Site icon Berita Kota Makassar

Geolog: Waspadai Banjir Bandang di Daerah Lain

MAKASSAR, BKM — Pakar Petrologi dan Geologi Universitas Hasanuddin Dr Eng Adi Maulana,ST,MPhil mengatakan, banjir bandang yang melanda Masamba, Kabupaten Luwu Utara disebabkan oleh curah hujan yang tinggi dan gempa yang pernah terjadi. Selain itu, juga karena adanya alih fungsi lahan disertai pembalakan liar di hulu sungai. Ia pun mengingatkan daerah lain untuk mewaspadai kejadian serupa.
“Beberapa hari terakhir sebelum banjir bandang terjadi, juga terekam gempa dengan titik episentrum dekat dengan kota Masamba. Sebenarnya terjadinya longsor, penyebab paling utama itu tentu saja adalah curah hujan yang sangat tinggi. Terus, adanya alih fungsi lahan di daerah hulu,” ungkap Adi Maulana, Rabu (15/7).
Menurutnya, jika ada praktik pembukaan lahan ketika hujan turun dengan sangat intens dan deras, tampungan air hujan yang jatuh tidak masuk ke dalam tanah. Karena air dulunya diserap oleh pohon-pohon, tapi kini sudah tidak ada akibat ditebang. Sehingga air hujan menjadi air permukaan yang mengerus semua tanah-tanah yang sudah terbuka.
“Kemudian air langsung masuk ke aliran sungai. Akhirnya apa, sungai menjadi penuh dengan material-material dari pembukaan lahan tadi, yang dibawa oleh air hujan. Karena sudah tidak tertutup dengan vegetasi itu. Ini juga yang menyebabkan terjadi longsor-longsor kecil di atas bagian hulu, akhirnya menumpuk sebuah saluran bercampur dengan air. Kemudian sisa-sisa pembukaan lahan, batang pohon, semua masuk ke dalam sungai,” jelasnya.
Material itulah yang menumpuk dan menyebabkan sungai menjadi menjadi buntu. Namun karena air sugai terus mengalir, ditambah hujan yang mengguyur, volume air semakin banyak hingga akhirnya material yang bertumpuk lalu kemudian terbawa arus.
“Karena kan energinya besar sekali, ditambah hujan yang berlangsung secara terus-menerus. Material maupun lumpur dan pasir bercampur semua di dalam sungai. Kemudian karena dorongan air yang volumenya bertambah besar seiring dengan hujan yang tidak berhenti, itulah yang kemudian menyebabkan banjir bandang,” bebernya.
Jika terjadi longsor di bagian hulu, diduga sumber lumpurnya berasal dari pembalakan liar. Tapi bisa juga disebabkan hal lainnya.
“Kita tidak tahu di bagian hulu itu ada apa saja. Yang jelas ada alih fungsi lahan di sana. Apakah dia berupa pembalakan liar, pembukaan lahan untuk perkebunan atau permukiman, kita tidak tahu. Seharusnya di bagian hulu itu kan tidak boleh dibuka lahan, karena kawasan itu untuk berfungsi sebagai areal konservasi,” jelasnya.
Adi Maulana meminta para pemangku kepentingan untuk bertindak terhadap praktik pembalakan liar dan pembukaan lahan di bagian hulu sungai. Sebab jika hal itu tidak segera dilakukan, dikhawatirkan akan menyebabkan terjadinya banjir susulan.
”Sekarang ini yang paling penting adalah bagian hulunya itu harus diperbaiki. Kalau misalnya di situ ada, katakan mungkin illegal logging atau perkebunan apa, semua itu tidak boleh. Di atas itu harus betul-betul dipastikan dikembalikan sesuai fungsi lahan, yaitu konservasi. Kalau tetap dibiarkan seperti sekarang, banyaknya peemukiman serta perkebunan tanpa izin, kemudian illegal logging, mungkin nanti lama-kelamaan akan terjadi seperti ini bila hujan deras berlangsung terus menerus,” tuturnya.
Diakui, kondisi seperti ini hampir merata di Sulawesi Selatan. Bukan hanya di Masamba, tetapi juga di daerah-daerah lain juga sangat rentan dengan terjadinya banjir bandang. Seperti Jeneponto, Bulukumba, Sinjai, dan Soppeng. Kemudian sebagian wilayah Bone dan Enrekang.
“Karena memang topografinya seperti itu. Karenanya, diperlukan semacam keharusan dari pemerintah untuk melihat kembali bagian hulu yang harus dipelihara dengan baik. Harus dijaga. Kenapa, karena di situ kawasan konservasi. Kalau misalnya tidak tidak dijaga, seperti pembukaan lahan dibiarkan, illegal logging juga marak, ya nanti pasti nanti akibatnya ssperti di Masamba itu,” tandasnya.

32 Ditemukan Meninggal

Korban meninggal dunia akibat banjir bandang di Luwu Utara terus bertambah. Hingga Rabu (15/7), tercatat sebanyak 32 orang dinyatakan meninggal dunia. Dari jumlah tersebut, baru 15 di antaranya yang berhasil diidentifikasi. Hal tersebut dikarenakan banyak dari para korban yang sudah tak bisa dikenali.
Selain itu, puluhan orang yang dilaporkan hilang oleh pihak keluarga, masih belum ditemukan. Dari mereka, ada di antaranya yang merupakan satu keluarga. Terdiri dari ibu, anak dan menantu, serta dua orang anaknya.
Selain menelan korban jiwa dan dilaporkan hilang, banjir juga mengakibatkan puluhan ribu orang mengungsi. Lantaran rumah mereka hanyut terbawa air maupun tertimbun sedimen lumpur yang bercampur pasir.
Khusus wilayah Masamba, tercatat ada tiga desa yang terisolir dan belum tersentuh bantuan. Di antaranya Desa Maiti dan Tondotua. Di Desa Maiti ada ratusan kepala keluarga yang kini terisolir karena tidak akses masuk. Tim penyelamat merencanakan untuk masuk ke wilayah tersebut hari ini, Kamis (16/7) melalui jalur sungai.
Kemarin, hujan sempat terjadi dan membuat panik warga setempat. Mereka yang bermukim di bantaran sungai Masamba langsung berusaha menyelamatkan diri ke tempat yang aman. Mereka khawatir akan terjadi banjir susulan.
”Data kami kurang lebih ada 15 ribu orang yang mengungsi,” ujar Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Luwu Utara Muslim Muchtar.
Disebutkan, banjir terjadi akibat luapan tiga sungai besar. Yakni sungai Masamba, sungai Radda, dan Sungai Rongkong.
Menurut dia, pengungsi tersebar di beberapa tempat. Seperti posko yang didirikan BPBD, gedung sekolah, rumah ibadah, dan rumah keluarga terdekat.
“Yang saat ini paling dibutuhkan korban adalah obat-obatan, makanan siap saji, selimut, dan tenda,” katanya.

Normalisasi Sungai

Wakil Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman telah berkunjung ke Desa Radda, Kecamatan Baebunta, yang menjadi salah satu lokasi terparah terdampak bencana. Wilayah ini masih tergenang air.
Kemudian, Andi Sudirman melanjutkan kunjungan di posko pengungsian Desa Meli, di kecamatan yang sama. Sesampainya di lokasi, ia bertemu masyarakat yang mengungsi. Andi Sudirman berbincang sambil memberikan semangat kepada warga. Ia pun mengimbau masyarakat untuk waspada terhadap kemungkinan banjir susulan.
“Sabarki semua. Semoga musibah ini segera berlalu. Tetap di lokasi pengungsian dan sementara waktu jauhi lokasi yang masih rawan,” pesan Andi Sudirman.
Rombongan Wagub Sulsel tiba pada Selasa malam (14/7). Sementara listrik masih terputus, sehingga pencahayaan hanya mengandalkan dari ponsel. Andi Sudirman Sulaiman didampingi Bupati Luwu Utara Indah Putri Indriani, Ketua DPRD Lutra Basir, dan Wakil Bupati Luwu Syukur Bijak.
Ketua DPRD Luwu Utara Basir, menyampaikan kondisi terkini di daerah ini. Ia mengatakan, masih dilakukan proses pencarian warga yang belum ditemukan.
Sebanyak lima kecamatan dan puluhan desa/kelurahan di Kabupaten Luwu Utara diterjang banjir, Senin-Selasa (13-14/7). Masing-masing Kecamatan Masamba, Baebunta, Baebunta Selatan, Malangke, dan Malangke Barat.
Khusus di Kecamatan Masamba dan Baebunta Selatan, wilayah itu diterjang banjir bandang. Tepatnya di Kelurahan Bone dan Bone Tua, Kecamatan Masamba, serta Desa Radda, Kecamatan Baebunta.
Sebeluma tiba di Luwu Utara, Andi Sudirman juga sempat menuju sungai Suli di Kecamatan Suli, Kabupaten Luwu. Sungai itu merupakan salah satu penyebab banjir beberapa hari lalu.
Diketahui, sekitar seminggu lalu puluhan desa/kelurahan di Kabupaten Luwu juga terendam banjir. Desa yang terdampak tersebar di empat kecamatan yang berada di bagian selatan daerah ini. Yakni Kecamatan Suli, Suli Barat, Larompong, dan Larompong Selatan.
Lurah Suli Sukmawati Gusalim mengungkapkan, di daerahnya ini sudah enam kali terjadi banjir dalam waktu dua bulan. Wagub pun menyarankan perlunya normalisasi sungai.
“Ini harus normalisasi sungai, dengan melibatkan Balai Besar Wilayah Sungai Pompengan Jeneberang. Harus duduk bersama, karena ini bukan pekerjaan kecil,” sarannya.
Selain itu, perlu penyisiran di hulu sehingga alih fungsi lahan dan penebangan diintervensi, baik pengawasan yang ketat maupun penataan dan penghijauan kembali. (ita-nug)

Exit mobile version