Site icon Berita Kota Makassar

Anak Gizi Buruk, Orangtua Berutang untuk Bayar BPJS

SINJAI, BKM — Di sebuah ruangan perawatan anak Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Sinjai, Minggu (7/6). Seorang bayi berbaring lemas tak berdaya di atas pembaringan.
Kondisinya teramat memprihatinkan. Di lengannya terpasang infus. Ada pula selang oksigen sebagai bantuan pernapasan. Satu selang lainnya dipakai untuk memasukkan cairan susu ke dalam tubuh sang bayi.
Di dekatnya duduk seorang wanita, ibu dari bayi itu. Mengenakan hijab hitam, masker berwarna senada, serta daster. Ia menemani buah hatinya yang tengah dirawat.
Perempuan itu bernama Andi Suriani. Bayi yang ia jaga namanya Sulfikar. Usianya baru empat bulan lebih. Oleh dokter RSUD Sinjai, bocah malang itu didiagnosa mengalami gizi buruk dan sesak napas atau community acquired pneumonia (CAP).
Tak hanya itu. Sulfikar juga mengalami hernia scrotalis atau yang lebih dikenal dengan sebutan turun berok.
Dari penuturan ibunya, Sulfikar merupakan anak keenam. Bungsu dari pasangan Andi Suriani dan Andi Haris ini lahir 2 Februari 2020. Mereka adalah warga Desa Maddanrengpulu, Kecamatan Patimpeng, Kabupaten Bone. Orangtua membawanya ke RSUD Sinjai, Senin (1/6) setelah kondisinya kian memburuk.
Sebelum dibawa ke RS, Sulfikar hanya bisa menangis. Ia enggan minum susu. Hal ini membuat kondisi fisiknya semakin menurun. Kulitnya pun berkeriput, hingga tampak tulang rusuknya. Di bagian bawah perutnya nampak membuncit.
Padahal, menurut pengakuan Suriani, anaknya itu terlahir dalam kondisi normal. Demikian pula berat badannya. Namun akibat penyakit yang dideritanya, kini berat badannya jauh dari ideal di usia perkembangan bayi.
Dijelaskan Suriani, ia memiliki enam orang anak. Yang masih hidup kini tinggal tiga orang. Satu keguguran, dan dua lainnya meninggal dengan kondisi serta gejala serupa yang saat ini dialami Sulfikar.
Anak sulung yang hidup berjenis kelamin perempuan berusia 15 tahun, kini menempuh pendidikan di pondok pesentren. Anak keempat berjenis kelamin laki-laki, serta terakhir Sulfikar.
Kisah miris keluarga ini tak berhenti sampai di situ. Sebelum akhirnya memutuskan untuk membawa Sulfikar berobat ke RS, ternyata BPJS KIS miliknya terblokir tanpa sebab yang diketahuinya. Itu berlangsung sejak dia melahirkan pada Februari 2020.
Namun, Suriani tak tinggal diam. Di bulan Maret lalu, ia bersama suaminya mengurus BPJS mandiri. Namun, ketika membawa Sulfikar ke RS, persoalan baru muncul. Ternyata pembayaran BPJS mereka tertunggak. Akhirnya, pasangan ini pun mencari pinjaman uang untuk membayar tunggakan tersebut.
”Setelah melahirkan bulan Februari lalu, BPJS KIS saya, suami dan anak-anak saya terblokir. Kami tidak tahu apa sebabnya. Itu kami ketahui di bulan Maret 2020 lalu, ketika anak saya ini menampakkan gejala seperti kakak-kakaknya yang telah meninggal dunia. Rencananya saya mau bawa berobat ke RS di Kabupaten Bone,” tuturnya dengan nada tertahan.
Dia pun kemudian meminta tolong kepada seseorang untuk mengeceknya. Dari situlah Suriani mengetahui BPJS KIS miliknya diblokir dan tak lagi bisa digunakan.
”Saya kasihan melihat anak saya yang sakit. Saya lalu mengajak suami untuk mengurus BPJS mandiri. Itu pada bulan Maret. Setelah itu kami menunggak,” imbuhnya.
Akibarnya, ketika membawa Sulfikar ke RSUD Sinjai, BPJS mandiri keluarga ini kembali tak bisa dimanfaatkan. Saran yang didapatnya, mereka mesti membayar tunggakan untuk bisa menggunakannya kembali. Itu pun bagi anaknya yang sakit. ”Jadi kami mengutang di kampung untuk membayar satu orang saja,” ujarnya, kini disertai isakan dan air mata.
Ketika ditanya mengapa memilih membawa anaknya ke RSUD Sinjai bukan di RSUD Bone, Suriani menjawab dengan nasa sedih. ”Jarak ke sini (RSUD Sinjai) lebih dekat. Kalau ke kota (Bone) sangat jauh. Kami juga tak punya biaya,” imbuhnya.
Suriani mengaku suaminya hanya bekerja serabutan dan tidak mempunyai penghasilan tetap. Walau tercatat sebagai penerima bantuan PKH, ia sangat berharap uluran tangan dermawan serta Pemkab Bone dalam meringankan beban hidup keluarganya.
”Bapaknya biasanya bekerja kalau ada yang panggil. Pendapatannya Rp2 juta selama lima bulan. Kadang per bulannya tidak ada sama sekali. Harapan saya, ada dermawan atau dari Pemkab Bone bisa membantu meringankan beban kami,” harapnya.
Pihak RSUD Sinjai menyatakan telah memberikan pelayanan maksimal kepada bayi penderita gizi buruk ini. Sulfikar ditangani dua dokter ahli sekaligus, yakni dokter anak dan dan ahli gizi.
“Pasien telah ditangani dua dokter ahli sekaligus, yakni ahli anak dan ahli gizi. Kini kondisinya sudah agak membaik dari sebelumnya,” kata dr Emmy Kartahara Malik, Kepala Bidang Pelayanan dan Keperawatan RSUD Sinjai, kemarin. (din/b)

Exit mobile version