PENGGUNAAN teknologi digital terus merambah berbagai sendi kehidupan masyarakat. Sektor transportasi salah satunya. Bukan hanya yang memang sedari awal berbasis daring, tapi juga pada jenis angkutan tradisional. Di Makassar disebut dengan petepete.
SEJUMLAH mobil petepete tampak menunggu penumpang di kawasan Pasar Sentral, Makassar. Jika dilihat sepintas, tak ada perbedaan yang mencolok. Hanya warnanya saja terlihat berbeda. Yakni biru muda dan merah.
BKM mendekat ke beberapa di antara angkutan umum tersebut. Ketika dicermati lebih detail, ada pembeda di antara beberapa mobil yang beroperasi itu. Salah satunya tanda barcode yang terpasang di kaca pintu keluar masuk kendaraan. Disertai dengan petunjuk penggunannya. Dari banyak mobil yang ada, hanya satu dua yang tampak memasangnya.
Ya, barcode itu menunjukkan kalau kendaraan tersebut menerima pembayaran dengan sistem daring alias nontunai. Bukan lagi cara konvensional, penumpang menyarahkan uang secara tunai kepada sopir.
Penggunaan sistem e-money di petepete ini memang mulai merambah Makassar. Hal itu sebagai upaya mengedukasi masyarakat, baik penumpang maupun sopir untuk memanfaatkan teknologi kemajuan teknologi dalam sistem pembayaran. Tidak hanya bisa melindungi kedua pihak untuk kontak langsung, tapi memudahkan penggunanya dalam mengolah keuangan. Tercatat sudah ada beberapa perusahaan besar yang membantu memudahkan penggunanya dalam proses transaksi daring.
Daeng Tajudding adalah salah satu sopir petepete yang telah menerapkan pembayaran sistem daring tersebut. Ia ditemui saat menunggu penumpang tak jauh dari Pasar Sentral Makassar, Rabu (15/7).
Kepada BKM, ia mengaku menggunakan aplikasi pembayaran berbasis daring ini untuk memudahkan penumpangnya saat ingin bertransaksi untuk menghindari kontak langsung dengan orang lain. Atau ketika ada penumpang yang tidak memiliki uang tunai yang sesuai dengan tarif angkutannya.
Daeng Tajudding mengaku cukup dimudahkan dengan sistem ini. Di saat penumpang menggunakan metode pembayaran nontunai tersebut, selain tidak membuang waktu, ia juga merasa tenang karena uang miliknya langsung tertabung di aplikasi e-money.
Namun, masih ada kendala yang diakui Daeng Tajudding butuh sosialisasi. ”Selama saya menggunakan aplikasi pembayaran nontunai seperti ini, masih banyak penumpang yang belum bisa menggunakannya. Tapi ada juga yang sudah pakai. Ini cukup membantu saya sebagai sopir angkutan kota. Karena kadang saya pusing kalau mau mengembalikan yang ke penumpang. Apalagi kalau uangnya pecahan Rp50.000 atau Rp100.000,” ungkap Daeng Taju, sapaan akrabnya.
Dari sekian banyak kendaraan petepete di Pasar Sentral, hanya beberapa yang menerapkan sistem pembayaran nontunai dengan berbagai alasan. Salah satunya dan yang paling banyak terjadi, karena pengguna dan pemilik angkot yang belum paham menggunakan aplikasi tersebut.
“Di sini para sopir masih sedikit yang mengguna aplikasi nontunai seperti saya. Padahal aplikasi seperti ini sangat membantu. Mungkin sosialisasi secara berkala perlu dilakukan agar penggunanya bisa lebih banyak lagi. Selain itu, akan memungkinkan para sopir angkutan memberikan pelayanan yang baik kepada penumpangnya,” lanjut Dg Taju.
Selain memudahkan dan tingkat keamanan yang terjamin, beberapa aplikasi ini juga sering memberikan promo atau potongan harga ke penggunanya. Hanya dengan menerapkan persyaratan tertentu, pemilik akun e-money tersebut bisa menghemat pengeluaran keuangan. Terutama di tengah pandemi covid-19 ini.
”Hanya mendaftarkan data diri, download aplikasi, mengisi saldo aplikasi, pemilik akun sudah bisa merasakan mudahnya pembayaran nontunai saat menggunakan angkutan umum kami,” kuncinya. (rul)
