MASAMBA, BKM — Banjir bandang yang melanda Masamba serta sebagian daerah lainnya di Luwu Utara, Senin (13/7) menyisakan duka mendalam bagi para korban. Mereka yang selamat dari musibah itu pun kemudian berbagi cerita tentang apa yang dialaminya kala bencana datang di malam hari.
ILHAM adalah salah satu dari ratusan yang menjadi korban. Bapak berusia 56 tahun ini tak akan pernah melupakan kejadian yang menimpanya.
Malam itu, tepatnya pukul 19.45 Wita. Langit di atas Masamba, tepatnya Desa Radda tampak hitam pekat. Tak ada bintang yang terlihat.
Warga baru saja menunaikan salat Isya, lalu beristirahat usai seharian beraktifitas. Saat itu, warga Masamba masih tetap waspada akan terjadinya banjir susulan. Karena sudah beberapa hari terakhir gendangan dengan intensitas sedang sudah melanda Masamba.
Tak ada yang menyangka air bah disertai lumpur berpasir dan material kayu batangan pada malam itu, menjadi musibah yang parah dan menjadi sejarah dalam hidup warga Luwu Utara.
Ilham bermukim di jalan poros Malili, Kelurahan Masamba, Kecamatan Masamba, Lutra. Malam itu ia baru saja pulang dari Masjid Agung Syuhada, Kota Masamba menunaikan salat Isya. Sesampainya di rumah, bersama istri dan keempat anaknya, ia pun bersantap malam.
Usai makan, bencana itu pun datang. Tetiba terdengar suara gemuruh disertai hempasan bak angin ribut. Ilham pun langsung keluar rumah. Ia menyaksikan dengan mata kepala, air dan lumpur sudah memenuhi jalan raya.
Semuanya gelap gulita tanpa ada penerangan jalan. Tidak ada tempat pelarian, kecuali menyebut asma Allah. Ilham dan keluarganya hanya bisa takbir.
“Saya tidak tahu mau lari ke mana lagi, Pak. Air sudah penuh di luar rumah. Makin lama makin tinggi hingga mendekati pintu rumah,” terangnya.
Dalam hitungan menit, air dan lumpur sudah mencapai pintu rumahnya. “Saya langsung tutup pintu rumah dan mengajak anak istri naik ke lantai dua. Seperti sudah mau kiamat, Pak. Semua gelap gulita. Saya cuma dengar suara minta tolong sana sini. Tidak ada yang bisa menolong,” cerita Ilham kepada BKM yang bertemu dengannya, Sabtu (18/7) lalu.
Diakuinya, dalam tiga hari terakhir sebelum bencana melanda, dirinya selalu mendapat firasat buruk. Setiap hari ada saja burung gagak dan burung hantu hinggap di pohon depan rumahnya.
“Tiga hari sebelum datang banjir, saya bermimpi tinggalkan rumah. Ada suara saya dengar, disuruhka pergi dari rumah. Katanya, ajak keluargamu pergi. Tapi saya tidak tahu dari mana sumbernya,” tutur Ilham mengisahkan mimpinya.
Benar saja, mimpi buruk itu pun jadi kenyataan. “Sebenarnya, banjir setengah lutut sudah ada sejak tiga hari sebelum banjir besar ini datang,” imbuhnya.
Bahkan, katanya, beberapa menit sebelum kejadian, para pejabat Pemkab Lutra tengah berkumpul di samping rumah jabatan bupati. Kebetulan, para pejabat ini, termasuk Bupati Indah Putri Indriani sedang menpersiapkan dapur umum.
“Memang kami semua di kota sudah kondisi siap siaga karena banjir sudah ada sebelumnya, tapi tidak parah. Mobil-mobil pejabat yang hadir sempat parkir di depan halaman Masjid Agung Syuhada. Tidak ada kendaraan pejabat yang dapat diselematkan saat banjir lumpur itu datang. Pokoknya kayak kiamat malam itu, Pak,” lontar Ilham dengan mata berkaca-kaca.
Diselamatkan Tali Jemuran
Apa yang dialami Ilham, juga dirasakan Malla. Ibu tiga anak yang berusia 52 tahun ini menuturkan kejadian di malam itu. Beruntung, ia dan keluarganya terselamatkan karena bertumpu pada material kayu.
“Saya selamat karena saya pegang tali jemuran tetangga. Alhamdulillah, Allah masih menyelamatkan kami sekeluarga,” nada sedih Malla menceritakan kisahnya menghadapi maut.
Sebelum kejadian, dirinya baru saja selesai menunaikan salat Isya. Belum lagi ia membuka mukenah yang dikenakannya, air bah sudah menerjang dinding rumahnya.
“Air dan lumpur datang bersamaan. Suaranya bergemuruh seperti pesawat di atas kepala,” kenangnya.
Ia selamat bersama ketiga anaknya, saat tali jemuran berhasil ia gapai saat itu. “Saya hanya peluk erat anak saya. Sementara anak saya yang tertua dan adiknya ia rangkul.Kami hanyut beberapa meter. Saya selalu sebut nama Allah. Karena semua gelap gulita. Yang jelas, saya dapat kabel listrik yang besar sehingga pegangan saya sama anak saya cukup kuat. Kami selalu saling berteriak mengingatkan kalau masih ada dan tidak berjauhan,” ungkap Malla sambil menahan tangis.
Jika Malla dan anak-anaknya berhasil selamat, kondisi yang berbeda dialami adik sepupu bersama kemenakannya. Belum ada kabar tentang keberadaan mereka. Malla pun mengaku pasrah.
Gunakan Ban
Nilda Saputri (21), warga Kelurahan Bone, Kecamatan Masamba menuturkan, banjir merupakan peristiwa tahunan yang kerap terjadi di tempat tinggalnya. Namun ia tidak menyangka, banjir bandang pada Senin malam (13/7) lalu mengancam nyawa diri dan keluarganya.
“Malam Senin itu banjir. Air naik sampai di jalan, di dalam rumah itu sekitar dua meter setengah airnya. Biasanya tidak. Malam keduanya itu malam Selasa. Banjir juga, naik air pas Magrib,” kata Nilda.
Nilda bersama bapaknya masih berada di rumah. Khawatir akan terjadi apa-apa, dia pun kemudian mengambil ban untuk dipergunakan mengevakuasi ibum paman, tante, nenek, serta adik-adiknya. ”Kami menumpang di rumah tetangga yang tinggi tempatnya dia. Pas di samping rumah,” lanjutnya.
Tidak lama, air pun surut. Saat warga beranjak kembali ke rumah masing-masing, beberapa dari mereka memberi informasi. Ada kabar dari atas gunung Desa Maipi bahwa air sungai deras, dan diminta warga pesisir sungai untuk berhati-hati dan segera mengungsi.
“Tapi kami tidak panik. Namun, kami melihat rumah tetangga tiang-tiangnya bunyi keras, dan rumahnya hanyut. Kami semua kaget dan berlarian,” kata Nilda.
Akibat bencana itu, rumah Nilda diselimuti lumpur dan pasir dan sebagian barang di dalam rumah tidak terselamatkan.
“Untung berkas disimpan di atas plafon waktu sebelum banjir. Jadi jaraknya itu air dengan plafon satu meter. Untung tidak sampai. Di dalam rumahnya itu pasir sama lumpur. Kalau di luar rumah sampai atap. Dalam rumah itu kebanyakan air dan lumpur,” terang Nilda.
Nilda dan para korban lainnya berharap pemerintah bisa membantu mereka untuk secepatnya membangun hunian. Sehingga para pengungsi bisa kembali menata hidupnya. (ady/b)
