Site icon Berita Kota Makassar

Menembus Luapan Air Sambil Gendong Bayi 10 Bulan

BANJIR bandang yang menerjang kota Bantaeng dan sekitarnya, Jumat malam (12/6), menyisakan banyak cerita bagi warga yang terdampak. Ada yang panik dan berteriak Allahu Akbar. Ada pula yang pasrah menyaksikan air berlumpur menggenangi rumahnya.

ASRI (40) misalnya, Warga Lorong Sunyi Garegea, Kelurahan Tappanjeng, Kecamatan Bantaeng yang ditemui Senin (15/6), mengaku pasrah melihat air berwarna kecokelatan menggenangi lantai rumahnya yang terbuat dari tegel keramik. Dia mengumpulkan sanak keluarganya untuk mengungsi ke rumah kakaknya yang bersebelahan dengan rumahnya. Kebetulan pondasi rumahnya lebih dari satu meter tingginya dari permukaan tanah.
Asri membiarkan harta bendanya terapung-apung dan terhempas dipermainkan air keruh. Ia memilih lebih mengutamakan keselamatan keluarganya. Tiga unit kulkas besar dan sofa di ruang tamu dan ruang keluarga terendam setinggi 50 centimeter.
Berbeda dengan Asri, satu keluarga di Jalan Bakri, Kelurahan Bonto Rita, Kecamatan Bissappu, mengisahkan pengalamannya ketika rumah panggung semi permanen miliknya diterjang banjir, yang mengakibatkan dinding tembok bagian timur rubuh.
Dia adalah Rosdiana (45), tinggal bersama suami dan enam orang anaknya, terdiri dari lima perempuan, satu laki-laki. Seperti biasa, kata dia, setiap menjelang senja menghilang, keluarganya berkumpul. Di malam bencana itu, usai menunaikan kewajiban sebagai umat Islam, yakni salat Magrib, Rosdiana dibantu puterinya mempersiapkan hidangan makan malam.
Di tengah derasnya curah hujan, sayup-sayup terdengar teriakan banjir. Dia, suami dan anak-anaknya tak menggubris teriakan tersebut. Rosdiana menganggap sebagai hal yang biasa karena di pemukiman ini sudah akrab dengan banjir.

Rosdiana dan keluarga tersentak setelah sejumlah warga berteriak keras di depan rumahnya. Mereka meminta penghuni rumah untuk segera mengungsi ke tempat yang lebih aman.
Sejurus kemudian, Rosdiana menggendong bayinya yang baru berusia 10 bulan. “Anak saya satu-satunya laki-laki saya gendong. Suami saya menggandeng kelima puteri saya,” tuturnya.
Rosdiana dan keluarganya lalu menuju tangga sambil bergandengan tangan. Sementara warga yang datang memberikan pertolongan menaiki anak tangga membantu keluarga ini menembus luapan air yang sudah mencapai dada orang dewasa.
Rosdiana dan keluarganya meninggalkan rumah hanya dengan pakaian yang melekat di badan. Dia tidak sempat lagi mengambil lembaran pakaian dan harta benda lainnya karena arus air semakin deras dan kian meninggi.
Keluarga Rosdiana dievakuasi ke rumah kerabatnya di pasar tua (eks pasar sentral Bantaeng) yang berjarak 500 meter dari rumahhya. “Kebetulan rumah keluarga saya di pasar tua hanya terendam setinggi mata kaki,” ujarnya.
Mirisnya, kata Rosdiana, sejak peristiwa Jumat malam, baru hari ini (Senin, 15/6) dapat bantuan dari kelurahan. “Nanti hari ketiga setelah banjir baru ada bantuan berupa air mineral dan mie instan dari kelurahan,” ucapnya.
Rosdiana juga mengaku tidak mendapat pasokan nasi dos yang dibagikan. “Bukan kami saja. Tapi umumnya warga Jalan Bakri minim tersentuh bantuan dan jarang mendapat suplai makanan. Buktinya, selain putera kami, seharusnya dijatah nasi tujuh dos, tapi kami hanya dapat satu dos”, ucapnya.
Korban banjir lainnya, Hasma, warga Jalan Manggis mengatakan, usai salat magrib dia mendengar teriakan banjir. Ia lalu mengintip lewat jendela rumahnya, yang pada saat itu lampu PLN padam.
Belum lagi Hasma beranjak dari lantai dasar rumahnya karena suasana gelap, teriakan orang-orang tidak jelas di telinganya karena terhalang derasnya suara air hujan. Tak berselang lama, air berlumpur masuk di ruang tamu dan mengombang-ambingkan kursi dan perabot lainnya.
Sama dengan kebanyakan warga lainnya, Hasma memilih menuju lantai dua rumahnya dan membiarkan perabotannya terendam. (wam/b)

Exit mobile version