MAKASSAR, BKM — Jumlah kasus covid-19 di Sulawesi Selatan terus mengalami peningkatan signifikan. Kondisi ini menuntut tenaga medis untuk bekerja lebih ekstra. Namun, di tengah pandemi yang harus mereka hadapi, tidak sedikit para nakes yang malah terpapar virus.
Bahkan, Rumah Sakit Universitas Hasanuddin (RS Unhas) disebutkan telah mengalami krisis nakes. Khususnya yang bertugas di IGD ruang isolasi. Sebab puluhan paramedis positif terinfeksi corona.
Humas Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kota Makasar Wachyudi Muhsin, mengakui jika gelombang pasien positif di Sulsel, khususnya Makassar semakin banyak, sementara jumlah nakes mulai terbatas. Bagaimana tidak, banyak dari mereka yang sudah terinfeksi, baik dokter, perawat maupun pekerja RS lainnya.
“Selama ini satu dokter menangani dua pasien. Sekarang bisa dikatakan sampai 100 ditangani satu orang dokter. sekuat-kuatnya seorang dokter, pasti kena juga kalau gelombang positif lebih besar sekali,” kata Yudi, sapaan Wahyudi, kemarin.
Sejauh ini, pihaknya masih melakukan pendataan terhadap dokter yang positif covid-19. Namun ia memprediksi jika digabungkan dengan nakes dan dokter, jumlahnya melebihi 100 orang yang terkonfirmasi positif di Sulsel.
Selain itu, terbatasnya alat pelindung diri (APD) masih menjadi masalah klasik rumah sakit. Dokter diminta untuk melakukan pelayanan dan penanganan maksimal kepada pasien, sementara mereka tidak dibekali dengan peralatan yang memadai. Karenanya, banyak nakes yang tumbang karena minimnya dukungan fasilitas serta APD.
Sepatutnya, menurut Yudi, pemerintah memperbaiki fasilitas kesehatan, menyuplai gizi yang baik bagi tenaga medis. Ia juga menyarankan agar pemerintah tidak perlu melakukan pergerakan-pergerakan tanpa bola. Rumah sakit beserta tenaga medisnya sebagai benteng terkahir harus diperkuat.
“Sekarang saatnya pemerintah hadir untuk memberi solusi bagaimana supaya fasilitas rumah sakit lebih dimaksimalkan. Tidak perlu membuat pergerakan-pergerakan yang tidak perlu. Pemerintah dengan elemen yang lain harus kompak, tidak pakai egosentris. Harus fokus ke lokus persoalannya,” ucapnya.
“Janganmilah terlalu canggih, buat wisata covid dan sebagainya. Sekarang bagaimana benteng terakhir kita RS jangan sampai jebol. Kalau tutup, bagaimana? Dokter, tenaga medis coba kasih makanan enak. Support gizi mereka yang bekerja pagi siang sore malam,” sambungnya.
Dijelaskan Yudi, momok rumah sakit saat ini sudah menjadi ketakutan warga. Masyarakat enggan ke rumah sakit karena khawatir terpapar virus. Apalagi saat sekarang rumah sakit rujukan rerata penuh. Olehnya, pemerintah juga harus lebih berperan untuk mengatasi masalah tersebut.
Dokter yang positif covid-19, menurut Yudi, menjadi bukti bahwa apa yang dituduhkan masyarakat terkait covid jadi lahan bisnis para dokter, tidaklah benar. Menurutnya, hal yang sangat konyol jika uang bisa ditukar dengan nyawa keluarga. Karena jika terinfeksi, tidak hanya membahayakan diri sendiri melainkan istri/suami, anak, orangtua dan keluarga lainnya.
“Masak kita mau pura-pura sakit. Dokter memangnya mau mengorbankan keluarga? Lihat sekarang banyak fenomena dokter dan satu kelaurga positif corona, itu karena dokternya dapat dari rumah sakit. Saya kira ini bentuk pengabdian yang betul-betul diuji,” tandasnya.
Salah satu langkah untuk mengatasi kelangkaan atau krisis dokter, lanjut Yudi, pengurus IDI membuat program Dokter Semesta. Program tersebut memanggil dokter di manapun berada untuk membackup rumah sakit yang sudah mulai kekurangan dokter. Misalnya, dokter di wilayah zona hijau bisa berpindah ke wilayah zona merah.
“Ibaratnya sebuah perang, di rumah sakit rujukan ditempatkan tentara yang jago-jago dulu. Disatukan semua. Setelah yang jago-jago ambruk, maka muncul lapisan kedua, ketiga dan keempat,” paparnya.
Mantan Rektor Universitas Hasanuddin Idrus Patturusi menyebut, kondisi di ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) RS Unhas sudah sangat kritis. Dokter yang bertugas di IGD sisa dua orang yang negatif covid. Artinya, petugas medis lainnya telah terinfeksi virus.
“Di IGD Unhas sisa dua negatif dokternya yang lain sudah positif. Kemudian residen bagian anak 14 orang positif. Kemudian kebidanan 40 orang positif,” ucapnya.
Ia menilai, kemungkinan masih banyak lagi nakes yang terinfeksi, namun belum terlacak. Olehnya itu pemerintah harus memberikan perhatian terhadap tenaga medis.
Juru bicara Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Sulsel Prof Dr dr Syafri Kamsul Arif, memastikan dari 70 orang nakes yang terpapar virus Covid-19, sebanyak 60 persen sudah dinyatakan sembuh total. Angka 70 yang positif itu merupakan akumulasi dari jumlah positif sejak bulan Maret 2020 lalu.
“Sebenarnya itu akumulatif sejak Maret. Jadi bukan dari satu waktu. Dan dari 70 yang di media itu, sekitar 40 dari 70 itu sudah sembuh sempurna,” ungkap Prof Syafri di Hotel Swiss Bell Hotel, Senin (22/6).
Jubir yang juga Direktur RS Pendidikan Unhas Makassar ini menambahkan, sampai saat ini tidak ada perkembangan yang sedang, berat dan berat untuk nakes.
“Jadi tidak ada yang berkembang menjadi keadaan sedang, berat, bahkan kritis. Kita harapkan yang berkembang saat ini bisa seperti demikian. Klasifikasi kedua terkait hanya tinggal dua dokter di RS Unhas itu tidak benar. Bahwa mungkin terbalik, yang saat ini memang dua dokter kita yang terkena di IRD,” jelasnya.
Lebih lanjut, Prof Syafri menjelaskan, sampai saat ini dari 45 ventilator yang dimiliki RS rujukan covid-19 di Sulsel, baru terhitung dua ventilator yang terpakai. “Per hari ini baru dua ventilator yang terpakai dengan kapasitas kita sekitar 45 ventilator,” terangnya.
Sampai saat ini RS yang bisa merawat pasien dengan mengunakan ventilator, yakni RS Wahidin, RS Siloam, RS Dadi, RS Sayang Rakyat, dan RS Daya.
Raker DPRD Sulsel
Banyaknya nakes yang terpapara covid-19, mengundang keprihatinan para wakil rakyat yang ada di DPRD Sulsel. Legislator Partai Demokrasi Idonnesia Perjuangan (PDIP) Sulsel Rudy Pieter Goni (RPG), mengaku melihat bahwa saat ini ada tanda-tanda kejenuhan.
“Saya melihat ada tanda-tanda kejenuhan yang mulai terjadi. Teman-teman nakes sudah begitu mencurahkan waktu dan tenaga bahkan nyawa sebagai taruhan dalam membantu penanganan dan penyembuhan covid 19. Tetapi melihat angka yang terpapar belum melandai, sementara waktu yang terlewatkan sudah tiga bulan lebih. Waktu itu sudah cukup lama. Jauh keluarga dan orang tersayang. Ditambah juga dari masyarakat yang tidak jujur memberikan informasi tentang riwayat penyakitnya,” ujar RPG, Senin (22/6).
Untuk itu, RPG yang juga koordinator badan anggaran (banggar) DPRD Sulsel mengajak untuk kebersamaan. “Perlu kebersamaan kita dalam mengatasi covid-19 selama belum ada vaksin. Apalagi transmisi komunitas saat ini banyak terjadi. Karena masyarakat sudah jenuh di rumah saja, lantaran waktu libur sangat panjang. Kondisi ini tidak bisa disalahkan karena budaya silahturahmi kita yang tinggi. Yang perlu kita miliki adalah komitmen kuat untuk menjaga jarak, selalu pakai masker dan menerapkan protokol kesehatan yang ketat,” jelas RPG.
Legislator Partai Golkar Sulsel Ince Langke IA juga mengaku prihatin. “Ini serius jadi perhatian komisi. Apalagi nakes ini kan tumpuan utama kita. Garda terdepan dalam penanganan covid-19,” imbuhnya.
Rencananya, Selasa (23/6) hari ini, DPRD Sulsel akan menggelar raker bersama pemprov, Dinas Kesehatan dan semua RS rujukan covid-19. ”Kita ingin mencari tahu apa yang salah dalam soal ini,” jelas mantan ketua DPRD Selayar ini.
Ketua Komisi E DPRD Sulsel Rusdin Tabi menyampaikan hal sama. “Kita sangat prihatin dengan banyaknya tenaga kesehatan yang terpapar corona, karena mereka adalah garda terdepan melawan covid-19. Ke depan diharapkan mereka lebih hati-hati lagi dalam menjalankan tugas mulia ini dengan menggunakan APD standar kesehatan,” ujar legislator Partai Gerindra Sulsel ini.
Wakil Ketua DPRD Sulsel Muzayyin Arief juga punya sikap yang sama. “Tentu ini menjadi keprihatinan kita. Selain soal keselamatan jiwa warga yang kita cintai, paramadis ini juga adalah sumber daya yang sangat penting di daerah kita. Jumlahnya terbatas. Jangan sampai kita terus kehilangan pahlawan kesehatan. Apalagi di tengah pandemi, yang tentu saja peran mereka sebagai garda terdepan tidak dapat kita pungkiri,” jelasnya.
Karena itu, Muzayyin berharap tim gugus penanganan covid-19 mengambil langkah yang efektif guna mencegah bertambahnya korban di kalangan nakes.
“Kondisi ini juga menyebabkan masyarakat menjadi cemas dan khawatir. Jadi saya kira perlu ada penjelasan secara resmi dari tim gugus terkait grand design penanganan covid yang disebarkan di tengah masyarakat, sehingga kecemasan ini bisa dinetralisir dan masyarakat tenang,” pungkas Muzayyin yang juga politisi PKS Sulsel. (nug-rif)
