Site icon Berita Kota Makassar

Berjalan Kaki Puluhan Kilometer Antar Paket Tugas

PAHLAWAN tanpa tanda jasa patutlah disematkan kepada para guru. Mereka bekerja tanpa kenal lelah, serta risiko yang bakal dihadapi. Tak terkecuali di tengah pandemi covid-19 saat ini.

GURU di Kecamatan Tinggimocong, Kabupaten Gowa rela menyusuri lereng gunung untuk mengantarkan paket tugas sekolah bagi anak didiknya. Mereka mendatangi rumah para peserta didik yang berada jauh di dusun terpencil dalam wilayah pegunungan Tinggimocong. Aksi ini bukan hanya dilakukan oleh guru SD, tapi juga pengajar dari jenjang SMP.
Kecamatan Tinggimoncong merupakan salah satu daerah dataran tinggi Kabupaten Gowa yang kondisi wilayahnya cukup ekstrem. Khususnya di luar kawasan ibu kota Tinggimoncong, yakni kota Malino.
Selain banyak hutan, medannya pun terjal. Kesulitan terbesar bagi masyarakat serta kalangan pendidik di wilayah ini adalah jalanan yang mengantarai satu kampung dengan kampung lainnya. Jauh dan berkelok-kelok.
Di Tinggimoncong terdapat 25 Sekolah Dasar (SD) dan enam Sekolah Menengah Pertama (SMP). Namun, tidak semua sekolah ini berada dalam kota Malino. Letaknya terpisah dan terbagi ke desa-desa.
Memang sekolahnya di wilayah kawasan desa, tapi tidak semua murid dan siswanya tinggal dalam wilayah desa yang agak ramai. Banyak pelajar SMP dan SD yang tinggalnya jauh dari sekolah, bahkan belasan hingga puluhan kilometer. Ada yang malah tinggalnya berkisar 30 kilometer dari ibu kota Malino. Sangat terpencil dan tak terjangkau jaringan telepon.
Di masa pandemi covid-19 saat ini, semua aktivitas pembelajaran tidak dilakukan di sekolah, melainkan di rumah. Akibatnya, para siswa belajarnya dari rumah dan menggunakan sistem daring dengan menggunakan gawai.
Penggunaan telepon memang sudah merata di tengah masyarakat, mulai dari yang kaya hingga prasejahterah sekalipun. Namun bedanya, ada yang android, ada yang tidak. Kondisi ini berdampak pada sebagian besar dari pelajar kesulitan mengakses bahan ajar. Termasuk tugas-tugas dari gurunya melalui layanan daring.
Karenanya, pihak Korwil Dinas Pendidikan Kecamatan Tinggimoncong melakukan upaya pembelajaran dengan sistem luring (luar jaringan). Ini diperuntukkan bagi para siswa yang tidak memiliki gawai dengan fasilitas android.
Dengan keikhlasan tinggi demi mencerdaskan anak bangsa, sebagian besar guru harus menemui langsung atau mengantarkan langsung bahan pelajaran, serta tugas-tugas sekolahan untuk murid dan siswanya.
Seperti dilakukan para guru di wilayah desa terjauh dari ibu kota. Antara lain SDI Patuku dan SMP Satu Atap Mandalle. Para guru dari dua sekolah ini harus menyasar tempat tinggal anak didiknya.
Lokasi mereka sangat terpencil dan cukup jauh dari sekolah. Jarak rumah murid SDI Patuku serta siswa SMP Satap Mandalle dari sekolah masing-masing berkisar 30 kilometer. Jalan menuju rumah mereka tidak beraspal. Medannya terjal, sebab berada di lembah dan ngarai.
Korwil Disdik Kecamatan Tinggimoncong Amran Azis, mengatakan banyak guru di wilayah kerjanya yang harus mendatangi rumah anak didiknya untuk menyerahkan tugas-tuga sekolah yang harus dikerjakan. Kondisi medan yang tak bersahabat, menurut Amran, harus dilalui. Wilayah mereka sulit dijangkau dengan kendaraan roda dua, apalagi roda empat.
”Jadi terpaksa harus berjalan kaki. Belum lagi kalau hujan mengguyur, dengan segala risiko rawan longsor. Namun semua itu harus dihadapi para guru, agar anak-anak didik kita dapat tetap menjalankan aktivitasnya belajar dan tidak ketinggalan pelajaran,” ujera Amran, Senin siang (15/6).
Menurut Amran, semua guru terlibat dalam pendistribusian paket tugas mandiri. Dari keseluruhan sekolah, dan jarak terjauh adalah SDI Patuku serta SD-SMP Satap Mandalle di Desa Mandalle. Terletak di perbatasan Kabupaten Gowa dengan Maros. Jaraknya dari kota Malino kurang lebih 30 Km.
“Kalau mau ke sekolah Satap dan SDI Patulu, kita harus menempuhnya dengan jalan kaki. Medannya cukup berat. Apalagi musim hujan begini,” terangnya.
Dalam pembelajaran jarak jauh (PJJ), terdata ada sekitar 2.300-an murid/siswa yang mengikutinya. Prosesnya dibagi dua. Ada yang daring, sebagian luring.
”Kalau untuk yang daring, kami layani agak mudah karena menggunakan android. Sementara yang luring harus kita datangi rumahnya satu persatu,” jelas Amran.
Dari hasil deteksi para wali kelas, tambah Amran, hanya sekitar 20-an siswa yang bisa daring karena memiliki gawai android, jaringan internetnya ada, serta memiliki kuota. Sementara selebihnya melaksanakannya secara luring. Hasil PJJ daring dan luring ini dipantau dan dikawal langsung para pengawas SD dan kepala sekolah.
“Memang lumayan berat. Guru harus menelusuri jalan kampung menuju rumah anak didiknya. Guru kami mendatangi siswa dari rumah ke rumah menyerahkan paket tugas mandiri. Bisa dibayangkan betapa letihnya para guru kita berjalan menunaikan tugas mulia ini. Tapi mereka tak kenal lelah. Letih memang, tapi untuk mengeluh mereka ganti dengan rasa syukur sebab bisa berbuat yang terbaik agar para anak didik tidak ketinggalan mata pelajaran,” jelas Amran.
Fatmawati, salah satu guru SDI Patuku, mengatakan pengantaran paket tugas sekolah kepada masing-masing muridnya sudah menjadi tugas dan kewajibannya.
“Memang kalau mau berpikir pendek, pastilah kita enggan untuk berjalan berkilo-kilometer jauhnya dengan medal yang terjal. Tapi ini tugas dan tanggung jawab kami sebagai guru. Tidak boleh kita kesampingkan. Harapan kami bagaimana anak-anak kami bisa tetap belajar di rumah masing-masing dengan baik. Itu saja,” ungkap Fatmawati.
Hal senada dikatakan Muh Asmin, gurus yang mengajar di Sekolah Satap Mandalle. “Apa yang kami lakukan ini semata-mata adalah tanggung jawab sebagai guru. Anak-anak harus bisa belajar dengan baik di rumah. Harapan kami juga, semoga pandemi covid-19 ini segera berlalu dan anak-anak bisa kembali belajar di sekolah,” imbuh Muh Asmin. (sar)

Exit mobile version