Site icon Berita Kota Makassar

UNM Tawarkan Konsep Pembelajaraan di New Normal

MAKASSAR, BKM–Fakultas Psikologi Universitas Negeri Makassar menawarkan konsep pembelajaran di era new normal atau tatanan hidup baru. Konsep itu tidak saja mencakup pembelajaran jarak jauh atau pembelajan virtual, tetapi juga pembelajaran tatap muka.
Konsep pembelajaran new normal ini terungkap dalam webinar nasional yang diselenggarakan Fakultas Psikologi UNM, Sabtu (6/6).
Webinar yang digelar dalam rangkaian hari ulang tahun ke-20 Psikologi dan dies natalis ke-59 Universitas Negeri Makassar itu menghadirkan sejumlah narasumber. Di antaranya Dekan Psikologi UNM, Prof Dr Muhammad Jufri, anggota Komisi X DPR RI, Hj Ledia Hanafi Amaliah, Ketua Asosiasi Psikologi Pendidikan Indonesia Wilayah Sulawesi, Eva Meizara Puspita Dewi, dan Kepala SMA Islam Athirah Makassar, Tawakkal Kahar.
Prof Muhammad Jufri, mengatakan, ada beberapa hal yang mesti diperhatikan dalam pembelajaran di era normal. Point penting itu antara lain menjaga kesehatan peserta didik dan tenaga pengajar (biopsiko sosial), kolaborasi guru dan orang tua, meningkatkan kreativitas guru, dan enjoy menghadapi pembelajaran jarak jauh.
Jufri juga menambahkan, sedikitnya ada lima kunci utama yang menjadi penentu sukses dan berkualitasnya pembelajaran di era new normal kelak. Kelima kata kunci itu adalah flexibility (fleksibilitas), inovasi, kecepatan, integrasi, kreativitas, dan pemanfaataan teknologi. Kelima elemen ini mesti dipadukan dalam menghadirkan konsep pembelajaran new normal.
“Jika pembelajarannya tatap muka, tentu konsepnya juga tidak sama lagi dengan pembelajaran tatap muka selama ini. Minimal jumlah peserta didiknya dibatasi, menjaga jarak antarsesama siswa, dan menggunakan masker serta protocol kesehatan lainnya,” kata Jufri.
Anggota Komisi X DPR RI, Hj Ledia Hanafi juga sependapat dengan pandangan Prof Jufri. Ia mengatakan memang pembelajaran di era new normal kelak mengalamai banyak perubahan. Salah satunya tanggung jawab pendidikan tidak lagi sepenuhnya diberikan kepada guru dan sekolah. Di tengah pembelajaran jarak jauh, kata dia, tanggung jawab pendidikan juga ada pada orang tua.
“Jadi tanggung jawab pendidikan tidak lagi sepenuhnya diserahkan kepada guru dan sekolah. Orang tua juga ikut bertanggung jawab karena pembelajaran berlangsung di rumah siswa masing-masing,” katanya.
Eva Meizara dan Tawakkal Kahar juga memberi pandangan sama. Keduanya mengatakan pembelajaran jarak jauh di new normal kelak mesti dilakukan seenjoy mungkin sehingga menyenangkan bagi semua. Menyenangkan bagi guru, siswa, dan orang tua siswa.
Fleksibilitas mesti dikedepankan dalam mewujudkan pembelajaraan menyenangkan di era new normal ini. Fleksibilitas diwujudkan antara lain tidak boleh memaksakan siswa dan guru sepenuhnya menggunakan kuota dan jaringan internet. Alasannya, tidak semua siswa memiliki kemampuan mengakses internet secara baik. Di beberapa kampus, kata Eva, banyak mahasiswa yang terpaksa harus mencari tempat ketinggian agar bisa mengakses internet.
“Guru-guru juga harus mengembangkan kapasitasnya terutama dalam memanfaatkan teknologi informasi sebagai media pembelajaran. Harus diakui masih banyak guru yang masih telat pemahaman teknologinya,” kata Tawakkal. (*)

Exit mobile version