Site icon Berita Kota Makassar

Wakil Bisa Mengangkat dan Menurunkan Elektoral

MAKASSAR, BKM–Penentuan nama bakal calon wakil wali kota harus dilihat dari berbagai aspek keunggulan. Sebab jika tidak, maka penentuan wakil bisa berakibat fatal bagi elektoral bakal calon wali kota.
Pengamat politik dari Unismuh Makassar, Dr Luhur Andi Prianto mengingatkan para bakal calon wali kota maupun partai plitik agar berhitung secara matang dalam mengajukan calon wakil wali kota.
Luhur juga membeberakan bila rata-rata calon wali kota Makassar memilih wakil dengan cara serampangan. Ibarat main comot-comot saja.
“Partai-partai yang menyodorkan calon wakil adalah partai-partai yang tidak memadai stok kadernya untuk di dorong sebagai calon kepala daerah. Dan kalau salah dalam memilih wakil, juga berbahaya, bisa jadi tidak bisa maju pilkada,”ujar Luhur dalam diskusi bertema Bedah Peta Pilwali Makassar bersama PT. Indeks Politica Indonesia di Café Res_Publica, Pettarani, Makassar, Minggu (5/7).
Luhur mengibaratkan sodoran calon wakil dari parpol seperti politik sandera. Ia mencontohkan Golkar yang meninggalkan calon petahana wali kota, Moh Ramdhan Pomanto (Danny) karena memilih kader Nasdem, Fatmawati, sebagai calon wakilnya, alih-alih memilih Andi Zunnun Halid.
Kemudian, Irman Yasin Limpo alias None yang mendapatkan kejutan dari Partai Golkar juga terkesan tersandera lantaran Golkar tetap mendorong Zunnun sebagai calon wakil.
Sementara PAN yang sejak awal mendukung None tidak keberatan lantaran kadernya belum ada yang sangat siap maju di Piwali Makassar.
“Yang orang tunggu adalah siapa paketnya None? Karena pasangan None mungkin lebih aman kalau dari figur non partai juga. Sebab kalau Golkar dapat jatah, bisa jadi PAN meradang. Begitupun sebaliknya,”ujar pengamat politik dari UIN Alauddin Dr Firdaus Muhammad.
Menurut Firdaus, Zunnun kurang strategis dijadikan calon wakil. Sementara masih ada kader Golkar lain yang lebih potensial seperti Farouk Mappaselling Beta yang jelas-jelas sudah populer dan memiliki konstituen.
Begitupun dengan keputusan Danny meminang Fatmawati, istri Ketua DPW Nasdem Sulsel, Rusdi Masse. Keputusan ini juga dianggap kurang efektif untuk meningkatkan elektoral Danny.
Pasalnya, Fatma-sapaan akrabnya, selama ini berinvestasi politik di luar Makassar namun kalah dalam semua kontestasi politik. Investasi yang dimaksud adalah ketika Pilkada Kabupaten Sidrap dan pemilihan legislatif DPR RI daerah pemilihanl DKI Jakarta II, yang meliputi Jakarta Selatan, Jakarta Pusat, dan Luar Negeri.
“Terlepas plus-minusnya Bu Fatma, Nasdem kalau mau dorong Fatma, Kenapa tidak dari awal dipersiapkan kadernya sematang mungkin? Ini kan Makassar, bukan Sidrap,”ucap Firdaus.
Direktur Eksekutif PT. Indeks Politica Indonesia, Suwadi Idris Amir menegaskan peran wakil dalam meningkatkan elektoral bakal calon wali kota Makassar tergolong kecil. Itu berdasar pada analisis hasil tiga fase survei yang dilakukan lembaga riset dan konsultan politik ini.
“Kalau dilhat dalam gambaran elektoral secara umum pengaruh wakil kecil. Yang cukup berperan baru Abdul Rahman Bando (ARB) terhadap elektoral Munafri Arifuddin (Appi) di wilayah pesisir dan pulau. Sementara calon wakil yang lain cenderung stagnan pengaruhnya terhadap calon walikotanya,”kata Suwadi.
Ia mencontohkan simulasi paket Danny-Fatma, None-Zunnun, dan Syamsu Rizal-Fadli Ananda (Ical-Fadli) yang cenderung tidak meningkat signifikan dibanding survei tanpa pasangan sebelumnya.
“Kalau simulasi None-Cicu atau Danny-Cicu, baru ada kenaikan. Saya melihat figur Cicu lebih sangat membantu kalau jadi 02 dibanding Ibu Fatma. Pertanyaannya, kenapa Nasdem tidak mempersiapkan itu. Di Golkar, Rusdin Abdullah lebih berperan jadi 02 dibanding Zunun. Kenapa Golkar tidak mempersiapkan Rusdin Abdullah?”pungkasnya. (rif)

Exit mobile version