SIDRAP, BKM — Banjir di Kabupaten Sidrap semakin parah. Ada 921 rumah warga terendam banjir di 12 desa/kelurahan di enam kecamatan. Banjir diakibatkan curah hujan tinggi menyebabkan sungai dan air danau Sidenreng dan Tempe meluap ke pemukiman warga.
Banjir juga merendam 3.790 haktare (ha) lahan pertanian, termasuk sekolah, jalanan dan tempat ibadah. Banjir terparah di Desa Teteaji, Kecamatan Tellu Limpoe, dan Kelurahan Wette’e, Kecamatan Panca Lautang. Ketinggian banjir mencapai tiga meter.
Banjir yang semakin meninggih dan masuk kedalam lantai dua rumah warga membuat sedikitnya 57 orang mengungsih ke rumah sanak saudara yang tidak terkena banjir. Pengungsi juga menempati kantor PKK Kelurahan Wette’e.
Mereka meninggalkan rumah karena khawatir banjir susulan dan angin kencang yang sewaktu-waktu bisa terjadi mengingat curah hujan masih tinggi.
Sementara warga lainnya masih memilih bertahan dirumah dengan perlengkapan seadanya.
“Yah, kami masih memilih tinggal meski banjir sudah masuk kedalam rumah,” ujar Nurhayati kemarin.
Untuk memasak maupun tidur keluarganya hanya menggunakan balai-balai. “Disini juga kita masak, makan dan tidur. Apa boleh buat, mudah-mudahan airnya cepat surut.
Lurah Wette’e, Wastina mengatakan banjir terparah terjadi sejak sebulan ini. “Banjir merendam 260 unit rumah dan 57 orang telah mengungsih karena rumahnya sudah dimasuki air,” katanya.
Curah hujan yang tinggi sejak beberapa hari membuat banjir kembali naik bahkan tambah meluas di enam kecamatan di Sidrap. Kecamatan yang terdampak banjir yakni Panca Lautang, Tellu Limpoe, Maritengngae, Watang Sidenreng, Pitu Riawa dan Dua Pitue. (ady/D)
Banjir Semakin Parah, 921 Rumah Terendam
