Site icon Berita Kota Makassar

Pemkot Rencana Buat New Normal Berbasis Lokal

MAKASSAR, BKM–Saat ini sejumlah provinsi di Indonesia mulai melakukan perencanaan matang untuk memberlakukan tatanan baru atau kehidupan baru di masa pandemi covid-19 ini.
Bahkan, Provinsi Sulsel-pun tak mau kalah. Pemprov Sulsel ingin sekali menerapkan tatanan baru dengan alasan kondisi ekonomi yang sudah semakin terpuruk. Bahkan Kota Makassar sebagai episentrum penyebaran covid di Sulsel sudah merencanakan untuk membuat new normal berbasis lokal.
Hanya saja, semakin hari, melihat kondisi dan perkembangan covid di Sulsel tidak menunjukkan bahwa kasus sudah melandai, justru terjadi peningkatan yang signifikan per harinya, mencapai 100 hingga menghampiri 200 kasus. Posisi Sulsel saat ini berada di peringkat tiga nasional, berhasil melambung Jawa Barat, di bawah DKI Jakarta dan Jawa Timur.
Gubernur Sulawesi Selatan, Nurdin Abdullah justru menganggap peningkatan yang sangat signifikan ini ialah awal dari pertanda baik. Menurutnya, lonjakan kasus yang terjadi beberapa hari terakhir ini merupakan buah dari kerja keras gugus tugas dan tenaga medis yang terus aktif melalukan testing kepada masyarakat yang diduga terinfeksi covid-19.
Adanya testing yang sangat massif juga dipicu dengan massifnya tim gugus tugas melakukan tracing kontak. Dimana seluruh pasien yang pernah melakukan kontak atau interkasi menjadi prioritas untuk diperiksa kesehatannya.
“Trend kenaikan ini mudah-mudahan sebagai pertanda baik bahwa semakin aktif kita melalukan tracking kontak, semakin aktif melakukan testing baik rapid atau PCR kedepan akan cukup menekan pertambahan kasus di Sulsel,” terang Nurdin Abdullah.
Nurdin mengembahkan, masyarakat yang telah ditemukan melakui hasil tracking contact di karantina atau diikutkan program wisata covid di beberapa hotel yang telah dijajaki bekerjasama dengan pemerintah.
“Setelah kita temukan, kita karantina mereka, terutama yang terpapar Covid-19 tapi tanpa gejala. Ini tentu dapat memutus potensi penyebaran yang lebih luas,” kata Nurdin di Makassar.
Sesuai kajian dan analisa dari tim ahli Fakultas Kesehatan Masyarakat, Nudin mengaku, puncak pandemi di Sulsel akan terjadi pada akhir Juni mendatang. Ada empat wilayah yang menjadi episentrum penyebaran dengan kasus yang tinggi, ialah Kota Makassar, Kabupaten Luwu Timur, Kabupaten Gowa, dan Kabupaten Maros.
“Mari doakan dan terus memberi semangat kepada tenaga medis, gugus tugas agar apa yang dilakukan bisa membuahkan hasil yang baik,” harapnya.
Sebelumnya, Nurdin juga pernah menyampaikan salah satu faktor terus meningkatnya kasus di Kota Makassar lantaran adanya pelonggaran kebijakan yang dilakukan oleh Penjabat Wali Kota Makassar yang baru, yakni Yusran Jusuf. Menurut Nurdin, Yusran telah mengeluarkan kebijakan tanpa koordinasi dengan dirinya selaku Guburnur.
Sementara itu, Humas Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Makassar, Wachyudi Muchsin menilai, perlu adanya pembatasan sosial berskala besar (PSBB) lanjutan atau tahap ketiga untuk meminimalisir dan menekan penyebaran virus.
Wacana new normal betul-betul membuat masyarakat semakin tidak patuh terhadap kebijakan pemerintah dengan menerapkan protokol kesehatan yang ada. Apalagi tidak ada pedoman sanksi yang jelas jika warga tidak menerapkan protokol kesehatan tersebut.
“PSBB pertama menurut saya lumayanlah, PSBB kedua mulai dilonggarkan. Itu yang menurut saya perlu ditingkatkan lagi PSBB. Kalau menurut saya PSBB itu tetap dibikin. Cuma hal-hal yang bisa dilonggarkan dengan protap kesehatan COVID-19 yang ketat,” ucapnya.(nug)

Exit mobile version