ADANYA pandemi covid-19 menjadi ketakutan tersendiri dari warga kota yang sewaktu-waktu bisa menjangkiti mereka. Hanya saja, di satu sisi keberadaan virus kecil ini juga memunculkan suka duka tersendiri bagi pedagang, khususnya pedagang masker seperti Takding.
Laporan: FACHRUL AWALIL ILMI MAHMUD
Awalnya sebelum merebak covid-19, Takding membantu kakaknya berjualan baju, khususnya baju laki-laki. Namun setelah pandemi penyakit mematikan itu, ia mengalihkan dagangannya menjadi alat pelindung diri yakni masker kain.
Anjuran pemerintah untuk menggunakan masker bagi warga yang keluar rumah ternyata dipandang sebagai peluang usaha oleh Takding. Ia mengaku biasa menjajakan dagangannya keliling ke tempat-tempat umum.
“Dulu sebelum corona sebenarnya saya juga sudah jualan bantu kakak. Tapi karena ada peluang jual masker, akhirnya saya menjual masker,” katanya saat ditemui penulis di sela-sela menjual barang dagangannya, kemarin.
Permulaan ia menjual masker kain hanya 20 buah jumlahnya. Namun sekarang ia berani membawa ratusan masker kain.
“Saya mulai menjual persis Pemerintah Kota Makassar menetapkan penerapan Pembatasan Sosial Beskala Besar (PSBB). Meski saat itu dirinya takut juga sama virus. Belum lagi, sempat ditegur dan ditertibkan oleh dinas sosial dan satpol PP untuk tidak menjual dulu,” ujar Takding.
Masker yang iya jual dengan harga kisaran Rp5.000 sampai Rp20.000 ribu rupiah per masker, dari penjualan masker ini ia dapat menghasilkan keuntungan Rp80.000 sampai Rp100.000 perhari.
Dengan penghasil seperti itu iya dengan kakaknya Alif (32) yang juga berjualan masker dan pakaian bisa membantu prekonomian keluarganya agar tetap bisa bertahan hidup.”Saya dan kakak saya juga menjual masker tapi kakak saya menjual di aerah Sudiange dan saya di Perintis Kemerdekaan,” lanjut Takding.(*)
