Site icon Berita Kota Makassar

Pemda Maros Siap Laksanakan New Normal

MAROS, BKM — Pemerintah pusat melalui Kementerian Kesehatan Republik Indonesia resmi menerbitkan protokol New Normal bagi perkantoran dan industri dalam menghadapi pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia.
Menanggapi hal itu, Bupati Maros, HM Hatta Rahman, mengatakan, Kabupaten Maros juga akan bersiap untuk melaksanakan new normal sesuai peraturan yang diterapkan pemerintah pusat.
”Kita akan siapkan surat edaran protokol Covid sesuai edaran Menkes dan Mendagri. Jika berdasarkan surat edaran itu seluruh pusat ekonomi sudah bisa dibuka, maka akan kami buka. Tapi tentu harus mengikuti aturan baru yang dilakukan, seperti warga diminta untuk menaati protokol Covid-19, seperti cuci tangan, lakukan physical distancing, dan menggunakan masker di tempat umum,” bebernya kepada wartawan saat ditemui di ruang kerjanya.
Saat ini, kata Hatta, warga Maros sudah mulai terbiasa menerapkan protokol Covid dengan menggunakan masker. ”Yang kita harapkan dari new normal ya itu tadi, memulai tapi dengan protokol kesehatan. Maka dari itu, kita lihat dimana dulu yang dibolehkan untuk dibuka. Kita juga ingin melihat bagaimana Makassar menerapkan new normal ini,” ujarnya.
Lebih lanjut Hatta mengatakan, di Kabupaten Maros pasien positif Covid-19 sudah banyak yang telah dinyatakan sembuh. ”Kami juga sudah berkoordinasi dengan puskesmas-puskesmas di zona merah, kami dapat kabar kalau saat ini jumlah pasien yang sembuh sudah mencapai 35 orang. Ini sudah lebih 50 persen yang sembuh. Jadi kita tetap optimis kalau Maros bisa terbebas dari Covid ini,” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Pariwisata Dinas Pariwisata Yusriadi menambahkan, terkait pemberlakuan new normal tersebut, pihaknya juga akan mulai perlahan-lahan membuka sejumlah lokasi pariwisata di Maros. Di antaranya Rammang-rammang dan Bantimurung. Pihaknya tinggal menunggu Perbup tentang new normal dikeluarkan.
”Kita memang sudah tutup sejak dua bulan lalu, sejak pertama kali dilakukannya pelarangan orang berkumpul. Dengan seperti itu otomatis, sekitar 180 pedagang di Bantimurung tidak lagi menjual. Banyal dari mereka yang mulai berkeinginan untuk menjual kembali, karena modal mereka sudah habis selama tidak lagi bekerja,” pungkasnya. (ari/mir/c)

Exit mobile version