Site icon Berita Kota Makassar

Berpacu dengan Waktu, Sehari Tangani Empat Jenazah

MAKASSAR, BKM — Mengurus jenazah pasien covid-19 penuh risiko. Bisa-bisa ikut terpapar. Itu pemahaman yang diyakini banyak orang. Namun, pria yang satu ini tetap melakoni tugas tersebut.

NAMANYA Muh Akbar Syamjun Said. Lahir di Sungguminasa, Kabupaten Gowa, 11 Januari 1995. Oleh rekan-rekannya, ia karib disapa Abel.
Bekerja sebagai petugas pemulasaran jenazah di salah satu rumah sakit pemerintah, punya cerita tersendiri bagi Abel. Terlebih di tengah pandemi covid-19 saat ini. Tidak hanya menangani jenazah biasa, tapi juga pasien yang meninggal karena terkonfirmasi positif corona, atau pun kategori pasien dalam pengawasan (PDP).
Di tengah kondisi darurat corona di Sulawesi Selatan, Abel pun turun tangan. Terhitung sejak menyebarnya virus corona pada bulan Maret 2020, ia telah menangani pemulasaran 26 jenazah pasien positif covid-19. Bahkan, pernah dalam sehari dirinya mengurus tiga hingga empat jenazah. Hal itu dilakukannya karena keterbatasan sumber daya manusia (SDM), serta berpacu dengan waktu untuk menyelesaikan pemulasaran jenazah dalam tempo empat jam.
“Kalau sebelum corona ini, jarang ada jenazah pasien yang dimandikan di rumah sakit. Rata-rata kalau pasien meninggal dibawa langsung oleh keluarganya. Beda dengan jenazah pasien corona, kita memang yang kerjakan untuk kemudian dimakamkan,” terangnya saat ditemui di Hotel Dalton Makassar, Selasa (14/7).
Ia lalu menuturkan prosedur pemulasaran jenazah pasien covid-19. ”Kita bersihkan badannya. Bersihkan cairan yang ada di tubuhnya. Baru kita bungkus empat lapis. Kita tidak mandikan, karena tidak tahu mau dibuang ke mana limbahnya,” jelasnya.
Sebelum bertugas di sebuah rumah sakit milik Pemprov Sulsel, putra dari pasangan Syamsuddin dan Junaida ini pernah bekerja salah satu klinik jiwa di Makassar. Pekerjaan tersebut ia lakoni selama empat bulan.
Mendengar ada penerimaan petugas medis di Pemprov Sulsel, Abel yang berlatar belakang pendidikan D3 keperawatan kemudian memutuskan untuk mendaftar. Akhirnya, tahun 2020 ia diterima bekerja di bagian pemulasaran rumah sakit.
“Saya baru bekerja enam bulan. Saya memang mau di bagian ini, karena pertama, saya lihat jarang dan hampir tidak ada yang mau di tempat di jenazah. Kedua, saya nyaman dengan kerja ini karena tidak butuh setiap jam dan hari stand by kerjanya. Hanya by on call. Nanti bekerja kalau ada jenazah. Selebihnya fleksibel,” tuturnya.
Anak pertama dari tiga bersaudara ini menerangkan, sebelum pandemi covid, dirinya selalu bekerja memandikan jenazah pasien, membersihkan, menangani pasien non infeksi dan infeksi.
Walaupun di dalam benaknya ada rasa takut ketika menangani jenazah covid, tapi hal itu hilang karena dirinya mencintai pekerjaanya. Apalagi ia didukung oleh keluarga dan melihat kesedihan keluarga jenazah yang ditinggalkan.
“Mungkin sebenarnya tidak takut karena sudah terbiasa urus mayat biasa. Lebih parah lagi kalau tangani korban kecelakaaan. Kalau yang positif covid, dia kan jenazahnya utuh. Cuma mungkin takutnya di situ jangan sampai tertular virusnya. Tapi sejauh ini tidakji. Tentu dengan menggunakan alat pelindung diri (APD) yang lengkap. Saya juga mendapat dukungan penuh dari keluarga. Terlebih lagi saya memang suka pekerjaan ini,” ujarnya.
Selama menangani pemulasaran jenazah covid, Abel mengaku sudah terbiasa dengan cacian dan makian dari keluarga yang meninggal. Mereka biasanya kukuh agar keluarganya itu tidak menjalani proses pemulasaran di rumah sakit.
”Sudah sering itu (dimarahi). Tapi kan memang kalau begitu sudah tanggung jawabnya tim gugus. Karena kalau kita kerjakan jenazah itu, lalu diambil oleh tim gugus, kita sudah tidak lepas. Terkadang, kalau tengah kita biasa mengurusi jenazah, sambil video call dengan keluarganya yang ingin melihat untuk terakhir kali. Ada juga yang sudah kita kafani, kemudian pihak keluarga minta untuk disalati,” jelasnya.
Ia menceritakan, sempat merasa risih dengan memakai APD di awal-awal menangani jenazah covid. Namun, kini Abel sudah merasa terbiasa. Rasa iba kadang timbul di benak Abel, ketika pihak keluarga pasien covid-19 sempat memohon kepadanya untuk bisa ikut menyaksikan pengurusan jenazah, namun harus ditolaknya. Sebagai bentuk penghiburan pada keluarga, ia merekam seluruh prosesi pemulasaraan jenazah untuk menjadi dokumentasi keluarga.
Sebagai konsekwensi dari pekerjaannya mengurus jenazah pasien covid, Abel harus rela untuk tidak bertemu dengan keluarganya. Hingga kini ia baru satu kali melakukan hal itu. Selebihnya, Abel mesti menjalani penempatan di hotel bersama dokter dan perawatan yang menangani pasien covid.
Diasingkan oleh masyarakat hingga tetangga, juga dirasakan oleh Abel. ”Iya, ada tetangga seperti itu. Saya bisa mengerti dengan kondisi seperti itu,” tandasnya. (ita)

Exit mobile version