkot tidak bisa wadahi itu. Apalagi bulan ramadan dan di tengah wabah virus corona. Ini yang harus dipikirkan pemkot,” ungkapnya.(rhm)
