SEJAK pandemi covid-19, banyak orang yang menjadi kreatif. Salah satunya adalah seorang perwira polisi di jajaran Polres Gowa AKP Mangatas Tambunan.
SAAT ini AKP M Tambunan diamanahi tugas selaku kepala Sub Bagian Humas Polres Gowa. Ia begitu berperan menyampaikan imbauan jajaran kepolisian, khususnya edukasi kepada masyarakat agar tidak mengabaikan protokol kesehatan selama pandemi. Di antaranya melalui media cetak, eletronik, serta media daring yang menjadi mitra kerja kepolisian. Termasuk di media sosial, seperti Facebook, instagram, WhatsApp hingga chanel Youtube.
Siapa sangka pula, di tengah kesibukannya, Mangatas Tambunan mampu menciptakan dua buah lagu. Bahkan, ia mampu melakukannya hanya dalam tempo enam hari.
Lagu pertama yang diciptakannya berjudul Corona. Lagu ini berisi edukasi dalam melawan corona dan melaksanakan protokol kesehatan untuk seluruh masyarakat ini. Proses penciptaannya butuh waktu lima hari.
Lalu lagu kedua berjudul Kampung Rewako. Yang ini tak butuh waktu lama untuk mewujudkannya. Hanya lima jam. Namun hasilnya begitu menakjubkan. Musik energik dengan syair yang sangat edukatif.
“Lagu kedua ini langsung saya buat musiknya dan langsung pula saya rekam menggunakan alat seadanya,” tutur pria yang memang suka menyanyi ini.
Modalnya untuk bisa membuat lagu dan mennyanyi dilatari oleh kesukaannya menyanyikan lagu-lagu rohani. Apalagi ia piawai dalam memainkan alat musik jenis organ yang ada di rumahnya.
Jika sedang tidak bertugas di Polres Gowa, pria berdarah Batak ini lebih banyak duduk bermusik dan menyanyi sendiri.
Diakui Mangatas Tambunan, mencipta lagu berbeda namun satu misi, yakni memerangi corona tersebut, dirinya termotivasi untuk memberikan imbauan kepada masyarakat agar menggunakan masker serta mengikuti protokol kesehatan. Selain itu, juga untuk memperkenalkan tempat wisata baru yang ada di daerah ini.
“Kebetulan lagu Corona yang saya cipta juga telah dibuatkan video klipnya. Mengambil latar lokasi wisata Bolangi Ampat di Bukit Parassui, Desa Timbuseng, Kecamatan Pattallassang,” terangnya.
Di tempat yang ramai dikunjungi masyarakat ini, Mangatas Tambunan membuat video klip sambil sosialisasi kepada pengunjung agar tetap pakai masker sehingga terhindar dari corona, jaga jarak dan jangan bersentuhan selain keluarga serumah.
Sedang untuk lagu Kampung Rewako, lanjut M Tambunan, menceritakan soal keberadaan kampung yang menjadi pusat kegiatan masyarakat beserta layanan publiknya lengkap yang ada di dalamanya. Di kawasan ini warga diedukasi cara bertanam tanaman hidroponik, beternak unggas dan ikan. Juga diajak gemar membaca dengan ketersediaan perpustakaan mini. Ada layanan klinik kesehatan, serta kuliner. Termasuk kegiatan cara pemulasaran jenazah covid-19 dan lainnya yang terkait edukasi protokol kesehatan covid.
Kreasi pria berusia 52 tahun ini pun mulai mendapat tempat di tengah masyarakat. Bahkan telah viral di media sosial.
“Tidak ada maksud apapun di lagu ini, kecuali hanya untuk memberikan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat agar makin sadar untuk waspadai corona. Pikiran saya, selama ini mungkin ada kejenuhan masyarakat yang diedukasi hanya dengan arahan pakai masker dan sebagainya. Makanya, saya coba hal lain yakni melalui lagu,” terangnya.
Diakui Mangatas Tambunan, lagunya menghadirkan musik yang agak jenaka namun energik. Dengan cara ini ia berharap orang yang mendengarnya akan suka dan menghafalkan syairnya lalu menyanyikannya. Hingga pada akhirnya tahu makna inti dari lagu tersebut.
Biasanya kan orang kadang lalot kalau sekadar diberi tahu. Sebaliknya, terkadang orang lebih mudah mengerti jika melalui lagu,” kata suami dari Priska Ulifah ini.
Di jajaran Polres Gowa, ayah dari Jeni Tio Eklesia Tambunan dan Theola Sondang Nauli Tambunan ini memang dikenal sebagai sosok yang ramah dan suka guyon. Apalagi jika sudah bersama jurnalis yang selama ini menjadi mitranya dalam mendukung tugas-tugasnya sebagai humas kepolisian di Gowa.
Kesukaannya terhadap dunia tarik suara pun tidak bisa disangkal. Bila ada kegiatan besar di Polres Gowa dan disiapkan alat musik, maka Mangatas Tambunan tak pernah ketinggalan untuk tampil menyanyi. Bahkan tak jarang menjadi player dan memainkan alat musik yang disediakan.
Ditanya adakah niat untuk mencipta lagu yang bukan untuk institusi kepolisian, Mangatas Tambunan mengatakan keinginan itu ada.
”Tapi untuk saat ini saya fokus untuk institusi polri saja dulu, khususnya saat ada hal-hal yang viral di Indonesia,” kata Mangatas Tambunan, yang kini mahir membuat rilis berita kegiatan kepolisian hingga 10 acara sekalipun.
Selama menciptakan dua lagu untuk institutsinya, Mangatas Tambunan mengaku kerap minta bantuan anaknya. Termasuk rekan kerjanya.
“Yang bikin saya kadang terasa sulit adalah menghubungkan narasi dari tiap syair. Tapi saya bersyukur karena narasi lagu-lagu saya singkat, padat dan jelas. Mudah dimengerti dan dihafalkan orang. Selain itu, bikinnya juga simpel. Waktunya pendek hanya enam hari untuk dua lagu dan saya arranger sendiri dengan alat musik organ saya sendiri,” katanya sambil tertawa. (sar)
