Site icon Berita Kota Makassar

Korban Butuh Air Bersih dan Obat-obatan

MASAMBA, BKM — Sepekan sudah banjir bandang melanda wilayah Luwu Utara. Dari peristiwa yang berlangsung Senin malam (13/7) itu, tercatat ada 36 orang meninggal dunia yang telah berhasil ditemukan. Yang yang masih dinyatakan hilang sebanyak 67 orang. Korban luka dan dirawat 51 orang. Mereka yang mengungsi berjumlah 14.483 jiwa.
Data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lutra, korban meninggal berasal dari Kecamatan Masamba sebanyak 12 orang, dan Baebunta 24 orang. Untuk korban luka, dari Masamba 24 orang, Baebunta 25 orang, Sabbang serta Malangke masing-masing satu orang.
Warga yang dilaporkan hilang dan belum ditemukan hingga saat ini, 20 di antaranya di Masamba, Baebunta 45 orang, dan Malangke dua orang. Sementara yang mengungsi, dari Kecamatan Sabbang 238 KK/927 jiwa, Masamba 1.937 KK/7/748 jiwa, Baebunta 1.452 KK/5.808 jiwa.
Hingga kemarin, bantuan terus mengalur untuk para korban. Saat ini mereka membutuhkan air bersih dan obat-obatan. Hanja saja, akses transportasi di Radda kembali ditutup sementara karena air meluap lagi ke badan jalan.
Pada hari Jumat (17/7), Menteri Sosial Juliari P Batubara menyalurkan bantuan untuk para korban. Jumlahnya Rp2 miliar. Gubernur Sulsel HM Nurdin Abdullah mendampingi kunjungan tersebut. Bantuan kepada korban diserahkan di kantor bupati Lutra.
Bantuan sebanyak Rp2 miliar terdiri dari logistik, peralatan kebersihan dan santunan bagi korban meninggal. Bantuan santunan ahli waris bagi 23 keluarga korban meninggal juga diserahkan oleh Mensos.
“Ibu bapak sekalian tidak perlu ragu komitmen presiden dalam mewujudkan negara hadir membantu warga di setiap bencana seperti di Luwu Utara ini,” kata Juliari.
Selain memberikan bantuan berupa materil, Kemensos juga menerjunkan tim layanan dukungan psiokososial (LDP) untuk memulihkan trauma pengungsi terutama anak-anak. Langkah ini sudah dilakukan sejak hari pertama bencana banjir terjadi.
“Jadi dukungan psikososial itu adalah kontak awal. Nah, bantuan psikososial dari sejak kejadian sudah datang. Kehadiran kita sebenarnya sudah memberikan penguatan,” jelas Juliari.
Setiap tempat pengungsian terdapat satu pelayanan psikososial. Karena anak-anak di usia mereka tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya. Layanan ini penting untuk menghibur mereka, memulihkan psikisnya. Minimal bisa memberikan kekuatan kepada mereka di tengah kesulitan yang dialami dan juga trauma akibat bencana.
Mensos juga memastikan kebutuhan dasar, seperti makanan terpenuhi dengan menyediakan makanan melalui dapur umum yang dikelola Taruna Siaga Bencana (Tagana).
“Saya perintahkan Tagana memasak secara maksimal. Saya memastikan dapur umum terus menyediakan makanan,” imbuhnya.
Untuk bantuan bagi korban meninggal dunia, Juliari menyebutkan bahwa semua ahli waris mendapatkan santunan masing-masing sebesar Rp15 juta. “Semua ahli waris korban akan mendapatkan santunan sebesar Rp 15 juta. Data sementara yang meninggal dunia yang telah ditemukan sebanyak 23 orang,” kata Juliari.
Untuk mempercepat proses pemberian santunan, Juliari meminta pemerintah daerah secepatnya mendata, memverifikasi dan melalukan validasi ahli waris. Verifikasi dan validasi dari pemerintah setempat, jika telah dinyatakan clear, terkonfirmasi melalui bukti dokumentasi surat, maka akan terproses dengan cepat.
Ia menambahkan, sudah menyetok bantuan tambahan untuk korban banjir khususnya untuk anak-anak. Ia mengatakan pengungsi anak-anak membutuhkan asupan khusus yang berbeda dengan orang dewasa. Kebutuhan tersebut seperti popok, selimut, kasur, yang paling penting saat ini adalah makanan. (nug)

Exit mobile version