MAKASSAR, BKM– Kota Makassar dan beberapa kabupaten di pesisir barat Sulsel sejak Juni lalu telah memasuki musim kemarau. Namun untuk wilayah pesisir bagian timur, ternyata hingga saat ini masih musim hujan.
Prakirawan BMKG Wilayah IV Makassar, Amhar Ulfiana mengatakan bahwa, wilayah Makassar, Gowa, Takalar, Jeneponto, Maros, Pangkep dan sebagian Barru telah memasuki musim kemarau. Namun bukan berarti tidak turun hujan sama sekali.
Musim kemarau ini ditandai dengan curah hujan yang turun dalam satu dasarian (10 harian) <50 mm selama 3 dasarian berturut-turut. Sehingga dapat disimpulkan bahwa musim kemarau bukan berarti tidak turun hujan sama sekali.
Sekedar diketahui, dasarian adalah rentang waktu selama 10 hari. Dalam satu bulan dibagi menjadi 3 dasarian. Yaitu Dasarian I : tanggal 1 sampai 10, Dasarian II : tanggal 11 sampai dengan 20, Dasarian III : tanggal 21 sampai dengan akhir bulan.
Jadi BMKG sendiri dikatakan Amhar menentukan musim kemarau dengan kriteria : curah hujan yang turun dalam satu dasarian (10 harian) kecil dari 50 mm selama 3 dasarian berturut-turut.
Amhar juga menjelaskan, sesuai dengan prakiraan musim kemarau tahun 2020, bahwa hujan pada musim kemarau ini diprakirakan bersifat atas normal. Artinya curah hujannya bernilai di atas rata-rata (normal).
Jika dibandingkan dengan tahun 2019, tahun ini curah hujan di musim kemaraunya diperkirakan lebih banyak. Sebagai contoh, hujan yang turun di wilayah Makassar beberapa hari lalu dikarenakan pergerakan awan hujan yang berasal dari wilayah timur bergerak kewilayah bagian barat Sulsel.
Sementara untuk musim kemarau di wilayah Makassar diprakirakan terjadi hingga bulan oktober atau november.
"Kalau potensi hujan dengan intensitas ringan masih berpotensi terjadi di bulan ini. Sedangkan puncak musim kemarau diperkirakan terjadi di Agustus-September," katanya.
Sementara untuk wilayah Sulsel di pesisir timur seperti Bulukumba, Sinjai, Bone, hingga Wajo saat ini masih musim hujan. Di wilayah-wilayah tersebut, perkiraan kemaru baru akan terjadi pada akhir Juli hingga Agustus.
"Kalau di wilayah utara Sulsel (Luwu, Palopo, Luwu Utara, Luwu Timur, hingga Toraja) tidak memiliki musim yang tetap. Sehingga berpotensi terjadi hujan sepanjang tahun," ungkapnya.(nug)
